Penulis: Belva Al Akhab dan Tim
Bekaespedia.com, Kelapa, – Sore itu, Jum’at (13/03/2026) langit Ramadhan perlahan meredup di atas Kecamatan Kelapa. Cahaya matahari yang tersisa jatuh lembut di halaman Gedung Serba Guna, tempat puluhan anak yatim, piatu dan kaum dhuafa berkumpul dalam sebuah peristiwa kecil yang memuat makna besar yaitu kepedulian.
Di dalam ruangan sederhana itu, wajah-wajah anak-anak duduk berbaris rapi. Sebagian menggenggam amplop santunan, sebagian lagi memegang bingkisan yang mereka terima. Namun lebih dari sekadar bantuan, yang terasa di ruangan tersebut adalah suasana kebersamaan. Sebuah pengingat bahwa Ramadhan selalu menemukan jalannya untuk mempertemukan manusia dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah keramaian itu hadir Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman. Kehadirannya bukan hanya sebagai pejabat daerah, tetapi sebagai bagian dari cerita yang lebih besar tentang bagaimana kepemimpinan daerah mencoba menumbuhkan kembali tradisi kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Bagi sebagian masyarakat yang hadir, kedatangan Yus Derahman menjadi simbol bahwa pemerintah tidak hanya hadir melalui kebijakan dan program pembangunan, tetapi juga melalui sentuhan empati di ruang-ruang sosial masyarakat.
Dalam sambutannya, Yus Derahman mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai ruang untuk memperkuat solidaritas sosial.
“Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan dan keberkahan. Pada bulan yang mulia ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan memperkuat kepedulian terhadap sesama, khususnya kepada anak-anak yatim dan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, namun di ruang tersebut ia menjadi semacam pengingat moral. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, masih ada ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak dan melihat sesamanya.
Di banyak tempat, pembangunan seringkali diukur dengan angka panjang jalan yang dibangun, jumlah gedung yang berdiri atau besarnya investasi yang masuk. Namun bagi Yus Derahman, pembangunan daerah memiliki dimensi yang lebih luas yaitu dimensi yang menyentuh nilai dan kemanusiaan.
Di hadapan masyarakat Kelapa, ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas kepedulian sosial masyarakatnya.
“Nilai-nilai saling membantu, berbagi rezeki dan menebarkan kebaikan seperti inilah yang harus terus kita pelihara dalam kehidupan bermasyarakat. Dari kepedulian sosial inilah kita membangun masyarakat yang kuat dan penuh keberkahan,” katanya.
Bagi masyarakat Bangka Barat, pesan ini terasa relevan. Di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang cepat, tradisi gotong royong menjadi salah satu penyangga penting bagi kehidupan sosial masyarakat.
Kegiatan santunan ini, meski sederhana, menjadi cerminan bahwa nilai tersebut masih hidup.
Di barisan depan, beberapa anak yatim duduk dengan wajah tenang. Mereka mendengarkan sambutan dengan penuh perhatian, meskipun mungkin sebagian dari mereka belum sepenuhnya memahami makna besar dari acara tersebut.
Namun bagi Yus Derahman, anak-anak itu adalah simbol masa depan.
Ia menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna agar mereka tidak kehilangan harapan.
“Kalian adalah generasi penerus bangsa yang memiliki masa depan cerah. Tetaplah semangat belajar, rajin beribadah dan jangan pernah berkecil hati. Banyak orang yang peduli dan selalu mendoakan kalian,” ucapnya.
Bagi anak-anak itu, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti nasihat biasa. Namun bagi masyarakat yang menyaksikannya, pesan itu mengandung harapan bahwa masa depan Bangka Barat sedang tumbuh di tangan generasi muda.
Di sudut ruangan, Siti Aminah (52) memegang bingkisan bantuan yang baru saja diterimanya. Perempuan paruh baya itu datang bersama cucunya yang telah lama kehilangan ayah.
Matanya berkaca-kaca ketika menceritakan perasaannya.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada Bapak Wakil Bupati H. Yus Derahman dan semua pihak yang telah membantu kami. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama di bulan Ramadhan seperti sekarang,” ujarnya.
Bagi keluarga seperti Siti Aminah, bantuan tersebut mungkin tidak mengubah kehidupan mereka secara drastis. Namun dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, perhatian seperti itu menjadi pengingat bahwa mereka tidak sepenuhnya sendirian.
Di sisi lain ruangan, seorang anak yatim yang menerima santunan juga mengungkapkan harapannya agar kegiatan seperti ini terus dilakukan setiap tahun.
“Senang sekali bisa dapat bantuan dan bertemu banyak orang yang peduli,” katanya dengan suara pelan.
Kalimat sederhana itu menggambarkan sesuatu yang lebih dalam bahwa bantuan sosial tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang rasa diperhatikan.
Bagi masyarakat Kecamatan Kelapa, kegiatan santunan seperti ini telah menjadi bagian dari tradisi Ramadhan yang terus hidup dari tahun ke tahun.
Di bulan yang diyakini sebagai bulan penuh berkah ini, banyak warga merasa terdorong untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Pemerintah daerah, melalui kehadiran para pemimpinnya, mencoba memperkuat tradisi tersebut sebagai bagian dari nilai sosial masyarakat Bangka Barat.
Atas nama pemerintah daerah, Yus Derahman menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, donatur, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut.
Baginya, kegiatan santunan ini adalah bukti bahwa kekuatan masyarakat tidak hanya terletak pada struktur pemerintahan, tetapi juga pada solidaritas yang tumbuh dari bawah.
Ketika acara mendekati akhir, doa bersama dipanjatkan. Suara doa itu menggema pelan di dalam ruangan, mengiringi harapan agar setiap kebaikan yang diberikan menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT.
Di luar gedung, senja Ramadhan semakin redup.
Anak-anak mulai pulang bersama keluarga mereka, membawa bingkisan kecil dan kenangan dari sebuah pertemuan yang mungkin akan mereka ingat lama.
Bagi sebagian orang, acara santunan ini mungkin hanyalah kegiatan sosial biasa. Namun bagi mereka yang hadir di ruangan itu, ia adalah sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan.
Ia adalah pengingat bahwa kepedulian masih hidup.
Di tengah kehidupan yang terus berubah, selalu ada tangan-tangan yang terulur untuk menyalakan kembali cahaya kemanusiaan.












