Stunting Tidak Datang Tiba-Tiba: Sarbudiono dan PT THEP Membangun Gerakan Menyelamatkan Generasi

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Bekaespedia.com, Mentok, – ketika masyarakat membicarakan stunting, yang sering muncul adalah angka, grafik dan target penurunan prevalensi. Namun di balik statistik itu, ada kisah-kisah yang jarang terlihat.

Ada ibu yang harus membagi penghasilan harian yang terbatas untuk membeli beras, lauk dan kebutuhan sekolah anak. Ada keluarga yang hidup dengan ketidakpastian ekonomi sehingga pemenuhan gizi sering kali menjadi pilihan yang sulit. Ada pula anak-anak yang seharusnya tumbuh sehat dan aktif, tetapi berisiko kehilangan kesempatan berkembang secara optimal akibat kekurangan asupan gizi sejak dini.

Stunting sesungguhnya tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh perlahan dari persoalan yang berlapis: kemiskinan, keterbatasan akses pangan bergizi, rendahnya edukasi kesehatan, hingga minimnya dukungan sosial bagi keluarga rentan.

Karena itulah, upaya pencegahan stunting tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan semata. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu fondasi lahirnya Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Bangka Barat.

Di bawah koordinasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bangka Barat, program ini mencoba membangun pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat untuk mengajak semua pihak menjadi bagian dari solusi.

Kamis (4/6/2026), semangat kolaborasi itu kembali terlihat ketika PT Tata Hamparan Eka Persada (THEP) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menyerahkan bantuan nutrisi berupa 70 paket beras kepada keluarga risiko stunting.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., dari Humas CSR PT THEP, Bastian Apriliyanto Tampubolon.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi masyarakat pedesaan, bantuan pangan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar, bantuan tersebut dapat menjadi penopang penting untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga.

Lebih jauh lagi, bantuan tersebut mencerminkan tumbuhnya kesadaran bahwa persoalan stunting bukan semata tanggung jawab pemerintah.

Bagi Sarbudiono, stunting bukan hanya isu kesehatan anak. Ia melihatnya sebagai persoalan pembangunan manusia yang akan menentukan kualitas masa depan Bangka Barat.

Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menegaskan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi berpotensi menghadapi berbagai hambatan di masa depan, mulai dari kesehatan hingga produktivitas.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan DP3AP2KB tidak hanya berfokus pada intervensi teknis, tetapi juga membangun kesadaran sosial agar masyarakat memahami bahwa pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang.

“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan. Ini menyangkut masa depan generasi, kualitas sumber daya manusia dan masa depan daerah. Karena itu kami terus mengajak semua pihak untuk ikut menjadi bagian dari solusi,” kata Sarbudiono.

Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting tidak dapat dicapai hanya melalui program pemerintah. Perubahan akan lebih cepat terjadi ketika perusahaan, organisasi masyarakat, komunitas, hingga individu ikut mengambil peran.

Dari perspektif tersebut, Program GENTING menjadi lebih dari sekadar kegiatan bantuan sosial. Program ini merupakan upaya membangun budaya gotong royong modern yang berfokus pada perlindungan generasi masa depan.

Keterlibatan PT THEP dalam Program GENTING memperlihatkan bagaimana dunia usaha dapat mengambil bagian dalam agenda pembangunan manusia.

Selama ini, kontribusi perusahaan sering kali diukur dari nilai investasi atau dampak ekonominya. Namun dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kontribusi terhadap kualitas hidup masyarakat menjadi indikator yang tidak kalah penting.

Melalui bantuan 70 paket beras yang diberikan kepada keluarga risiko stunting, PT THEP menunjukkan bahwa program CSR tidak hanya diposisikan sebagai kewajiban perusahaan, melainkan sebagai bentuk partisipasi dalam menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Humas CSR PT THEP, Bastian Apriliyanto Tampubolon, mengatakan bahwa perusahaan memandang pencegahan stunting sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi keluarga penerima dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas dan berkualitas. PT THEP berkomitmen untuk terus mendukung program-program sosial yang berdampak langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa investasi sosial tidak selalu hadir dalam bentuk proyek besar. Dalam banyak kasus, dukungan terhadap kebutuhan dasar keluarga justru menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya persoalan yang lebih besar di masa depan.

Data dan penelitian menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan intervensi yang konsisten dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga perlu dibarengi edukasi, pendampingan keluarga, serta penguatan ketahanan ekonomi masyarakat.

Karena itu, Sarbudiono berharap semakin banyak perusahaan dan kelompok masyarakat yang ikut terlibat dalam Program GENTING.

Menurutnya, setiap pihak memiliki kesempatan untuk menjadi “orang tua asuh” bagi keluarga yang membutuhkan dukungan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT THEP yang telah berpartisipasi sebagai mitra dalam Program GENTING. Semoga langkah ini dapat menginspirasi pihak lain untuk ikut berkontribusi karena pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Sebanyak 70 paket beras yang diserahkan PT THEP selanjutnya akan didistribusikan kepada keluarga risiko stunting yang telah terdata sebagai sasaran intervensi pemerintah daerah.

Namun di balik bantuan tersebut, tersimpan pesan yang lebih besar.

Bahwa masa depan anak-anak Bangka Barat tidak boleh ditentukan oleh keterbatasan ekonomi keluarga mereka.

Bahwa stunting bukan takdir yang harus diterima, melainkan persoalan yang bisa dicegah ketika pemerintah, dunia usaha dan masyarakat memilih untuk bergerak bersama.

Bahwa setiap bantuan yang diberikan hari ini, sekecil apa pun nilainya, sesungguhnya adalah investasi untuk menghadirkan generasi Bangka Barat yang lebih sehat, lebih cerdas dan lebih siap menghadapi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *