Karya : Mamuk SMPA
Beberapa bulan ini Bagong, memperlihatkan wajah, karakter serta sifat aslinya siapa dia sebenarnya.
Akhir November kemarin dia keluar dari perusahaan tidak, dikeluarkan pun tidak. Hanya oleh perusahaan ditawarin jadi Mitra perusahaan. Disuruh kulakan barang sendiri dan mencari keuntungan sendiri dengan provit 5000/ ball dari perusahaan.
Setelah beberapa pekan dicobanya pekerjaan tersebut tidak menghasilkan keuntungan yang memadai bahkan untuk operasional saja nombok, maka diputuskannya untuk tidak melanjutkan pekerjaan tersebut.
Tiap malam keluyuran bersama DR. UM yang setia menemani kemana pun dia pergi, sambil mancing di sungai-sungai yang wingit kata orang, maupun ngumpul di pos ronda ketika ia menjumpai pos ronda yang orang-orangnya sedang bermain gaple atau “ceki kertu cina” Maupun karambol, catur dan lain-lain jenis permainan.
Tetiba pada suatu hari dia mendapatkan WA dari sebuah perusahaan besar dan bonafide untuk bekerja kembali berkat rekomendasi sopirnya ketika pernah bekerja bersamanya.
” Aku masih bisa bekerja, bahuku ini masih laku di sebuah perusahaan besar dan bonafide?! Ah, yang benar aja?
Berkecamuk dalam pikiran Bagong berbagai pertanyaan dan jawaban saling tumpang-tindih mencari jawaban kebenaran akan dirinya, kemampuan dirinya sendiri, kesejatian siapa dirinya yang sebenarnya. Karena aku, aku, aku begitu banyak aku dirinya sudah ditenggelamkannya bersama dengan DR. UM dan berbatang-batang rokok filter maupun kretek.
Dan ketika hari menjelang, tanggal 09 Desember dia memulai pekerjaan tersebut, setelah beberapa pertemuan antara dirinya dan pihak manajemen perusahaan dan deal jadi seorang karyawan lagi maka dikerjakannyalah pekerjaan tersebut dengan penuh suka cita dan semangat membara.
Berhari-hari, pekan berganti pekan aman-aman saja, pekerjaan tersebut terasa menimbulkan rasa percaya diri kembali tumbuh kembang dengan suburnya.
Ketika mendekati akhir Desember dan ketika diingatkannya kembali istrinya bahwa dia harus menutup pinjaman dari “Simpan-Pinjam RT”, maka gelisah lah Bagong.
Singkat cerita digunakanlah uang setoran dagangan tuk menutup hutangnya. Beres sudah.
Keesokan harinya ketika setoran, maka dia hanya setoran kemarin satu kali yang seharusnya doble. Maka ditagih lah yang satunya kepada Bagong.
Dengan masih “hayup-hayuben” Karena barusan bangun. Maka jawaban Bagong sekenanya serta cenderung “dlenyengan” Sehingga sampai ke telinga atasan langsung Bagong.
“Pak.Bagong setorannya kurang satu ya? “Kata atasan itu
“Iya Pak saya gunakan tuk menutup pinjaman saya di RT. ”
“Lho kok bisa menggunakan uang setoran tuk kepentingan pribadi? ”
“Lha bagaimana lagi saya tidak punya uang sepeser pun. ”
“Terus nyolong,” Kata atasan tersebut. “Tratap, Duka Yayah Sinipi” Bagong dikatain atasan nyolong uang perusahaan, padahal dia sudah menjawab bahwa uang tersebut kan bisa dianggap hutang dia dan potong gaji yang tinggal beberapa hari dah waktunya gajian.
Dengan membanting rokok di tangannya dia segera menuju sansag di dojo pribadi latihan karateka, dipukulinya berkakali-kali sansag tersebut dan suatu ketika Bagong berteriak lantang menggunakan khikang lewat suara sambil mengeluarkan Ajian “Gelap Ngampar” melenting tinggi dengan “tendangan geledeknya” mengarah ke sansag tersebut.
Maka hancur lebur lah sansag tersebut hingga berkeping-keping dan seisi ruangan bergetar hebat. Sehingga semua tetangga yang masih sanggup mendengarkan teriakan Bagong segera berkumpul mendatangi rumah Bagong.
L. A. Gubuk Atmadjan, 27122025 08.21 (BP/ KM)*












