Polsek Tempilang dan Masyarakat Turun Padamkan Kebakaran: Kakek di Tempilang Hanya Sempat Menyelamatkan Nyawa 

Penulis: Medi Hestri dan Tim

Bekaespedia.com, Tempilang,- Dalam hitungan menit, sebuah rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh dan menyimpan kenangan keluarga berubah menjadi puing-puing hitam. Kebakaran yang terjadi di Dusun Merabok, Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Kamis (4/6/2026), menghanguskan satu unit rumah beserta seluruh isinya dan sebuah mobil yang terparkir di depan rumah.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp300 juta.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 10.40 WIB saat pemilik rumah, Bahud, berada di dalam rumah bersama cucunya. Saat itu, ia sedang mengecas telepon genggam di kamar bagian tengah rumah dan tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai.

Suasana yang awalnya tenang mendadak berubah mencekam ketika cucu paling kecilnya berlari menghampiri sambil berteriak memberitahukan bahwa ada api.

Mendengar teriakan tersebut, Bahud awalnya mengira kebakaran berasal dari dapur. Ia segera bergegas menuju bagian belakang rumah untuk memastikan sumber api. Namun, setibanya di dapur, ia tidak menemukan tanda-tanda kebakaran.

Tak lama kemudian, cucu laki-lakinya kembali berteriak bahwa api justru muncul dari kamar depan rumah.

Bahud dan cucunya kemudian berusaha memadamkan kobaran api dengan peralatan seadanya. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. Api dengan cepat membesar karena kamar depan dipenuhi barang-barang mudah terbakar, termasuk kasur dan perabotan rumah tangga.

Ditambah lagi, sebagian besar bangunan rumah masih berbahan papan kayu sehingga api dengan mudah menjalar ke seluruh bagian rumah.

Dalam kondisi panik, Bahud masih sempat memikirkan kendaraan milik keluarganya yang terparkir tepat di depan rumah.

Ia berusaha mendorong mobil Honda CR-V milik menantunya agar dapat diselamatkan dari kobaran api yang semakin membesar. Namun upaya tersebut gagal karena kendaraan dalam keadaan mati dan terkunci.

Bahud kemudian mencoba menghubungi menantunya. Sayangnya, telepon genggam miliknya berada di dalam rumah yang saat itu sudah mulai dilalap api.

Ketika hendak mengambilnya, kobaran api telah membesar dan membuatnya mustahil untuk masuk kembali ke dalam rumah.

Di tengah situasi yang semakin berbahaya, Bahud akhirnya mengambil keputusan paling penting dalam hidupnya saat itu untuk menyelamatkan cucunya terlebih dahulu.

Ia meninggalkan seluruh harta benda yang ada di dalam rumah dan membawa cucunya menjauh dari lokasi kebakaran demi keselamatan.

Keputusan tersebut menjadi penyelamat nyawa mereka.

Warga sekitar yang melihat asap tebal membumbung tinggi segera berdatangan untuk memberikan bantuan. Mereka berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya sambil menunggu bantuan datang.

Sekitar pukul 11.05 WIB, Kapolsek Tempilang, Ipda M.Deni Irawan, S.H., bersama anggota Polsek Tempilang tiba di lokasi dan langsung memimpin upaya pemadaman bersama warga.

Di tengah kepulan asap dan panas yang menyengat, aparat kepolisian tidak hanya melakukan pengamanan, tetapi juga turun langsung membantu warga memadamkan api agar tidak merambat ke bangunan lain di sekitar lokasi.

Deni Irawan juga segera berkoordinasi dengan petugas PLN untuk memutus aliran listrik di sekitar lokasi kejadian guna menghindari risiko tersengat listrik dan mencegah kebakaran meluas.

Kerja sama antara polisi, petugas PLN dan warga menjadi faktor penting dalam mengendalikan situasi yang saat itu cukup kritis.

Selama hampir satu jam, mereka bahu-membahu berjibaku melawan kobaran api yang terus melahap bangunan rumah.

Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 11.50 WIB.

Meski demikian, rumah beserta seluruh isinya dan satu unit mobil yang berada di depan rumah tidak berhasil diselamatkan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kebakaran rumah dapat terjadi dalam waktu sangat singkat dan berkembang menjadi bencana besar hanya dalam hitungan menit.

Bahan bangunan yang mudah terbakar, perabotan rumah tangga, kasur, hingga instalasi listrik menjadi faktor yang dapat mempercepat penyebaran api ketika kebakaran terjadi.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu memastikan kondisi instalasi listrik aman, tidak menggunakan kabel yang rusak, serta tidak meninggalkan perangkat elektronik yang sedang digunakan tanpa pengawasan.

Selain itu, setiap anggota keluarga juga perlu memahami langkah penyelamatan diri saat kebakaran terjadi, termasuk segera menjauh dari sumber api dan mengutamakan keselamatan jiwa dibandingkan menyelamatkan barang berharga.

Peristiwa yang dialami Bahud menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, keputusan untuk menyelamatkan nyawa jauh lebih penting dibandingkan mempertahankan harta benda.

Rumah dapat dibangun kembali, kendaraan dapat diganti, tetapi keselamatan manusia tidak memiliki pengganti.

Di Dusun Merabok siang itu, api memang menghanguskan rumah dan seluruh isinya. Namun berkat kepedulian warga, respons cepat Polsek Tempilang, serta keputusan tepat sang kakek untuk menyelamatkan cucunya, tidak ada nyawa yang menjadi korban dalam musibah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *