Oleh : Saidun Derani
Bekaespedia.com,- Kehadiran Hinduisme-Budhaisme di Nusantara yang diperkirakan sejak tahun pertama Masehi semakin menyuburkan paham animisme-dinamisme yang dianut suku-suku di Nusantara, khususnya di pulau Jawa. Dalam hal ini Koentjaraningrat, antropolog budaya, Universitas Indonesia, mengatakan bahwa yang aktif menyerap unsur-unsur budaya kekayaan intelekual Hinduisme adalah lingkungan istana (Jawa), dan bukan para pendeta Hindu (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, 52-3)
Sebab bagi kepentingan kerajaan, politik atau kekuasaan adalah hal yang paling utama sehingga agama pun dimanfaatkan untuk memperkokoh kekuasaan raja. Dari sinilah lahir konsep “agama agaming aji”.
Hinduisme sejalan dengan kepercayaan asli animism-dinamism, yaitu berisi paham tentang adanya alam kedewaan yang merupakan perpanjangan dari konsep tentang ruh aktif dari animism-dinamism. Konsep sakti adalah seirama dengan daya-daya magis itu.
Hinduism juga memengaruhi munculnya dua lapis tradisi budaya Jawa, yaitu tradisi besar yang berkembang di lingkungan istana dan bersifat Hindu-Kejawen dan tradisi kecil atau tradisi para petani yang tetap buta huruf dan jumud terpusat pada religi animism-dinamism. Dan hal ini juga dapat ditemukan pada kerajaan-kerajaan di Nusantara masa zaman Islam. Katakanlah misalnya Kerajaan Mataram Islam.
Adapun pola budaya Hindu-Kejawen yang paling dominan justru bukan nilai agama tetapi orientasi terhadap nilai kekuasaan (politik) (Zainuddin Maliki, Agama Priyayi, Makna Agama di Tangan Elite Penguasa, 2004, Fachry Ali, Refleksi Paham “Kekuasaan Jawa” dalam Indonesia Moderen, 1986). Bagi priyayi Jawa sebagai penegak sistem dinasti, kekuasaan politiklah yang terpenting. Ini artinya bahwa yang unggul adalah golongan priyayi atau kesatria. Golongan pendeta (agama) berada di bawah kelas priyayi.
Sikap dan wawasan budaya priyayi inilah yang mempermudah mengapa para priyayi beralih kepada agama Islam setelah berdirinya Kesultanan Demak. Pada sisi lain, konsep budaya priyayi juga menghambat Islam untuk mencapai kekuasaan politik. Artinya, Islam sebagai nilai-nilai (spiritual) agama bisa diterima, namun bagi golongan priyayi agama sebagai kekuasaan (politics) harus dicurigai (ditolak).
Barangkali dalam konteks sejarah bangsa Indonesia dapat dilihat cara berpikir seperti ini bahwa ada suatu keinginan menyatukan perbedaan ideologi nasional, misalnya penerimaan konsep Nasionalisme, Agamaisme, Komunisme (NASAKOM) oleh Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir. Mohammad Soekarno (Seokarno, Di Bawah Bendera Revolusi, 1964) Lalu aksioma “Islam Yes, Partai Islam No” (Nurchalish Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, 1987), pernyataan oleh Nurcholish Madjid, alumni Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1972, bisa dimaknai dalam konteks ini.
Sikap keagamaan priyayi Jawa sangat tampak aspek mistik Hindu-Budha yang mereka pilih demi melanggengkan kedudukan raja (kekuasaan politik) dan konsep Raja Bimathara atau Raja titisan dewa. Konsep mistiknya ini untuk memperkuat orientasi kekuasaan; suatu kontemplasi diri untuk menemukan jati diri dan mencapai kesempurnaan kekuatan menjadi sakti karena telah menyatu dengan Tuhan. Semua ini dikaitkan dengan persiapan pelaksanaan tugas kenegaraan mereka sebagai priyayi atau pejabat pemerintah dalam mamayu hayuning bawana.
Adapun orientasi terhadap nilai rasional dalam budaya Hindu-Kejawen cukup tinggi. Sebab kekuasaan yang menjadi nilai utama bagi priyai Jawa memang menuntut wawasan yang dinamis dan lentur. Dalam konteks ini, kita bisa melihat mengapa golongan priyayi Jawa lebih cepat beradaptasi menerima budaya progresif yang dibawa Eropa Kristen di Nusantara, semisal di lingkungan BO (Boedi Oetomo).
Dengan uraian di muka, dapat dipahami bahwa mengapa lingkungan budaya istana kejawen tetap mempertahankan falsafah “raja titisan dewa” (God-King) dengan mitologi kuno warisan zaman Syiwa-Budha. Memang dalam pandangan rakyat mitologi Nyai Rara Kidul, pusaka yang dikeramatkan dan upacara tradisional masa lalu merupakan alat politik yang amat efektif untuk melanggengkan wibawa kerajaan Jawa tradisioanal.
Sedangkan pengaruh Barat terhadap budaya Indonesia dari kubu budaya Islam kejawen muncul dua kelompok: Nasionalis Sekuler (netral agama) dan Aliran Komunis yang berpaham sekularis-radikal atau bahkan atheis. Sedangkan kubu Islam pesantren (santri) terpecah menjadi dua kelompok, yaitu Islam modernis dan Islam tradisionalis. (Zaini Muchtarom, Santri dan Abangan di Jawa,1988). Akan tetapi cara pandang dikotomis dalam melihat Islam Indonesia sudah tidak relevan lagi sekarang ini.
Penulis adalah Alumni PGAN Papin dan peminat masalah-masalah kebangsaan.












