Bekaespedia.com, Jakarta,- Bahasa Indonesia pada Jumat (21/8/2026) terdengar dengan beragam aksen di Plaza Insan Berprestasi, Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
Para penuturnya datang dari berbagai penjuru dunia. Mereka bukan lahir sebagai penutur bahasa Indonesia, tetapi memilih mempelajarinya, menggunakannya, bahkan tampil percaya diri di atas panggung melalui pidato, puisi, pantun, lagu dan cerita.
Suasana itu menjadi bagian dari Puncak Apresiasi Festival Handai Indonesia (FHI) 2026, yang mempertemukan para penutur asing bahasa Indonesia dengan peserta Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat.
Lebih dari sekadar perlombaan, festival tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjelma menjadi jembatan. Jembatan yang menghubungkan orang-orang dari berbagai negara untuk mengenal Indonesia lebih dekat sekaligus membangun persahabatan lintas batas.
Tahun ini, antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 542 orang dari 79 negara. Sebanyak 25 peserta dari 21 negara kemudian berhasil melaju sebagai finalis dan mengikuti babak final di Jakarta.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, perjalanan bahasa Indonesia menuju panggung internasional tidak hanya berkaitan dengan bahasa itu sendiri, tetapi juga bagian dari diplomasi Indonesia.
“Festival Handai Indonesia adalah ajang tingkat internasional bagi para Handai Indonesia untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas dalam berbahasa Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, festival menjadi ruang bagi para penutur asing untuk menunjukkan hasil belajar sekaligus membangun kepercayaan diri dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia.
Yang menarik, para Handai Indonesia datang dari latar belakang dan negara yang berbeda. Namun, ketika berada dalam satu panggung, bahasa Indonesia menjadi titik temu mereka.
“Dengan menggunakan medium bahasa apa pun, khususnya bahasa Indonesia, kita semua warga dunia dapat menjalin persahabatan dan merayakan keberagaman,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menilai bahasa dapat menjadi sarana untuk membangun saling pengertian, memperkuat kerja sama, hingga mendorong perdamaian dan kemakmuran bersama.
“Inilah pesan yang ingin kita sampaikan melalui bahasa Indonesia. Inilah kontribusi Indonesia bagi dunia,” ujarnya.
Bagi Abdul Mu’ti, penguatan bahasa Indonesia di tingkat global memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memperbanyak jumlah penutur.
Ketika warga dunia mempelajari bahasa Indonesia, mereka juga berkesempatan mengenal nilai, budaya, masyarakat, serta kehidupan Indonesia.
Karena itu, diplomasi bahasa dinilainya sebagai bentuk diplomasi yang memiliki kekuatan tersendiri.
“Diplomasi bukan hanya soal dokumen dan perjanjian, melainkan juga soal penghargaan budaya dan komunikasi. Bahasa adalah alat diplomasi yang paling lembut, namun paling kuat,” ungkapnya.
Pesan itu pula yang disampaikan kepada para peserta agar tidak berhenti belajar setelah festival usai. Mereka diharapkan terus menggunakan bahasa Indonesia, menjaga jejaring persahabatan, dan mengembangkan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di negara masing-masing.
“Kalian adalah teladan bahwa bahasa Indonesia dapat dipelajari, dicintai, dan digunakan oleh siapa pun dari mana pun,” tutur Abdul Mu’ti.
Menteri Luar Negeri Sugiono menambahkan, belajar bahasa Indonesia berarti membuka kesempatan untuk mengenal Indonesia melalui komunikasi yang lebih dekat.
Menurutnya, kemampuan bahasa memungkinkan hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui hubungan resmi antarpemerintah, tetapi juga melalui interaksi langsung antarmasyarakat.
“Belajar bahasa Indonesia berarti juga belajar untuk memahami budaya, cara berpikir, dan cara hidup masyarakat Indonesia,” ujar Sugiono.
Ia menilai semakin banyak warga asing yang mampu menggunakan bahasa Indonesia, semakin besar pula peluang memperkuat hubungan Indonesia dengan masyarakat dunia.
“Bahasa dapat memperkuat hubungan antarnegara melalui komunikasi langsung antarmasyarakat. Inilah tujuan utama diplomasi bahasa,” katanya.
Semangat tersebut dirasakan langsung Duta Besar Laos untuk Indonesia Khamfeuang Phanthaxay. Ia menjadi salah satu peserta Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat.
Bagi Khamfeuang, bahasa Indonesia membantunya berinteraksi dengan masyarakat sekaligus memahami budaya dan cara pandang Indonesia.
“Bagi kami, mempelajari Bahasa Indonesia bukan hanya tentang menambah kemampuan berbahasa, tetapi juga tentang membuka pintu untuk memahami masyarakat, budaya dan cara pandang Indonesia dengan lebih dekat,” jelasnya.
Cerita lain datang dari Ciro, warga Italia yang berhasil menjadi pemenang pertama FHI 2026 kategori pidato.
Ia mengaku senang dapat mengikuti festival sekaligus menggunakan bahasa Indonesia untuk berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara.
Ketertarikannya terhadap bahasa Indonesia berawal dari kekaguman terhadap budaya dan masyarakat Indonesia.
“Saya mempelajari bahasa Indonesia karena suka dengan budayanya. Menurut saya, bahasa Indonesia memiliki kosa kata sangat luas dan spesifik,” kata Ciro.
Di tangan para peserta, bahasa Indonesia pun tampil dalam wajah yang beragam. Ada yang menggunakannya untuk berpidato, ada yang menyampaikannya lewat puisi dan pantun, sementara peserta lain memilih bernyanyi atau bercerita.
Lima kategori itu menjadi bagian dari FHI 2026, yakni bercerita, bernyanyi, berpantun, berpidato, dan berpuisi.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin mengatakan, FHI dan Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat merupakan bagian dari upaya penginternasionalan bahasa Indonesia melalui jalur pendidikan.
Tingginya jumlah negara asal peserta FHI 2026, yang bahkan melampaui jumlah negara penyelenggara program BIPA, menjadi gambaran bahwa ketertarikan terhadap bahasa Indonesia semakin luas.
“Pemberian penghargaan kepada peserta terbaik Festival Handai Indonesia 2026 dan penutupan Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat merupakan praktik diplomasi bahasa dan penginternasionalan bahasa Indonesia melalui jalur pendidikan yang efektif,” jelas Hafidz.
Festival itu akhirnya meninggalkan pesan yang lebih panjang daripada sekadar daftar pemenang.
Bahasa Indonesia yang dipelajari oleh warga dunia menjadi ruang perjumpaan. Dari ruang itu lahir percakapan, pemahaman, rasa ingin tahu dan persahabatan.
Di Jakarta, mereka mungkin hanya bertemu selama rangkaian festival. Namun bahasa yang mereka gunakan dapat terus menjadi penghubung ketika mereka kembali ke negara masing-masing.
Sebab, ketika seseorang memilih mempelajari sebuah bahasa, sesungguhnya ia sedang membuka pintu menuju dunia yang lebih luas.
Dan melalui para Handai Indonesia, bahasa Indonesia perlahan menemukan tempatnya sebagai salah satu jembatan persahabatan antarbangsa.












