Oleh : Meilanto
Pada halaman 71 sampai 72 dituliskan secara rinci kegiatan Buddingh di Terentang dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.
Aan dezelfde vriendelijke zorgen van den Heer MENSINGA, mijn’ gastheer te Pankal-pinang , waaraan ik hef te danken had dat ik overal op den weg spoedig met veische koelie’s was bijgestaan geworden, was ik het ook verschuldigd, dat men te Trentan g van mijne komst verwittigd was. De boodschap mijner reis was mij overal vooruitgegaan, en had ook Trentang bereikt. Weldra was het dorpshoofd gewekt en bij mij, en werden er fakkels buiten de balei en hars-stokjes in de balei ontstoken. Ook was er spoedig een tafel met een paar stoelen geplaatst, en tevens waf koude rijst, die door het lange wachten op den gast natuurlijk vrij-hard en droog (garing of kring) geworden was, met gedroogde visch en zout opgezet, en deed ik tegelijk mijn dejeuner, mijn diner en mijn souper. Ik had nu wel lust gehad om te Trentang te overnachten, doch inen bad blijkbaar hierop niet gerekend, en het was ook in de bijkans aan alle zijden openc Balei zoo koud, (gelijk de nachten op Banka vaak zeer koud zijn,) dat ik niet besluiten kon, om op de bloote planken en schorsen of k o cl i et van nibong-hout te slapen. Ik vroeg dus, of ik versehe dragers bekomen kon, en dezen waren dadelijk bij de hand, dewijl ze reeds des avonds te voren besteld en in een nabijstaande loods bijeen waren om al slapende mijne komst te verbeiden. Ze zouden echter eerst nog hun makânan-pag i (ontbijt) gebruiken, en weldra hoorde ik ze op de deuren van eenige huizen of warong’s (gaarkeukens) housen, ten einde het noodige te bestellen.
Maksudnya : Berkat perhatian penuh kebaikan dari Tuan Mensinga—tuan rumah saya di Pangkalpinang, yang juga berjasa memastikan saya segera mendapatkan tenaga pengangkut baru di setiap tahapan perjalanan—kabar mengenai kedatangan saya telah disampaikan lebih dulu ke Terentang. Berita tentang perjalanan saya telah tersebar ke mana-mana mendahului langkah saya, termasuk sampai ke Terentang. Tak lama kemudian, kepala kampung dibangunkan dan sudah berada di sisi saya; obor-obor dinyalakan di luar balei (balai pertemuan), sementara batang-batang damar disulut di bagian dalamnya (maksudnya untuk bahan penerangan, pen) Sebuah meja dan beberapa kursi segera disiapkan, lengkap dengan nasi dingin—yang tentu saja sudah agak keras dan kering akibat lamanya waktu menunggu tamu—serta ikan kering dan garam; saya pun menyantap sarapan, makan siang, dan makan malam sekaligus dalam satu kesempatan. Sebenarnya saya ingin bermalam di Terentang, namun jelas tak ada seorang pun yang mengantisipasi hal ini; lagi pula, balei itu—yang terbuka di hampir semua sisinya—terasa sangat dingin (seperti lazimnya malam hari di Pulau Bangka), sehingga saya tidak sanggup membayangkan diri tidur di atas papan kayu dan kulit kayu polos, ataupun di atas bilah-bilah kayu palm nibong. Oleh karena itu, saya bertanya apakah saya bisa mendapatkan tenaga pengangkut baru; mereka pun segera tersedia, karena telah dipesan sejak malam sebelumnya dan berkumpul di sebuah gudang tak jauh dari situ untuk menunggu kedatangan saya sembari tidur. Namun, mereka ingin menyantap makanan-pagi (sarapan) terlebih dahulu, dan tak lama kemudian saya mendengar mereka menggedor pintu berbagai rumah atau warung (kedai makanan) untuk memesan apa yang mereka butuhkan.
Selanjutnya: Ten half 4 uren waren ze gereed, en toog ik op weg. De hanen begonnen reeds in het dorp te kraaijen, en eenige uilen of koekebloe’s en kalong’s en duiven, door het gegil en geschreeuw der koelie’s gewekt of verschrikt, sloegen hunne vlerken klapwiekend boven ons uit. Een der dragers, die op Java scheen vertoefd te hebben of als matroos te Bantam en Soerabaija geweest was, had zich met de rol van pulcinello, of van clown of arlequin van den troep belasl, en riep telkens zijnen makkers óf in het Maleisch, óf in het Javaansch, óf in het Sundasch opwekkend toe, om spoed te maken of frisch aan te loopen. Hau eens klonk het uit zijn’ mond in het Bergsch of Sundasch: “pisan-pisan!” (hardaan, sterkaan!) of in het Javaansch: “klis-klis, djelma -djelma Banka!” of “agé agé, wong Banka! ” (voort, voort, menschen van Banka). En als de weg hellend en glad was, riep hij in het Javaansch: “alon-alon!” (voorzigtig, zachtjes aan,) of in het Sundasch : “lalaunon-baaik” (langzaam), en manki hulla , etta deui! ” (wacht een weinig met u beiden!) enz. De Bankanézen schenen de beteekenis dier woorden reeds van hem geleerd te hebben, want ze lachten er luid om. Maar het was een Olympisch of Homerisch lagchen, (als men dit van slechts 12 à 15 luidlagchende menschen zeggen mag,) wanneer hij zijne kollegen “dèn” noemde (verkort voor Raden, een Javaansche titel van adeldom), of als hij in het Javaansch riep: “agé – agé , djarang!” (vooruit, paarden!) of “Gitiok djarang! Gitic k djarang iko!” (slade paarden, sla die paarden daar,) – met de paarden natuurlijk uit aardigheid de koelie’s bedoelende.
Maksudnya: Pukul setengah tiga mereka sudah siap, dan saya berangkat. Ayam jantan sudah mulai berkokok di kampung, dan berbagai burung hantu, burung nightjar (Caprimulgidae), rubah terbang (kelelawar buah/ bayis) dan merpati—terkejut atau terbangun oleh teriakan dan keributan para kuli—mengepakkan sayapnya dengan berisik di atas kami. Salah satu pengusung—yang tampaknya pernah menghabiskan waktu di Jawa atau pernah mengunjungi Banten dan Surabaya sebagai pelaut—menunjuk dirinya sebagai badut, atau harlequin (umumnya merujuk pada karakter badut tradisional Eropa yang cerdik dan identik dengan pakaian bermotif wajik warna-warni) kelompok tersebut; ia terus mendesak rekan-rekannya—dalam bahasa Melayu, Jawa, atau Sunda—untuk mempercepat atau mempercepat langkah. Sesekali terdengar teriakan dalam dialek pegunungan atau Sunda: “pisan-pisan!” (dorong kuat-kuat, masukkan punggung ke dalamnya!) atau dalam bahasa Jawa: “klis-klis, djelma-djelma Bangka!” atau “usia lanjut, wong Banka!” (pindah, pindah, masyarakat Banka). Dan setiap kali jalan itu terjal dan licin, ia berseru dalam bahasa Jawa: “alon-alon!” (hati-hati, santai saja) atau dalam bahasa Sunda: “lalaunon-baaik” (pelan-pelan). “(Tunggu sebentar, kalian berdua!)” dll. Orang-orang Bangka itu sepertinya sudah mengetahui arti kata-kata itu darinya, karena mereka menertawakannya dengan keras. Tapi itu benar tawa Olympian atau Homer (jika boleh dikatakan ini hanya 12 hingga 15 orang yang tertawa terbahak-bahak) setiap kali dia menyebut rekan “dèn” (kependekan dari Raden, bahasa Jawa gelar bangsawan), atau ketika ia berteriak dalam bahasa Jawa: “agé-agé, djarang!” (pusing, kuda!) atau “Gitiok djarang! Gitiok djarang iko!” (tabrak kudanya, pukul kuda disana)—maksudnya tentu saja para kuli ketika dia mengatakan “kuda”, hanya untuk bercanda. (BP / KM)*
Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.












