Oleh : Nazomi Wiratama, S.Pd., Gr. – Guru Pendidikan Pancasila SMP NU Toboali
Siang itu, sang surya kian membakar tanpa ampun, namun rimbunan angin tetap menyusup, menusuk hingga ke relung jiwa Madau. Saban hari, di bawah langit yang sama, Madau menyambung asa dengan beraktivitas sebagai penjual belacan di tepi Jalan Kampung Padang, ia selalu setia menjajakan dagangannya, menanti segelintir rezeki di balik debu yang beterbangan. Namun, roda nasib acap kali enggan berputar;
Suatu hari, belacan yang ia jajakan tak kunjung laku, menyisakan sepi yang merayap di sela-sela harapannya yang mulai gugur. Ia menundukkan kepala dalam diam, membiarkan jemarinya bertaut di antara benang-benang kusut pikiran yang tak kunjung menemukan ujung. Dalam tunduknya yang sunyi, ia menatap jalanan yang kosong, mencari jawaban yang hilang di balik riuhnya tanya dalam dada. Dua jam lamanya menatap jalanan yang sunyi, Madau pun melangkah pulang, memeluk sebuah ide memukau yang tiba-tiba menyapa di tengah jalan.
Sungguh sebuah ironi, sebab sepanjang langkahnya tadi, jalanan tak pernah menyuguhkan satu pun gagasan indah. Ia sempat didera kebuntuan, tertatih mencari langkah paling bijak demi menyambung hidup dan menentukan arah esok hari yang kian samar.
Fajar menyingsing membawa langkah Cukito—sahabat karibnya—bertandang ke gubuk sunyi tempat Madau bernaung. Sebuah sapaan hangat memecah keheningan, mengalun bersama ajakan untuk merajut harapan baru, yaitu nungau di hamparan Pukang Merapen.
Dengan guratan harap di wajahnya, Cukito bertutur lirih, “Kemaren, keben Yumanto banyak dapat tima, ngerulu imber urang hitu, lumayan jang men kini harge tima nyampai 200 ribu hekilo.”
Kata-kata itu mengalir bak rintik hujan di tanah gersang, menyalakan kembali redup api kehidupan di dada Mandau. Jiwanya yang sempat layu kini kembali memeluk semangat yang baru. Maka, ketika matahari kian meninggi, kedua sahabat itu melangkah beriringan menuju Pukang Merapen. Mereka pergi untuk mempertaruhkan nasib pada takdir yang baru, mengais rezeki di balik luluh lantaknya tanah Tungau.
Setelah perjalanan tiga puluh menit menuju Pukang Merapen, Madau dan Cukito akhirnya tiba di lokasi nungau itu. Di sana, telah tampak lautan manusia—kepala-kepala yang tunduk memikul asa yang sama: mengais rezeki dari remah-remah biji timah yang tersembunyi di kedalaman bumi.
Mentari kian menyengat, membakar kulit dan peluh, saat Madau dan Cukito mulai merajut takdir dengan nungau mereka. Sembari menghunjamkan pipa dan bilah kayu ke dalam dekap tanah, sebuah doa lirih menyelinap di antara desau angin—berharap bumi bersedia melimpahkan berkah timahnya yang melimpah.
Empat jam lamanya mereka menghunjamkan pipa dan bilah kayu, menghunjam jauh ke dalam dekapan tanah yang bisu. Ketika pasir timah mulai menampakkan dirinya di balik kelam, Madau dan Cukito bergegas menyudahi tikaman itu. Pipa dan kayu ditarik perlahan, membawa serta rezeki yang lama tersembunyi di rahim bumi.
Butir-butir hitam itu segera berpindah ke atas sakan. Di sanalah ritual pemurnian dimulai. Dengan sisa-sisa tenaga yang kian terkuras, mereka membasuh pasir timah dengan air seadanya, berharap bulir-bulir kotor itu menjelma menjadi bijih berkualitas tinggi demi sekeping rupiah yang layak. Setengah jam berlalu dalam keheningan dan kecipak air. Tepat saat azan Asar berkumandang membelah langit, pasir-pasir itu luruh, berubah wujud menjadi bijih-bijih timah yang kasar—sebuah tanda bahwa peluh mereka tidak terbuang sia-sia.
Lelah yang teramat sangat menuntun mereka untuk segera membersihkan diri. Bergegas mereka mandi dan berganti pakaian, berkejaran dengan waktu yang kian beranjak senja. Ada bisikan cemas di dalam dada, berharap kaki-kaki mereka sudah menapak di rumah sebelum Magrib melabuhkan tiram kegelapannya.
Namun, perjalanan pulang itu tertahan di sebuah rumah sang pembeli timah. Di sana, sunyi runtuh oleh antrean yang memanjang. Madau dan Cukito menatap lurus ke depan, melihat deretan punggung berpeluh—orang-orang dengan nasib serupa, yang menggantungkan hidup pada hasil nungau timah yang tak pasti. Sepuluh menit mengantre dalam kecemasan yang berdenyut, tibalah giliran mereka. Sang pembeli memeriksa jemari-jemari hitam itu dengan saksama.
“Bagus timah ikak ne, lihai ikak nyuci ee aok, ku beli harge 215 aok hekilo,” ucap sang pembeli, memuji keahlian jemari mereka yang lincah menepis kotoran.
Saat jarum timbangan bergerak dan berhenti di angka sepuluh kilogram, binar bahagia tak lagi mampu disembunyikan. Wajah sumringah merekah di antara keduanya, sebuah senyuman tulus yang seolah membuat alam semesta ikut tersenyum dan merayakan kebahagiaan kecil itu.
Transaksi pun usai. Uang tunai sebesar Rp2.150.000 kini telah berpindah tangan. Sesampainya di rumah, dalam temaram lampu yang mulai menyala, Madau dan Cukito duduk berhadapan untuk membagi berkah hari itu. Masing-masing mengantongi 900 ribu rupiah, upah atas peluh yang mengering di badan. Sementara 350 ribu sisanya mereka sisihkan dengan khidmat, disimpan rapat sebagai modal operasional usaha agar esok hari, mereka masih bisa kembali mengetuk pintu rezeki di dasar bumi.
Pesan moral atau amanat yang dapat diambil dari naskah cerita tersebut adalah sebagai berikut:
Pantang menyerah dan adaptif terhadap keadaan. Madau tidak terpuruk meratapi nasibnya saat jualan belacannya sepi. Ia berani mengambil peluang baru yang ditawarkan oleh sahabatnya untuk menyambung hidup.
Pentingnya memiliki sahabat yang saling mendukung (solidaritas). Kehadiran Cukito sebagai sahabat sejati membawa solusi dan motivasi di saat Madau sedang berada di titik buntu. Sahabat yang baik adalah mereka yang membawa pengaruh positif dan peluang untuk maju bersama.
Kerja keras dan ketelitian membawa hasil yang maksimal. Hasil timah yang bersih berkat keahlian dan kerja keras Madau serta Cukito membuat pembeli menghargai timah mereka dengan harga tinggi (Rp 215.000/kg, lebih tinggi dari perkiraan awal Rp 200.000/kg).
Bijak dalam mengelola keuangan dan memikirkan masa depan. Alih-alih menghabiskan semua uang hasil kerja keras untuk kesenangan sesaat, mereka dengan bijak menyisihkan sebagian uang (Rp 350.000) sebagai modal operasional untuk hari esok.
Selesai












