Baznas Bangka Barat Bantu Biaya Pendidikan, dari Seragam hingga Tunggakan Sekolah

Laporan : Belva Al Akhab

 

Bekaespedia.com, Bangka Barat,- Biaya pendidikan tidak selalu berhenti pada uang sekolah. Bagi keluarga dengan penghasilan tidak tetap, kebutuhan membeli seragam, sepatu, pakaian pramuka hingga perlengkapan sekolah dapat menjadi beban tersendiri.

 

Kondisi itu menjadi salah satu alasan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bangka Barat menyalurkan bantuan melalui Program Bangka Barat Cerdas.

 

Bantuan diberikan kepada puluhan penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar, SMP, SMA/SMK, madrasah, pondok pesantren hingga perguruan tinggi.

 

Penyerahan bantuan berlangsung di Masjid Agung Baitur Ridha, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Mentok, Rabu (30/9/2026).

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari distribusi bantuan mustahik Baznas Bangka Barat dengan agenda penyerahan bantuan biaya pendidikan.

 

Ketua Baznas Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra Nato mengatakan, bantuan tersebut ditujukan untuk meringankan beban orang tua yang kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak.

 

“Pada dasarnya meringankan beban orang tua,” kata Lili saat ditemui seusai kegiatan.

 

Menurut dia, kebutuhan pendidikan biasanya meningkat ketika memasuki tahun ajaran baru.

 

Orang tua harus menyediakan seragam, pakaian pramuka, pakaian batik, pakaian olahraga hingga sepatu.

 

“Setiap awal tahun itu kan harus membeli seragam baru, baju pramuka baru, baju batik baru, baju olahraga baru, sepatu baru,” ujar Lili.

 

Persoalan menjadi lebih berat bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tidak tetap.

 

“Masyarakat yang memang penghasilannya tidak tentu sulit pengadaan. Sementara sekolah menuntut. Mereka mengajukan bantuan kepada Baznas, tolong dibantu,” katanya.

 

Bantuan yang diberikan Baznas tidak hanya berkaitan dengan perlengkapan sekolah. Sejumlah pengajuan juga berkaitan dengan tunggakan biaya pendidikan.

 

Lili mencontohkan kondisi siswa di SMP Muhammadiyah Mentok. Menurut dia, sekitar belasan siswa mengalami keterlambatan pembayaran dan kesulitan memenuhi biaya sekolah.

 

“Mereka rata-rata terlambat, menunggak, kesulitan membayar uang sekolah. Nunggak, tidak bisa membayar lagi,” ungkapnya.

 

Pihak sekolah kemudian mengajukan bantuan kepada Baznas untuk membantu pembayaran biaya pendidikan siswa.

 

“Akhirnya mereka mengajukan ke Baznas supaya anak-anak dibayarkan uang sekolahnya,” kata Lili.

 

Menurut Lili, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah lembaga pendidikan lain. Pengajuan bantuan datang dari sekolah Muhammadiyah, sekolah kejuruan, sekolah dasar hingga madrasah.

 

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan juga berkaitan erat dengan kemampuan ekonomi keluarga.

 

Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, biaya pendidikan dapat muncul bersamaan dalam waktu yang sama. Ketika tahun ajaran baru dimulai, kebutuhan perlengkapan sekolah harus dipenuhi. Pada waktu tertentu, kewajiban pembayaran sekolah juga harus diselesaikan.

 

Lili mengatakan, pengajuan bantuan pendidikan biasanya muncul pada momentum tertentu.

 

Salah satunya ketika tahun ajaran baru dimulai. Pengajuan juga dapat dilakukan ketika siswa akan menghadapi ujian.

 

“Biasanya mereka minta ini pada saat tahun ajaran baru atau pada saat mau ujian,” ujarnya.

 

Dalam kondisi tertentu, siswa yang memiliki tunggakan menghadapi persoalan administrasi pendidikan karena kewajiban pembayaran belum terselesaikan.

 

Baznas, kata Lili, berupaya membantu sesuai dengan kemampuan dana yang tersedia.

 

“Selama kita ada duit, Bismillah selesai,” katanya.

 

Bagi penerima manfaat, bantuan tersebut bukan hanya soal nominal yang diterima. Ada kebutuhan pendidikan yang dapat dipenuhi dan ada beban keluarga yang berkurang.

