Oleh:Meilanto
Arul tinggal di desa Jelutung yang hijau dan damai. Bercocok tanam menjadi ciri khas warga. Di kampung, Arul biasa dipanggil Bang Arul. la dikenal pembuat beras aruk di kampung. Beras aruk bukan sembarang beras melainkan beras yang dibuat dari singkong yang diolah sedemikian rupa hingga menyerupai beras, lalu dimasak seperti nasi biasa. Teksturnya kenyal, rasanya gurih manis, dan aromanya sungguh menggoda.
Setiap pagi, Bang Arul akan memulai pekerjaannya di pondok kecil dekat ladang singkong. la memilih singkong terbaik. Mengupasnya, memotongnya lalu direndam di sungai tak jauh dari pondok. Setelah 7 malam, rendaman singkong dalam karung, diangkat. Singkong yang sudah lembut dikeluarkan dari karung dan dikeringkan. Setelah kering sempurna, singkong itu ditumbuk dan disaring. Prosesnya rumit dan butuh kesabaran, tapi Bang Arul selalu tersenyum senang.
“Singkong ini harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang,” katanya pada keponakan yang sering ke pondoknya.
Beras aruk buatan Bang Arul sangat terkenal. Bukan hanya karena rasanya, tapi juga karena kebaikannya.
Suatu hari, kekeringan melanda. Hujan tak turun berminggu-minggu. Padi-padi mengering, dan persediaan beras di lumbung kampung mulai menipis. Warga kampung mulai cemas.
Kepala kampung mendatangi Bang Arul dengan wajah muram. “Bang Arul, kita dalam masalah. Stok beras hampir habis. Apa yang harus kita lakukan?”
Bang Arul melihat ke ladang singkongnya yang sangat luas. Untungnya, singkong adalah tanaman yang kuat dan masih bisa bertahan meski minim air. la tersenyum menenangkan.
“Jangan khawatir, Pak. Selama singkong masih ada, kita tidak akan kelaparan,” jawab Bang Arul. “Saya akan membuat beras aruk dalam jumlah yang lebih banyak.”
Sejak hari itu, Bang Arul bekerja lebih keras dari biasanya. la mulai dari sebelum matahari terbit dan baru berhenti saat matahari tenggelam. Entah berapa banyak karung yang ia rendam bersama singkong-singkong. la tidak hanya mengolah singkong dari ladangnya sendiri, tetapi juga membantu mengolah singkong milik tetangga yang tidak tahu cara membuatnya menjadi beras aruk yang enak. Beras aruk Bang Arul menjadi penyelamat kampung.
Setiap sore, pondok Bang Arul akan ramai. Anak-anak berbaris rapi membawa keranjang kecil. Ibu-ibu membawa wadah dari bambu yang disebut penyaring. Bang Arul dengan senang hati membagikan beras aruk buatannya.
“Ini untuk kalian. Makanlah selagi hangat,” kata Bang Arul, tangannya cekatan menakar beras aruk.
la tidak pernah meminta bayaran penuh. Untuk anak-anak, ia hanya meminta mereka membawakan lagu yang ceria. Untuk orang dewasa, ia hanya meminta mereka berjanji untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan.
Suatu hari, Nopi datang membawa keranjang kosong. “Bang Arul,” katanya lirih, “Aku tidak punya apa-apa untuk ditukar. Aku tidak tahu lagu yang bagus, dan di rumah hanya ada aku dan Nenek yang sakit.”
Bang Arul berlutut agar sejajar dengan Nopi. la menepuk kepala Nopi dengan lembut. “Nak Nopi, beras aruk ini tidak hanya dibuat dari singkong, tapi juga dari hati yang tulus,” kata Bang Arul. “Kembalilah besok. Bawakan aku satu daun singkong paling lebar yang kau temukan. Itu saja.” Nopi berlari pulang dengan hati gembira membawa keranjang penuh beras aruk.
Keesokan harinya, Nopi kembali dan memberikan daun singkong yang sangat lebar kepada Bang Arul. Bang Arul tersenyum lebar. la tidak membutuhkan daun singkong itu, tapi ia tahu kebaikan kecil Nopi adalah bayaran yang paling berharga.
Setelah beberapa bulan, hujan pun turun kembali. Air mengalir membasahi ladang padi dan kebun. Warga kampung bersorak gembira. Mereka bisa kembali menanam padi. Meski demikian, mereka tidak pernah melupakan Bang Arul dan beras aruknya. Bang Arul membuktikan bahwa disaat tersulit, makanan sederhana dan kebersamaan bisa mengalahkan rasa lapar dan kecemasan.
Sejak saat itu, setiap kali panen padi tiba, warga kampung selalu menyisihkan sebagian hasilnya untuk Bang Arul, sebagai tanda terima kasih. Dengan senyum khasnya, ia tetap membuat beras aruk bukan lagi sebagai penyelamat, melainkan persaudaraan dan ketulusan di kampung yang damai itu. (BP/ KM)*
Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Lentera dari Timur ke Barat jilid 7 oleh SIP Publishing, Oktober 2025.












