Hari Esok untuk Kakek

Oleh : Marhaen Wijayanto,

Di masa-masa tambang timah yang lesu, bekerja serabutan memungut buah sawit yang rontok atau membrundul harus terpaksa dijalani. Daya beli orang di kampung kami yang melemah membuat para pedagang mainan di depan sekolah agak lesu. Meski saat ini ada keramaian, tetap saja dagangan mereka hanya tak laku banyak. Tampaknya orang tua hanya memberi uang jajan sedikit untuk anak-anaknya.

Kata kakek, semua itu karena hasil tambang dan perkebunan yang kurang bergairah. Belum lagi kebijakan negara yang malakukan efisiensi. Hal itu membuat para pegawai pemerintah harus mencari tambahan setelah pulang dari kantor. Ada yang kembali membuka bimbingan belajar atau bahkan membuka usaha jual beli. Semua karena efisiensi.

Tak jauh beda dengan orang-orang di kampung itu, kakek tertunduk lesu di bawah pohon. Ditemani angin semilir, beberapa burung terbang tinggi menembus awan-awan tipis di pinggiran Dusun Rajek . Pucuk dedaunan sawit mengipasi rasa lelah dan risau. Udara sejuk paling tidak mengobati kecewa . Sementara berapa tetangga kami pulang setelah seharian bekerja di perusahaan sawit yang beroperasi di Desa Berang

Bagi orang kampung kami, kakek semacam manusia berharga. Karena hanya beliau orang terisisa yang mampu melakukan sunat tradisi. Beliau keturunan keempat dari buyut yang mewarisi ilmu menyunat kampung. Orang Bangka menyebut tukang sunat dengan panggilan nudin.

Kami membagi waktu dalam dua masa, yaitu ceriak nerang dan ceriak ngelem . Ceriak nerang dipercaya menjadi waktu penuh harapan, pembawa berkah, dan segala pintu rezeki akan dibuka. Orang Bangka menyebutnya juga dengan bulan terang. Kami percaya bahwa di waktu itu akan dibukakan pintu rezeki yang melimpah.

Berbeda dengan ceriak nerang, saat ceriak ngelem, masyarakat dianjurkan tidak boleh melaksanakan pernikahan, sunatan, bahkan bernyanyi saja tidak boleh, dalam artian menyanyi yang bersifat pesta dan dilakukan secara masal.

Saat ceriak nerang itulah, perayaan sedekah bukit jadi waktu yang sangat ditunggu. Tak hanya sebagai simbol dibukanya pintu rezeki dan berkah bagi orang Bangka, kami merayakannya dengan pernikahan, khataman quran, dan sunatan masal. Orang-orang di kampung kami percaya, apapun yang dilakukan saat ceriak nerang akan membawa berkah di kemudian hari.

Tapi pada zaman modern, tidak semua masyarakat percaya dengan pembagian masa waktu secara adat. Hanya di daerah tertentu saja, pembagian waktu itu dipercaya secara penuh. Sama halnya dengan pembagian waktu, di zaman sekarang adat istiadat semakin terkikis.

Di zaman gawai dan serba internet, pisau dan sembilu dari kulit bambu sangatlah menakutkan. Apalagi tawaran sunat kekinian yang tidak sakit, membuat nudin seperti kakek sama sekali tak diminati. Terancam punahlah sunat tradisi di kampung kami.

Kata orang, sunat kampung sudah tidak cocok lagi, bahkan berbahaya bagi nyawa. Tapi kakek lain, beliau pengikat akar yang mencengkeram bumi. Kakek Nudin seperti menjunjung langit karena mengajarkan adat pada tanah yang kami pijak. Laksana akar yang mengikat bumi dan hati orang-orang kampung.

“Pohon tidak akan bisa hidup jika meninggalkan akarnya. Bangsa yang meninggalkan tradisinya akan kehilangan jatidiri. Modernisasi tanpa tradisi hanya membuat jiwa kosong. Tradisi seperti akar yang membuat kita kuat menghadapi perubahan zaman,” ujar Kakek Nudin.

Kakek sudah seperti obor saja, menerangi orang-orang yang sudah tak percaya dengan tradisi semacam sunat kampung. Beliau tersenyum kepada saya dan menuangkan secangkir kopi tokak kesayangannya. Lalu ia menyandingkan kopi itu dengan beberapa butir buah durian kala pagi yang dingin seperti sekarang ini.

Perut saya terasa sangat hangat. Lalu dengan suara lirih beliau berkata, “Barang siapa menjaga adat, dialah yang menjaga jatidiri bangsanya. Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Kakek Nudin berjalan menyusuri rumah ke rumah, membujuk, dan merayu anak untuk bersedia melakukan sunat. Tak semua orang memberi harapan. Seperti ikan menyanyi tanpa nada, bertepuk pun dapat sebelah tangan. Perahu perkasa yang tak mungkin berlayar tanpa laut, keahlian dan kepercayaan tak akan tumbuh jika tidak adanya orang yang bersedia lagi.

Beliau yang berusia menjelang tujuh puluh itu berjalan meninggalkan surau tempat jemaah biasa nganggung usai salat. Kakek Nudin masih terus berjuang dan bertahan dengan prinsip sunat kampung harus bertahan melawan teknologi dan dokter- dokter hebat.

