Karya : Reighina Cahyani Kelas IX B (Peserta Didik SMP Negeri 5 Payung)
Aku Angela, peserta didik SMA Favorit, yang duduk di kelas XII. Aku sedang mencintai seseorang teman sekelasku sendiri. Bahkan aku mengaguminya sejak pertama masuk kelas XII.
Kisah cintaku dengan dia bisa dikatakan “cinta bertepuk sebelah tangan.” lho…?
Pada hari Kamis, kelas XII mengadakan acara masak-masak. Pak Wawan Guru prakarya membagi kami dalam beberapa kelompok.
Ternyata aku satu kelompok dengan orang yang aku suka, orang tersebut bernama Ical.
Dia seseorang yang sangat manis dan baik. Tetapi, dia terlalu cuek padahal aku sangat mengaguminya.
Kegiatan masak -masak itu pun tiba. Aku, Cici, Rani, Farhan, dan Ical mulai mempersiapkan dan berbagi tugas untuk praktik memasak.
Aku sangat senang bisa satu kelompok dengan Ical.
“Serasa dunia ini milikku,” ucapku dalam hati.
Hari yang dinantikan pun tiba. Kami mulai memasak, aku menatap ke arah Ical lalu dia pun menatap ke arahku.
Di dalam hati aku berkata, ”Jagalah hatinya untukku Tuhan!”
Tidak disangka, Ical pun menghampiriku dan meminta tolong untuk memegang teleponnya.
“Aku tidak menyangka apakah ini nyata?” ujarku dalam hati dengan wajah senang. Ical lalu meminjam sandal.
“Apakah aku boleh meminjam sandalmu?”
“Oh tentu boleh banget,” jawabku.
Dengan penuh kebersamaan akhirnya kelompok kami menyelesaikan kegiatan praktiknya.
Makanan pun dihidangkan untuk mendapatkan penilaian. Kami dengan sesama kelompok lain makan bersama. Kegiatan masak-masak selesai. Semua peserta didik membereskan kembali.
Sebelum pulang, Ical kembali menghampiriku untuk mengembalikan sandalku yang dipinjaminya. Akupun mengembalikan teleponnya.
Kami pulang ke rumah. Sesampai di rumah, aku masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Aku menghela nafas.
“Apakah dia mencintaiku atau tidak ya?…semoga dia juga mencintaiku secara diam.”
Malam pun tiba. Aku ingin mengirim pesan kepada Ical tapi aku malu.
“Coba dulu gak ya?” gumamku.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubunginya lewat sambungan telepon. Terdengar nada dering. Telepon tersambung.
“Malam, aku Angela yang sekelompok masak-masak sama kamu tadi siang,” ucapku membuka obrolan.
“Oooh, ya!” Jawab Ical dengan nada biasa-biasa saja.
“Jangan lupa simpan ya, nomor aku!” pintaku dengan nada merdu.
“Okee Angela!” jawabnya.
“Kenapa dia cuek banget ya sama aku?” gumamku dalam hati.
Untuk mencoba mengakrabkan diri, aku berusaha untuk bertanya-tanya sama Ical.
“Siapa tau bisa akrab,” gumamku dalam hati.
“Kamu lagi ngapain, Cal?” sapaku.
“Lagi mengerjakan tugas pelajaran IPS. Soalnya minggu kemarin aku tidak masuk karena sakit, emangnya kenapa?” tanya Ical.
“Aku hanya nanya saja kok. hehe,” jawabku sembari tertawa.
“Iya…, kalau begitu, udah dulu yah Angela,” jawab Ical lagi.
Obrolan singkat dan basa-basi lewat sambungan telepon akhirnya berhenti.
Tak terasa waktu sudah pukul 21.00 akhirnya aku tidur.
Pagi pun tiba hari ini aku semangat banget buat sekolah.
“Aku berangkat dulu ya Mama,” ucapku dengan wajah penuh bahagia dan ceria. “Ya, hati-hati ya, Nak!” pesan Mamaku.
“Baik Mama.”
Aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sambil menunjukan wajah ceria dan cerah. Sesampainya di sekolah pukul 06.30, ternyata Ical belum datang.
“Mungkin sebentar lagi ya!” aku bergumam dalam hati sambil mataku menatap pintu masuk penuh harapan.
Beberapa menit kemudian ternyata Ical sudah sampai. Tetapi, sesaat aku menatap wajah ke arahnya dia malahan membuang muka.
”Apakah dia membenciku?” tanyaku dalam hati.
“Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku yang terlalu berharap ya? Padahal aku sangat mencintainya,” ucapku dalam hati sambil wajah cemberut. “Apakah aku menyerah aja ya?”
Ternyata terlalu berharap itu sakit banget. Apalagi menyukai orang yang tidak menyukai kita.
Cinta yang membuatku tersenyum. Cinta pula yang melukai hati. Cinta yang membuatku hilang arah.
Sejujurnya cinta kita takkan pernah bisa untuk menyatukan semua perbedaan yang ada diantara kita berdua.
Aku bingung diantara harus melupakan atau masih melanjutkan untuk mencintaimu secara diam.
Aku bingung dengan hati dan pikiranku selalu mengingat tentangmu, saat aku sudah mulai belajar melupakanmu.
Hati ini selalu menuju kepada wajahmu. Apalagi kami satu kelas.
Mungkin sekarang aku akan lebih banyak belajar bahwa seindah apapun wajah orang yang kamu suka, jika dia tidak mencintaimu tidak ada gunanya.
Masa putih abu menjadi masa yang menyenangkan bagiku. Karena, aku bertemu kamu dan jatuh cinta denganmu adalah keputusan kala itu.
“Ical, sampai sekarang perasaan itu masih ada untukmu.”
“Kamu tahu, kalau kamu pernah jadi salah satu topik pembicaraan saat bersama teman ku.”
Aku ceritakan tentang kamu yang aku tahu. Aku suka sekali menatap punggungmu dari tempat dudukku.
Berpura – pura fokus dengan penjelasan guru, padahal sesungguhnya kau menarik seluruh atensiku. Aku sangat menyukai tugas sekolah. Aku rindu pada sekolah yang menyimpan dirimu di dalamnya.
Sekarang sudah berganti tahun dan aku masih tetap mencintaimu walaupun kita sudah lulus sekolah.
Dalam sujudku aku berdoa agar kau menjadi jodoh di (lauhul mahfudz) ku.
“Maafkan aku yang terlalu mencintai ciptaan-Nya. Ada pesona di setiap langkahmu, seperti hujan yang datang pada musim kemarau.” Cukup ku cintai secara diam tanpa harus mengungkapkan,” desisku.
“Kita punya cinta tapi Allah punya aturan.”
” LAllah melarang kita berpacaran tapi Allah tidak melarang kita mencintai seseorang.” (BP)*
