Bukan Sekadar Program, Tapi Kepedulian: Pemkab Bangka Barat Ringankan Beban Hidup Warga

Laporan : Belva Al Akhab

Bekaespedia.com, Mentok, – Dari balik hiruk pikuk pasar yang sering diwarnai ketidakpastian harga, sebuah gerakan kecil lahir membawa arti besar bagi masyarakat Bangka Barat. Di Lapangan Gelora Mentok, Selasa (21/10/2025), Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menghadirkan Gerakan Pangan Murah (GPM sebuah wujud nyata keberpihakan pada rakyat kecil dan langkah konkret menegakkan keadilan pangan di tengah gelombang ekonomi yang tak menentu.

GPM ini diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) bekerja sama dengan Perum Bulog, distributor minyak, petani lokal, dan pelaku UMKM. Bupati, Markus, S.H., bersama Kapolres, AKBP Pradana Aditya Nugraha, S.Ik., serta Kasdim 0431/Bangka Barat Mayor Nawawi, turun langsung ke lapangan meninjau kegiatan. Di antara tenda-tenda putih yang berdiri rapi, mereka menyapa masyarakat, bukan dari balik podium, tetapi di tengah barisan rakyat yang antre beras dan minyak—sebuah simbol kecil dari pemerintahan yang ingin benar-benar hadir, bukan hanya terlihat.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah dari pasaran, sekaligus menjaga kestabilan inflasi di daerah,” ujar Markus dengan suara yang tenang namun penuh makna, menandai bahwa tugas seorang pemimpin bukan hanya mengatur, tapi menenteramkan.

Ia melanjutkan, GPM bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan sosial-ekonomi yang tumbuh dari kesadaran bersama untuk melindungi rakyat dari tekanan harga. Di Bangka Barat, ketahanan pangan bukanlah jargon, tapi cermin dari moralitas pemerintahan yang berpihak pada kehidupan.

Beragam bahan pangan dijual dengan harga di bawah pasaran, menandai perlawanan kecil terhadap ketimpangan ekonomi:

– Beras SPHP: Rp59.000 per 5 kg (stok 8 ton)

– Minyak goreng Minyak Kita: Rp15.500/liter, Fortune: Rp18.500/liter

– Ayam hidup: Rp30.000/kg, bersih Rp36.000/kg

– Cabai merah keriting: Rp55.000/kg

– Telur ayam ras: Rp1.750/butir

serta berbagai kebutuhan pokok lain seperti gula, bawang, dan gandum.

Harga-harga ini mungkin tampak sederhana di atas kertas, namun bagi banyak keluarga di pelosok Bangka Barat, ia adalah napas yang meringankan beban, secercah harapan di tengah tekanan hidup yang kian menyesak.

Tak berhenti pada jual beli, lapangan itu pun berubah menjadi ruang sosial yang penuh kehidupan. Dinas Kesehatan membuka layanan cek kesehatan gratis, dan Dealer Honda Mentok menggelar senam sehat serta doorprize bagi warga. Di bawah langit Mentok yang biru, pasar murah itu menjelma menjadi pesta rakyat di mana pemerintah dan masyarakat berdiri sejajar dalam keringat dan senyum.

Sari, seorang ibu rumah tangga yang datang sejak pagi, bercerita dengan wajah sumringah.

“Bagus sekali program ini, harganya jauh lebih murah dari pasaran. Kualitasnya juga bagus, apalagi beras Bulog yang dijual di sini,” katanya.

Bagi Sari dan ribuan warga lainnya, GPM bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan bukti bahwa pemerintah masih punya hati, dan rakyat masih punya harapan.

Tema “Bergandengan Tangan untuk Pangan dan Masa Depan yang Lebih Baik” seolah menjadi mantra yang hidup di antara langkah-langkah kecil di Lapangan Gelora. GPM menjadi simbol kekuatan gotong royong antara birokrasi dan rakyat, antara pemerintah dan pasar, antara tangan yang memberi dan tangan yang menerima.

Di tengah gelombang global yang mengguncang harga, Bangka Barat memilih jalan yang lebih sunyi tapi berarti: hadir di tengah rakyatnya, bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pengayom. Pemerintah tidak hanya mengatur, tetapi juga menanggung sebagian beban, menyeka sebagian peluh.

Melalui gerakan pangan murah ini, Bangka Barat membuktikan bahwa kesejahteraan tidak selalu hadir dari kebijakan besar atau proyek megah, melainkan dari kepedulian yang ditanam di tempat sederhana di pasar, di dapur, di meja makan keluarga yang kini bisa tersenyum lega.

Dan di sanalah makna sejati pemerintahan hidup: ketika rakyat merasa diperhatikan, dan pemimpin berjalan di antara mereka, bukan di atas mereka.

Bangka Barat bergerak bukan demi citra, tapi demi cinta kepada rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *