Cerpen  

Asap Di Ujung Sore

Karya : Jasky Rahmad

Bekaespedia.com,- Di sebuah kota kecil bernama Sungai Lestari, sebagian besar warga bekerja sebagai petani, pedagang, dan buruh kebun. Di bagian utara kota terdapat hutan yang cukup luas. Hutan itu memang bukan tempat wisata, tetapi keberadaannya penting bagi warga karena beberapa mata air yang digunakan masyarakat berasal dari daerah tersebut.
Dimas, siswa kelas X, tinggal tidak jauh dari hutan bersama ibunya. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia biasa melewati jalan kecil di pinggir hutan. Ia hafal beberapa bagian jalan itu, termasuk pohon besar yang sering dijadikan tempat berteduh oleh warga saat hujan.
Suatu sore, Dimas sedang membantu ibunya mengantar makanan kepada pamannya yang bekerja di kebun. Ketika perjalanan pulang, ia melihat asap tipis dari arah hutan.
“Bu, itu asap dari mana?” tanya Dimas.
Ibunya melihat ke arah yang ditunjuk. “Mungkin ada orang membersihkan lahan. Semoga apinya tidak besar.”
Dimas tidak terlalu memikirkannya. Namun, malam harinya, angin bertiup cukup kencang. Asap yang sebelumnya tipis berubah menjadi lebih tebal. Dari kejauhan bahkan terlihat warna merah di antara pepohonan.
Keesokan paginya, sekolah Dimas mengumumkan bahwa kegiatan belajar dilakukan lebih singkat karena kualitas udara memburuk. Beberapa warga mulai menggunakan masker ketika keluar rumah. Di jalan, Dimas melihat mobil pemadam kebakaran beberapa kali melewati permukiman.
Ternyata api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan merambat ke bagian hutan yang dipenuhi daun-daun kering. Petugas bersama warga berusaha membuat batas agar api tidak semakin mendekati rumah penduduk.
Hari berikutnya, keadaan menjadi lebih buruk. Asap membuat jarak pandang berkurang. Warung milik tetangga Dimas bahkan terpaksa tutup karena hampir tidak ada pembeli yang berani keluar rumah.
Yang paling membuat Dimas sedih adalah ketika ia melihat beberapa warga mencari hewan peliharaan yang melarikan diri karena ketakutan. Ada pula burung-burung yang biasanya terdengar setiap pagi, tetapi kini tidak lagi terdengar.
Setelah hampir seminggu, hujan akhirnya turun cukup deras. Api berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Dimas kemudian ikut ayahnya melihat keadaan hutan. Jalan yang biasanya dipenuhi pepohonan kini terlihat berbeda. Tanah menjadi hitam, batang-batang pohon mengering, dan udara masih menyisakan bau asap.
Dimas berdiri cukup lama tanpa berbicara.
“Padahal untuk membuat hutan seperti ini membutuhkan waktu puluhan tahun,” katanya.
Ayahnya mengangguk. “Itulah masalahnya. Manusia sering membutuhkan waktu hanya beberapa jam untuk merusak sesuatu yang dibangun alam selama bertahun-tahun.”
Beberapa minggu setelah kebakaran, warga mengadakan pertemuan. Mereka sepakat untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. Mereka juga membuat kelompok kecil untuk mengawasi kawasan hutan dan menanam kembali pohon di daerah yang rusak.
Dimas ikut dalam kegiatan tersebut. Ia menanam satu bibit pohon di dekat jalan yang biasa dilewatinya.
Saat pulang, ia menoleh sekali lagi ke arah hutan. Tidak banyak yang berubah. Hutan itu masih terlihat gersang.
Namun, Dimas percaya bahwa sesuatu yang baik memang tidak selalu memberikan hasil dengan cepat.
Ia hanya berharap, ketika pohon kecil yang ditanamnya sudah tumbuh besar nanti, orang-orang di kota itu tidak lagi menganggap hutan sebagai sesuatu yang boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.
Pesan dan Moral
Kebakaran hutan dapat terjadi karena kelalaian manusia dan dampaknya bisa dirasakan oleh banyak orang. Karena itu, kita harus bertanggung jawab ketika menggunakan api, tidak membakar lahan sembarangan, dan menjaga lingkungan. Kerusakan alam mungkin terjadi dalam waktu singkat, tetapi untuk memulihkannya diperlukan waktu yang sangat lama.

Exit mobile version