 

 

Penerima dari SD hingga Perguruan Tinggi

 

Berdasarkan daftar penerima manfaat yang disampaikan Baznas Bangka Barat, bantuan pendidikan diberikan kepada puluhan orang.

 

Pada tingkat sekolah dasar, penerima berasal dari:

 

SD Negeri 2 Mentok;

SD Muhammadiyah Mentok.

 

Pada jenjang SMP dan sederajat, penerima berasal dari:

 

SMP Muhammadiyah Mentok;

Madrasah Tsanawiyah Halimatussa’diyah/SMP;

SMP Negeri 1 Mentok;

SMP Negeri 5 Mentok;

SMP Negeri 2 Mentok;

SMP Negeri 1 dan MAN Mentok;

SMP Queen Al Falah Kediri, Jawa Timur.

 

Total penerima pada kelompok SMP dan sederajat berdasarkan rincian daftar tersebut mencapai belasan orang.

 

Sementara pada jenjang SMA, SMK dan sederajat terdapat penerima dari:

 

SMA Negeri 1 Mentok;

MAN Mentok;

SMK Negeri 1 Mentok;

SMK Muhammadiyah Mentok;

SMK Bina Karya 1 Mentok;

Madrasah Aliyah Negeri 1 Mentok.

 

Jumlah penerima pada kelompok ini mencapai belasan orang.

 

Bantuan juga diberikan kepada tiga santri dari:

 

Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Zaid Bin Tsabit Bekasi;

Pondok Pesantren Al-Islam Desa Kemuja;

Pondok Pesantren Al Fatah Nibung, Kabupaten Bangka Tengah.

 

Sementara untuk pendidikan tinggi, terdapat tiga penerima dari Universitas Atma Luhur, Universitas Terbuka, dan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.

 

Jika seluruh rincian penerima dihitung berdasarkan jumlah orang yang tercantum dalam daftar, total penerima bantuan pendidikan mencapai puluhan orang.

 

Selain bantuan pendidikan, Baznas juga mencatat satu penerima bantuan modal usaha laundry.

 

Program Bangka Barat Cerdas memperlihatkan bagaimana dana zakat disalurkan untuk kebutuhan pendidikan masyarakat.

 

Bantuan tersebut menjangkau kebutuhan yang berbeda-beda. Ada siswa yang membutuhkan perlengkapan sekolah, ada yang menghadapi tunggakan biaya pendidikan, sementara mahasiswa membutuhkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

 

Bagi keluarga penerima, persoalan tersebut tidak selalu mudah diselesaikan hanya dengan mengandalkan pendapatan sehari-hari.

 

Di sinilah bantuan sosial dapat menjadi salah satu penyangga ketika kemampuan ekonomi keluarga tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan.

 

Lili mengatakan, Baznas juga membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat pelaksanaan program.

 

Menurut Lili, kerja sama lintas sektor diperlukan agar keberadaan dan program Baznas diketahui oleh berbagai pihak, termasuk organisasi perangkat daerah (OPD).

 

“Sebetulnya lintas sektor itu mereka harus tahu bahwa inilah kegiatan Baznas. Selain memberikan kepada umum, juga memberikan bantuan kepada pendidikan,” kata Lili.

 

Kerja sama tersebut, menurut dia, diharapkan dapat membantu koordinasi serta memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.

 

“Harapan kami, mudah-mudahan ke depan langkah kerja samanya tetap. Ada kerja sama antara Baznas dengan beberapa OPD terkait,” ujarnya.

 

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya persoalan sekolah dan ruang kelas. Kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.

 

Bagi seorang anak, seragam baru mungkin terlihat sebagai kebutuhan sederhana. Bagi keluarga dengan pendapatan tidak tetap, kebutuhan tersebut dapat menjadi persoalan yang harus diperhitungkan.

 

Begitu pula dengan tunggakan uang sekolah. Di balik angka yang tercatat dalam administrasi sekolah, ada keluarga yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.

 

Melalui Program Bangka Barat Cerdas, Baznas berupaya mengisi ruang tersebut dengan menyalurkan zakat kepada masyarakat yang membutuhkan.

 

Sebab, menjaga anak tetap bersekolah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan hari ini. Di dalamnya terdapat upaya mempertahankan kesempatan seorang anak untuk melanjutkan pendidikan dan menyiapkan masa depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *