Membaca Masa Depan Desa, Gagasan H. Ustadz Zuhri M. Syazali Tentang Pemuda, Ekonomi, dan Aspirasi Digital

Laporan : Belva

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat – Rabu, 3 September 2025, Gedung Sriwijaya Unit Metalurgi Mentok dipenuhi ratusan orang. Pemuda dengan kemeja putih, ibu-ibu ormas dengan syal warna-warni, dan tokoh masyarakat desa duduk berdampingan. Di tengah forum itu, berdiri sosok yang suaranya lantang namun tetap teduh: H. Ustadz Zuhri M. Syazali, anggota DPD RI asal Bangka Belitung, sekaligus anggota Badan Sosialisasi MPR RI.

“Kita tidak boleh pesimis. Desa adalah pusat masa depan. Mari kita siapkan diri untuk menangkap peluang besar dari pusat, dari program yang sudah jelas jalurnya,” ucapnya di hadapan peserta, membuka jalan bagi diskusi panjang yang mengurai lima tema besar: kolaborasi sosial, ekonomi, pendidikan, optimisme pembangunan desa, dan inovasi digital.

Bagi Zuhri, kolaborasi bukan sekadar jargon. Ia menyebutkan, kegiatan sosialisasi empat pilar kali ini menggandeng KNPI Bangka Barat, BKP RMI, Pemuda Pancasila, hingga berbagai komunitas pemuda.

“Kita batasi peserta hanya 200 orang. Tidak semua bisa hadir, tapi kita ingin representasi dari berbagai kelompok. Karena membangun desa butuh semua stakeholder,” jelasnya.

Di matanya, pemuda adalah energi perubahan, sementara ormas adalah jembatan sosial yang menghubungkan ide dengan kenyataan. Dengan menggandeng keduanya, peluang besar untuk menyebarkan semangat gotong royong terbuka lebar.

Forum-forum kecil, dialog interaktif, hingga diskusi meja bundar menjadi arena di mana ide-ide lahir. Dari sinilah Zuhri ingin menanam keyakinan bahwa generasi muda tidak boleh hanya jadi penonton, melainkan motor utama perubahan.

Topik ekonomi menjadi sorotan paling lama. Zuhri menekankan pentingnya koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa.

“Ekonomi harus dibangun dari koperasi, bukan hanya oleh kekuatan modal. Dengan koperasi, kebersamaan tumbuh. Harga bisa ditekan, subsidi bisa tepat sasaran, keuntungan dinikmati bersama,” tegasnya.

Ia mencontohkan program MBG (Makan Bergizi) yang menyasar anak sekolah. Dana dari pusat tidak hanya menyiapkan konsumsi sehat, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa: sayur, buah, dan protein dibeli langsung dari petani lokal. “Inilah yang dulu tidak ada. Uang berputar di desa, bukan lari ke luar.”

Zuhri percaya, dengan profesionalitas dan integritas pengelolaan, koperasi bisa menjadi tulang punggung perekonomian desa sekaligus penangkal oligarki.

Tak berhenti pada ekonomi, Zuhri memaparkan gagasan strategis lain: Sekolah Rakyat.

“Pemerintah pusat sudah siapkan program sekolah rakyat berbasis asrama, dari SD hingga SMA. Tujuannya agar anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa tetap sekolah, dengan kurikulum dan kebutuhan hidup yang ditanggung negara,” ujarnya.

Bagi Zuhri, pendidikan adalah akar yang menentukan masa depan keluarga miskin. Setelah lulus SMA, anak-anak diharapkan sudah punya bekal yaitubisa melanjutkan kuliah, mencari kerja, atau bahkan menciptakan lapangan kerja.

Ia menambahkan, selama ini bantuan pendidikan sering tidak menyentuh aspek kehidupan sehari-hari. “Sekarang konsepnya lebih terukur. Anak tidak hanya bebas biaya sekolah, tapi juga ditopang kebutuhan hidupnya. Jadi tidak ada alasan lagi putus sekolah.”

Dalam nada penuh keyakinan, Zuhri mengajak peserta meninggalkan pesimisme masa lalu.

“Kalau dulu kita banyak ragu, sekarang harus optimis. Program dari pusat ada, anggaran ada. Tinggal kita di bawah: siap atau tidak menangkap peluang,” katanya.

Ia mengingatkan, pembangunan sejati ada di desa. Dari desa lahir pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Desa bukan lagi pinggiran, melainkan poros pembangunan nasional.

Optimisme itu ia kaitkan dengan komitmen Presiden dalam memotong jalur birokrasi panjang. “Dulu pupuk subsidi lewat ratusan regulasi. Sekarang dipangkas, diperpendek. Itu tanda pemerintah serius. Kita di bawah jangan lambat merespons,” ucapnya.

Tak kalah menarik, Zuhri menyinggung soal Rumah Aspirasi. Namun bukan berupa kantor fisik megah, melainkan model digital.

“Saya tidak perlu bangun rumah aspirasi di satu tempat. Cukup nomor HP. Dengan teknologi, rumah aspirasi ada di mana-mana. Siapa pun bisa hubungi kapan saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Zuhri, ini bukan sekadar efisiensi, melainkan bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman. Teknologi memungkinkan aspirasi rakyat ditangkap lebih cepat, lebih luas, dan lebih murah.

Rumah aspirasi digital ibarat ruang demokrasi baru, tempat warga menyampaikan keluhan, ide, bahkan usulan program. “Kalau dulu hanya yang dekat rumah aspirasi bisa menyampaikan aspirasi. Sekarang dengan HP, semua bisa,” katanya.

Ketika forum berakhir, Zuhri kembali menegaskan pesan kuncinya: desa adalah pusat masa depan bangsa.

Lima gagasan yang ia sampaikan adalah

1. Kolaborasi pemuda dan ormas,

2. Koperasi sebagai tulang punggung ekonomi,

3. Sekolah rakyat,

4. Optimisme pembangunan desa,

5. serta rumah aspirasi digital

Terlihat seperti potongan puzzle. Disatukan, potongan itu membentuk gambar besar: sebuah desa yang mandiri, modern, dan inklusif.

“Kalau kita tidak menyiapkan diri, orang lain yang akan mengambil peluang. Tapi saya yakin, dengan gotong royong, desa-desa kita bisa jadi pusat kekuatan bangsa,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *