Oleh: Yanto,M,Pd
( Guru SMPN 3 Toboali & Alumni Pondok Pesantren Najaahaan Sipon Bayongbong Garut Jabar)
Bekaespedia.com,- Opini ini menegaskan bahwa santri bukan sekadar penuntut ilmu dalam lingkungan pesantren. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, mereka tampil sebagai kekuatan rakyat yang berani mempertahankan kedaulatan bangsa termasuk dalam peristiwa tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby di Surabaya pada 30 Oktober 1945( Referensi: WikiPedia)
*Santri: Ilmu, Akhlak, dan Kebangsaan*
Pesantren sering dipandang hanya sebagai tempat mengaji kitab kuning, memperdalam fikih, tata bahasa Arab, dan akhlak. Pandangan itu benar, tetapi tidak lengkap. Pesantren juga menjadi ruang pembentukan karakter: kedisiplinan, kesederhanaan, solidaritas, keberanian, dan kesetiaan kepada tanah air. Kompas mencatat bahwa santri dan kiai di berbagai pesantren turut berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.(Referensi Kompas)
Dari ruang sederhana pesantren itulah lahir kesadaran bahwa merdeka bukan hanya soal bendera dan proklamasi. Merdeka adalah tanggung jawab yang harus dijaga ketika kekuasaan kolonial berusaha kembali setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.(Antar news)
*Resolusi Jihad: Titik Balik Perjuangan*
Pada 21–22 Oktober 1945, para ulama dan wakil NU dari Jawa serta Madura berkumpul di Surabaya. Dari pertemuan itu, KH Hasyim Asy’ari bersama tokoh-tokoh keagamaan menetapkan Resolusi Jihad: mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan merupakan jihad yang wajib bagi umat Islam.
Resolusi ini penting karena menjadikan perjuangan bangsa bukan urusan tentara semata. Ia menggerakkan santri, kiai, petani, buruh, dan rakyat kota untuk hadir di garis depan. Tidak heran jika tanggal 22 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, sebagai penghargaan atas peran historis kaum pesantren dalam mempertahankan Republik.(Kompas)
*Surabaya: Bukti Keberanian Santri*
Surabaya menjadi panggung nyata semangat tersebut. Ketegangan antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu meningkat setelah sejumlah insiden, termasuk perobekan warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato dan tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya.(detik)
Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 dalam baku tembak di Surabaya, pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Peristiwa ini kemudian mempercepat eskalasi konflik dan berujung pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945—peristiwa yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Namun, klaim bahwa Mallaby “gugur di tangan santri” perlu disampaikan secara hati-hati. Sebagian narasi menyebut santri atau pemuda Ansor terlibat dalam penembakan Mallaby, dan beberapa sumber internal menyebut nama tokoh seperti Harun. Tetapi identitas pelaku masih menjadi perdebatan sejarah karena sumber-sumber yang ada belum sepenuhnya dapat dikonfirmasi secara independen; bahkan penelusuran terhadap memoar KH Achyat Chalimy menyatakan bahwa kematian Mallaby masih menyisakan ketidakpastian.(Timesindonesia)
Justru di sinilah letak kekuatan opini yang berimbang: santri memang terlibat dalam perjuangan Surabaya, tetapi penghormatan terhadap sejarah menuntut kita membedakan antara fakta yang kuat dan legenda yang membangkitkan semangat.
*Mengapa Narasi Ini Penting?*
*Pertama*, narasi ini melawan stereotip bahwa santri hanya hidup dalam ruang keagamaan dan tidak peduli politik kebangsaan. Sejarah menunjukkan sebaliknya: santri hadir sebagai bagian dari perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.
*Kedua*, narasi ini mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari senjata modern atau pangkat militer. Ia dapat lahir dari keyakinan, pendidikan moral, dan kesetiaan kepada nilai kebenaran. Santri belajar bahwa ilmu tanpa amal akan hampa, dan amal tanpa kesadaran sosial akan kehilangan arah.
*Ketiga*, kisah ini relevan bagi generasi muda hari ini. Perjuangan santri tidak harus diulang dengan senjata; ia dapat dilanjutkan melalui pendidikan, literasi, pemberantasan kemiskinan, penegakan keadilan, dan pertahanan terhadap hoaks serta radikalisme. NU sendiri menegaskan bahwa santri kini hadir bukan hanya sebagai penuntut ilmu, tetapi juga sebagai penggerak sosial dan penjaga moral republik.
Penutup: Dari Kitab ke Bangsa
Jenderal Mallaby mungkin gugur dalam peristiwa yang masih menyisakan perdebatan detail sejarah. Namun, satu hal tidak dapat dibantah: santri telah membuktikan bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Mereka datang dari pondok, membawa kitab di tangan dan semangat di dada. Ketika republik terancam, mereka tidak memilih diam. Karena itu, mengenang santri bukan hanya mengenang masa lalu—melainkan menghidupkan kembali semangat bahwa ilmu, iman, dan cinta tanah air harus berjalan bersama.












