Oleh: Yanto,M.Pd
(Guru SMPN 3 TOBOALI)
Bekaespedia.com,- Di tengah semaraknya Festival Literasi Bangka Selatan, 15 Oktober 2026, Kang Maman Suherman pegiat literasi nasional menitipkan tiga kata sederhana namun menyimpan kekuatan luar biasa. Bukan rumit, bukan sulit, hanya tiga awalan “Ng”: Ngerti, Ngerasa, Ngelakoni.
1. NGERTI Memahami Dunia Sebelum Menuliskannya
Menulis bukan sekadar menyusun huruf menjadi kalimat. Ngerti berarti kita memahami apa yang kita tulis konteksnya, maknanya, dan kebenarannya. Sebelum pena bergerak, pikiran kita harus lebih dulu jernih. Penulis yang tidak mengerti apa yang ia tulis, ibarat pelaut yang tak tahu arah angin: ia hanya akan berputar di tempat.
“Menulis yang baik bermula dari pemahaman yang utuh.”
2. NGERASA Menulis dari Hati, Bukan Sekadar Kepala
Inilah yang membedakan tulisan yang dibaca dengan tulisan yang dihidupkan. Ngerasa berarti kita merasakan apa yang kita tulis. Jika menulis tentang kesedihan, rasakanlah. Jika tentang harapan, hiduplah di dalamnya. Tulisan yang lahir dari perasaan tidak perlu berusaha keras untuk menyentuh pembaca ia menyentuh dengan sendirinya, karena keasliannya terasa nyata.
“Kata-kata bisa ditiru, tetapi perasaan di baliknya tidak.”
3. NGELAKONI Menjadikan Menulis Sebagai Jalan Hidup
Dan yang terpenting: Ngelakoni. Menulis bukan aktivitas sesekali, bukan juga sekadar hobi yang dilakukan saat luang. Ngelakoni berarti kita menjalaninya dengan disiplin, dengan ketulusan, dan dengan ketekunan. Menulis setiap hari, memperbaiki diri setiap saat, dan tidak berhenti meski belum ada yang membaca. Karena proses yang kita jalani, pada akhirnya yang akan membentuk kita menjadi penulis sejati.
“Bakat adalah awal, tetapi yang menyelesaikan adalah ketekunan yang dijalani.”
KESIMPULAN: Tiga Langkah Menuju Karya yang Berbobot
Ketiganya tidak berdiri sendiri:
1.Ngerti memberi arah pada tulisan
2. Ngerasa memberi jiwa pada tulisan
3. Ngelakoni memberi kelanjutan pada tulisan
Tanpa Ngerti, tulisan kosong.
Tanpa Ngerasa, tulisan hampa.
Tanpa Ngelakoni, tulisan tak akan pernah selesai.
Semoga tiga kata sederhana ini menjadi pegangan kita semua siapa pun yang mencintai tulisan dan dunia literasi. Mulailah dengan memahami, tulislah dengan hati, dan jalani dengan setulus hati.