“Sunat kampung bukan sekadar memotong, itu pertanda seorang anak masuk ke alam bujang. Sunat bukan hanya kegiatan fisik, tapi simbol kamu masuk ke masa remaja. Sunat adalah bagian jati diri lelaki Melayu. Seorang pejantan belum lengkap secara adat, bila belum melakukan sunat. Selain itu, sunat bukan hal memalukan, tetapi memikul budaya!”

Si anak berlari ketika mau disunat, tapi karena ditakuti pocong-pocongan oleh kakek, akhirnya ia menyerah dan balik lagi ke rumah. Segeralah si anak dirias dengan bedak dan dipakaikan peci, kain sarung, dan jas. Orang kampung menyebutnya agar mirip dengan sang pangeran.

Anak-anak itu digiring ke pemandian dan berendam di air dingin setelah subuh. Mereka berendam selama lebih dari dua jam. Fungsi rendaman air dingin mirip dengan teknik bius sunat modern. Setelah berendam selama kurang lebih dua jam, anak-anak didudukkan di atas buah kelapa yang bertunas.

Buah kelapa memiliki filosofi dapat tumbuh di manapun dan berumur panjang. Orang tua dari si anak menutup mata dari belakang, setidaknya melindungi dari rasa takut. Zaman dahulu, seorang nudin menggunakan sembilu yang tajam untuk menyunat.

Kakek Nudin memasukan rajah dan doa ke dalam air yang dipadukan dengan buah limau . Beliau mencampurnya dengan rajah berisi doa selamat. Air limau memiliki makna menyucikan. Setelahnya mereka dioles dengan ramuan kampung. Ramuan yang dipakai adalah pinang kering, ating asam, kulat kering di pohon seruk.

Selain itu, kakek juga mencampurkan sarang laba di suar pohon seruk. Proses selanjutnya disatukan digoreng tapi tidak memakai minyak sampai hangus, lalu dipipis jadi serbuk. Ramuan yang telah dipipis atau dihaluskan dibungkus memakai daun sirih lalu dioleskan agar lukanya lekas kering.

“Sunat kita ini warisan nenek moyang, janganlah kamu menolak ajaran leluhur! Sunat menandai sebuah keberanian sebagai lelaki! dan akan membentuk kedewasaan!” ujar kakek bersemangat.

“Sunat modern dokternya sembari bercerita dan mendongeng, Kek! Dia membagi hadiah, peci, dan baju pada kami. Semacam parcel berisi paket mainan dan makanan yang sangat banyak. Anak-anak suka!”

Saya anak kampung yang simpati dengan kakek. Suatu waktu saya ingin menjadi semacam sutradara dan memberi peran Kakek Nudin sebagai tokoh utama. Ia berperang melawan modernisasi dan memperjuangkan adat. Kakeklah manusia terakhir yang mampu melakukan ritual sunat kampung.

Saya hanya bisa bercita-cita, Kakek Nudin sudah memakai pakaian superhero. Ia terbang di langit-langit kampung sembari memegang sembilu dan pisau untuk menyunat. Jika di teve atau internet sering kulihat pahlawan pembasmi kejahatan melawan monster, maka kakek Nudin berjuang melawan modernisasi yang perlahan menghapus keberadaan sunat tradisi kampung.

Baju yang ia kenakan sudah mirip dengan superman, tetapi bedanya di dada sang kakek tertulis hurup N yang artinya Nudin. Semua karena perlawanan pada hal-hal kimia. Kakek berjuang melawan sesuatu yang sifatnya sudah tidak natural atau alami. Ia ingin tradisi turun temurun di kampung kami tetap ada.

Saya sebagai sutradara dan produser dalam cerita itu akan menamakan Kakek Nudin menjadi Super Nudin. Dalam cerita superhero yang selalu ditakdir menang melawan musuhnya di akhir cerita. Sedikit terdesak, hampir kalah, namun tetap Super Nudinlah yang jadi pemenangnya. Karena menang, maka sunat pun alami, tidak menggunakan dokter di puskesmas atau mantri sunat. Menanglah tradisi sunat kampung.

“Lebih baik jembatan bambu daripada jembatan besi. Sering kali tradisi sederhana namun kokoh, lebih baik daripada moderisasi yang megah namun rapuh di jiwa. Meski diterpa angin baru, tetapi akar tetaplah melekat tak meninggalkan tanah yang lama.”

Memang apa yang dikatakan kakek benar. Ibarat bunga yang gugur, tetapi akar akan selalu menantikan musim semi berikutnya. Tradisi yang kuat tak akan menghilangkan jatidiri. Tradisi sebuah negara tumbuh dari kebiasaan kecil di kampung-kampung. Gelombang boleh menghantam pantai, namun hati tak akan menggoyahkan karang. Itulah tradisi, sebuah jalan lama yang justru menuntun kita menuju jalan baru di hari esok.

 

BIODATA PENULIS

Marhaen Wijayanto, Penulis kelahiran Boyolali Jawa Tengah. Saat ini bertugas sebagai kepala SD Negeri 7 Simpang Teritip, Bangka Barat. Beberapa karyanya telah unjuk gigi di media lokal nasional, terutama cerpen dan artikel tentang kebahasaan. Buku solo yang telah terbit adalah novel mencari Jejak sang Depati (2018), Roman Terlupakan (2019), Segenggam Puisi dan Sajak Hujan di Awal Desember (2021), dan kumpulan cerpen Buku Tanpa Aksara. Alumni Universitas PGRI Semarang ini sedang dalam proses untuk beberapa novel terbarunya di 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *