Oleh : Sundari Oktaveni, S.Pd,.Gr
(Guru SMP Negeri 7 Toboali)
“Membaca membuka jendela pengetahuan, sedangkan menulis mengubah pengetahuan menjadi karya. Ketika keduanya tumbuh bersama, budaya literasi akan menjadi bagian dari kehidupan belajar di sekolah.”
Literasi merupakan salah satu fondasi penting dalam dunia pendidikan. Kemampuan membaca dan menulis tidak hanya membantu peserta didik memahami materi pembelajaran, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, memperluas wawasan, serta mengembangkan kreativitas.
Sebagai salah satu upaya untuk memperkuat budaya literasi, workshop membaca aktif dan menulis kreatif bagi guru dan siswa di SMP Negeri 7 Toboali menjadi ruang belajar yang dapat mempertemukan pemahaman, pengalaman, dan kreativitas. Melalui kegiatan workshop ini, guru dan siswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan tentang pentingnya literasi, tetapi juga mendapatkan inspirasi dan pengalaman untuk menerapkan keterampilan membaca dan menulis dalam kegiatan pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.
Kegiatan workshop ini menghadirkan Rusmin Sopian sebagai narasumber yang berbagi wawasan mengenai membaca aktif dan menulis kreatif dengan pembahasan utama menulis opini dan cerpen. Kehadiran narasumber sangat diharapkan dapat memberikan perspektif baru serta mendorong guru dan siswa untuk menjadikan aktivitas membaca sebagai proses menemukan ide dan menulis sebagai sarana menuangkan gagasan secara kreatif.
Dalam penyampaian materinya, Rusmin Sopian selaku narasumber memberikan wawasan serta dorongan kepada peserta untuk mengembangkan kemampuan membaca dan menulis secara lebih aktif. Membaca tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang membosankan, melainkan sebagai pintu masuk untuk menemukan ide, memperkaya kosakata, dan membangun imajinasi. Sementara itu, menulis menjadi sarana untuk mengolah apa yang telah dibaca dan dialami menjadi sebuah karya yang dapat dibagikan kepada orang lain. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri peserta dalam memulai proses berkarya tanpa harus merasa takut salah atau khawatir tulisannya belum sempurna.
Bagi guru, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya literasi di sekolah perlu dimulai dari keteladanan dan pembiasaan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga sebagai pendamping yang mampu menginspirasi siswa untuk mencintai kegiatan membaca dan menulis. Dengan menghadirkan aktivitas literasi yang kreatif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa diharapkan dapat menemukan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Kolaborasi antara guru dan siswa juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung tumbuhnya ide, kreativitas, dan semangat belajar sepanjang hayat.
Pada akhirnya, keberhasilan workshop ini tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan atau banyaknya materi yang disampaikan, tetapi juga dari bagaimana semangat literasi tersebut terus tumbuh setelah kegiatan berakhir. Harapannya, akan muncul kebiasaan membaca yang lebih kuat, keberanian untuk menulis, serta karya-karya sederhana yang lahir dari lingkungan SMP Negeri 7 Toboali. Sebab, sebuah karya besar tidak selalu bermula dari sesuatu yang luar biasa, tetapi dapat berawal dari satu halaman yang dibaca, satu ide yang dicatat, dan satu kalimat sederhana yang berani dituliskan
Melalui workshop membaca aktif dan menulis kreatif ini, SMP Negeri 7 Toboali diharapkan mampu menumbuhkan budaya literasi yang tidak hanya hidup dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga tumbuh dalam keseharian guru dan siswa. Sebab, membaca membuka jendela pengetahuan, sedangkan menulis mengabadikan pemikiran menjadi karya. Dari sekolah, dari halaman-halaman yang dibaca, dan dari ide-ide yang dituangkan, semoga lahir generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga berani berkarya dan menginspirasi melalui tulisan.












