KOHATI Bangka Belitung Raya Menjahit Kemanusiaan untuk Sumatera: Ketika Solidaritas Dijadikan Arah Moral dan Identitas Gerakan

Laporan : Bela Al Akhab

Bekaespedia.com, Pangkalpinang,-Di tengah arus kabar duka yang terus mengalir dari Sumatera tentang rumah yang roboh, pakaian yang hanyut bersama lumpur, serta ruang hidup yang lenyap dalam hitungan jam sebuah gerakan kemanusiaan tumbuh tanpa gegap gempita. Tidak ada panggung besar, tidak ada baliho raksasa. Dari Bangka Belitung Raya, Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Bangka Belitung Raya memilih jalan sunyi membuka Posko Donasi Pakaian Layak Pakai, menjadikannya simpul etika, ruang kerja kolektif, sekaligus pernyataan sikap moral organisasi.

Posko ini bukan sekadar tempat menumpuk bantuan. Ia adalah narasi yang bekerja. Di sana, solidaritas tidak diperlakukan sebagai slogan emosional, melainkan sebagai sistem yang disusun, diawasi, dan dipertanggungjawabkan. Di tengah kecenderungan aksi kemanusiaan yang kerap berhenti pada simbol dan dokumentasi seremonial, KOHATI Bangka Belitung Raya justru menegaskan pendekatan berbeda: membangun kerja kemanusiaan yang rapi, disiplin, dan bermartabat.

Gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif bahwa empati yang tidak diwujudkan hanya akan menjadi bunyi kosong. Dalam hitungan hari, posko KOHATI menjelma ruang perjumpaan lintas lapisan kader HMI, alumni, dan masyarakat umum mereka yang percaya bahwa solidaritas sejati harus turun ke tangan dan kaki, bukan berhenti di layar gawai. Pakaian yang terkumpul bukan barang sisa atau limpahan tanpa makna, melainkan hasil seleksi sadar layak pakai, bersih, dan menghormati martabat penerima.

Di titik inilah propaganda nilai bekerja secara terang dan terukur. KOHATI tidak sedang meminta simpati, melainkan membangun citra sebagai organisasi mahasiswa perempuan yang mampu mengelola krisis dengan pendekatan etis dan profesional. Bahwa organisasi mahasiswa tidak hidup dari jargon ideologis semata, tetapi dari kerja konkret yang dampaknya bisa dilihat, dirasakan, dan diuji.

Ketua KOHATI Cabang Bangka Belitung Raya, Niken Ardila, menegaskan bahwa langkah ini adalah konsekuensi logis dari keberpihakan organisasi terhadap kemanusiaan.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Donasi pakaian yang terkumpul adalah bukti bahwa kepedulian masih hidup dan bergerak. Kami memastikan seluruh bantuan disortir dengan standar kelayakan yang ketat dan disalurkan tepat sasaran kepada saudara-saudara kita di Sumatera yang terdampak bencana,” ujarnya, Minggu (14/11/2025).

Pernyataan itu tidak berhenti sebagai kutipan pers. Di lapangan, kerja sunyi berlangsung berlapis. Kardus-kardus disusun rapi, relawan bergerak sistematis. Setiap potong pakaian diperiksa, dipilah, dikelompokkan berdasarkan ukuran dan kebutuhan. Proses ini bukan sekadar teknis logistik, melainkan praktik etika. Bagi KOHATI, bantuan yang layak adalah bentuk paling dasar dari penghormatan terhadap korban bencana bahwa mereka bukan objek belas kasihan, melainkan subjek yang berhak atas martabat.

Seorang anggota HMI yang terlibat langsung di posko, Rahma Salsabila, menyebut gerakan ini sebagai ruang pendidikan kemanusiaan yang nyata bagi kader.

“Kami belajar bahwa solidaritas bukan reaksi sesaat yang berhenti di unggahan media sosial. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan bantuan benar-benar sampai dan berguna. Di sinilah organisasi diuji bukan oleh retorika, tetapi oleh ketekunan dan konsistensi,” katanya.

Dari sisi tata kelola, KOHATI Cabang Bangka Belitung Raya juga menempatkan isu distribusi sebagai perhatian utama. Jalur bantuan dirancang agar tidak tersandera birokrasi yang kerap memperlambat kerja kemanusiaan. Bantuan yang telah disortir dan dikemas disalurkan melalui jaringan kemanusiaan HMI serta mitra lokal di Sumatera. Skema ini dirancang untuk menghindari penumpukan, meminimalkan risiko salah sasaran, dan memastikan bantuan benar-benar tiba di tangan mereka yang membutuhkan.

Pendataan, dokumentasi, dan koordinasi lintas simpul dilakukan secara disiplin. Setiap paket memiliki tujuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, KOHATI sedang membangun citra sebagai organisasi yang tidak hanya peduli, tetapi juga cakap secara manajerial sebuah kualitas yang jarang dilekatkan pada gerakan mahasiswa, namun justru ingin ditunjukkan secara sadar.

Di tengah krisis yang kerap dimanfaatkan sebagai panggung pencitraan instan, KOHATI memilih jalur pencitraan berbasis kerja nyata. Memimpin dengan teladan. Aksi ini bukan sekadar karitatif, melainkan pernyataan politik-moral bahwa mahasiswa khususnya perempuan memiliki kapasitas kepemimpinan, ketelitian kerja, dan keberanian untuk hadir di garis depan kemanusiaan. KOHATI memproyeksikan dirinya bukan sekadar organisasi sayap, tetapi sebagai kekuatan moral yang mampu menggerakkan sumber daya, membangun kepercayaan publik, dan menjaga integritas bantuan.

Ajakan untuk berkontribusi pun terus disuarakan kepada seluruh kader HMI, alumni, dan masyarakat luas baik berupa pakaian layak pakai maupun kebutuhan lainnya. Ajakan ini bukan sekadar permohonan bantuan, melainkan undangan moral untuk terlibat dalam kerja bersama.

Sebab di saat bencana merenggut rumah, harta, dan rasa aman, solidaritas adalah satu-satunya fondasi yang tidak boleh runtuh. Dan dari Bangka Belitung Raya, KOHATI mengirim pesan yang tegas, panjang, dan terukur yaitu kemanusiaan bukan slogan. Ia adalah kerja. Ia adalah disiplin. Ia adalah keberpihakan yang dijalankan dengan hati dan tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *