Kontributor: Riszuan
Bekaespedia.com, Padang,- 19 Juli 2026 – Komitmen generasi muda dalam mengangkat potensi daerah melalui riset dan inovasi kembali membuahkan prestasi membanggakan. M. Duta Ardandi Pratama bersama tim mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau berhasil meraih Juara Umum pada ajang kompetisi esai nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (BEM ITB HAS), International Students Association Universiti Sains Islam Malaysia (INSAN USIM), serta Forum Kajian Islam (FKI) Rabbani Universitas Andalas, pada 11–12 Juli 2026 di Kota Padang, Sumatera Barat.
Tidak hanya membawa pulang gelar Juara Umum, tim juga mencatatkan capaian gemilang: Juara Harapan III seluruh kategori, Medali Emas kategori pangan, tiga Medali Perak pada kategori lingkungan, budaya, dan pariwisata, dua penghargaan Poster Terfavorit terbaik kategori budaya dan pariwisata, serta Makalah Terbaik kategori pariwisata dan budaya.
Tim yang diketuai M. Duta Ardandi Pratama beranggotakan Zera Erika, Deswara Alfareza Putra Arifin, M. Falhan Arifin, Miftahul Jannah, dan Resti Audia. Seluruh proses penyusunan karya didampingi Nadia Omara, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau, serta Misal, alumni UIN Suska Riau yang berpengalaman di berbagai kompetisi karya tulis ilmiah tingkat nasional.
Mengusung semangat pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal, tim mengirimkan tujuh karya ilmiah yang mengangkat berbagai persoalan strategis di bidang lingkungan, pangan, budaya, pariwisata, dan hukum. Empat di antaranya berhasil menembus babak grand final, yaitu KATUKPOLI, Reinventing Ikan Salai Patin, ECO-BALIMAU KASAI, dan Calempong Oguong di Persimpangan Zaman.
Karya KATUKPOLI (Katuk Bioplastic Innovation) menawarkan solusi atas persoalan sampah plastik melalui pemanfaatan selulosa daun katuk sebagai bahan baku bioplastik yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif dalam mendukung transisi menuju penggunaan material yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, Reinventing Ikan Salai Patin menghadirkan inovasi pangan fungsional dengan mengoptimalkan seluruh bagian ikan patin—termasuk kulitnya yang kaya protein—guna meningkatkan nilai tambah komoditas lokal Kabupaten Kampar sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pada sektor pariwisata dan budaya, tim menghadirkan ECO-BALIMAU KASAI, konsep pengembangan tradisi Balimau Kasai melalui pendekatan manajemen acara ramah lingkungan, sehingga pelestarian tradisi berjalan beriringan dengan penjagaan alam. Adapun Calempong Oguong di Persimpangan Zaman menawarkan inovasi berbasis partisipasi pemuda untuk memperkenalkan kembali alat musik tradisional khas Kampar ke kalangan muda melalui kolaborasi dengan unsur musik modern tanpa menghilangkan nilai budaya aslinya.
Menurut Ketua Tim M. Duta Ardandi Pratama, seluruh inovasi dikembangkan berangkat dari keyakinan bahwa potensi lokal tidak boleh berhenti sekadar menjadi warisan, melainkan harus tumbuh menjadi solusi nyata bagi tantangan pembangunan.
“Kami percaya daerah menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Melalui riset dan inovasi, potensi tersebut dapat diolah menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat. Setiap karya yang kami susun tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga diarahkan agar memiliki peluang untuk diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata,” ujar Duta.
Ia menjelaskan proses penyusunan karya berlangsung sekitar dua bulan, mencakup kajian literatur, observasi lapangan, wawancara, hingga pengumpulan data di wilayah Kabupaten Kampar, khususnya Kecamatan XIII Koto Kampar dan Desa Koto Mesjid—agar setiap gagasan lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Tim juga telah melakukan audiensi dengan Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kampar, Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Riau, serta Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Riau guna menjajaki dukungan implementasi.
“Prestasi ini hanya awal perjalanan yang lebih panjang. Bagi kami, keberhasilan sesungguhnya bukan saat meraih medali atau penghargaan, melainkan ketika gagasan yang kami lahirkan dapat diterapkan, memberdayakan masyarakat, dan menjadi bagian dari pembangunan daerah. Kami berharap inovasi ini bisa dikembangkan lewat kolaborasi akademisi, pemerintah, pelaku usaha, tokoh adat, dan generasi muda,” tambahnya.
Pada babak penentuan juara umum, tim UIN Suska Riau tampil meyakinkan dengan mempresentasikan karya Reinventing Ikan Salai Patin di hadapan juri, hingga akhirnya dinobatkan sebagai pemenang utama.
Bagi Duta, pencapaian ini sekaligus membuktikan mahasiswa memiliki peran strategis menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa lewat pendekatan ilmiah yang berpijak pada kekayaan daerah.
“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap persoalan di sekitarnya. Kita harus hadir sebagai bagian dari solusi lewat riset, inovasi, dan kolaborasi. Ketika potensi lokal dipadukan dengan ilmu pengetahuan, lahirlah gagasan yang tidak hanya kompetitif di tingkat nasional, tetapi juga memiliki nilai kebermanfaatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Keberhasilan ini menjadi catatan positif bagi UIN Sultan Syarif Kasim Riau, sekaligus menegaskan inovasi berakar kearifan lokal mampu bersaing di kancah nasional. Lebih dari sekadar membawa pulang gelar juara, capaian ini menjadi bukti riset mahasiswa dapat menjadi jembatan memperkenalkan budaya, mengembangkan potensi daerah, serta mendorong solusi yang berkontribusi bagi pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.












