Oleh: Belva Al Akhab dan Tim
Bekaespedia.com, Yogyakarta,- Pagi belum sepenuhnya lahir ketika Zizi Alqoorni sudah berdiri di depan rak sayur. Udara masih menyisakan dingin, jalanan belum ramai, tetapi pesan-pesan di telepon genggamnya sudah berdatangan seperti gelombang yang tak pernah berhenti.
Di ruang kecil itulah, di antara daun-daun segar yang disusun rapi, sebuah cerita besar diam-diam tumbuh.
“Dulu saya cuma punya satu pikiran. Bagaimana usaha ini bisa jalan bukan untuk saya, tapi supaya saya bisa membahagiakan ibu.” ujar Zizi, suaranya tenang namun mengandung beban perjalanan panjang.
Di negeri yang sering melahirkan mimpi besar dari ruang sempit, kalimat itu bukan sekadar pengakuan. Ia adalah fondasi.
Zizi lahir di Desa Kundi, Bangka Belitung sebuah ruang geografis yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi. Dalam banyak studi pembangunan wilayah, daerah seperti ini sering disebut sebagai “pinggiran yang tertinggal secara akses dan peluang”.
Namun dari ruang yang dianggap terbatas itulah, Zizi memulai langkahnya.
Tahun 2019, ia merantau ke Yogyakarta. Ia tidak membawa modal besar, tidak membawa jaringan kuat. Ia hanya membawa satu hal yang sering diremehkan dalam bentuk keteguhan.
Di bangku kuliah S1 Ekonomi Islam di UII, ia tidak hidup dalam kenyamanan. Ia hidup dalam tekanan.
Ia bertahan.
Dan pada 2023, ia lulus dengan predikat cumlaude.
“Waktu itu saya pikir mungkin ini sudah cukup. Tapi ternyata, hidup belum mulai,” katanya.
Oktober 2023, ia memulai usaha dengan modal Rp 2 juta. Dalam perspektif ekonomi mikro, angka ini bahkan tidak cukup untuk membangun usaha yang stabil. Namun dalam realitas lapangan, banyak usaha kecil Indonesia justru lahir dari angka yang lebih kecil dari itu.
Zizi membuka warung sayur.
Ia menjadi sistem itu sendiri.
“Semua saya kerjakan. Dari cari barang, bikin rak, jaga toko, sampai delivery 24 jam. Kadang saya tidur cuma 2 jam kadang nggak sama sekali.” katanya.
Apa yang ia lakukan bukan sekadar berdagang. Ia sedang membangun rantai distribusi skala mikro sebuah sektor yang dalam laporan McKinsey disebut sebagai tulang punggung ekonomi urban Indonesia.
Namun, tidak semua perjuangan berdiri sendiri.
Di tengah tekanan itu, hadir seorang perempuan yang ia sebut sebagai bunga Jogja.
“Setiap pagi dia datang bawa sarapan. Dia bantu jaga toko, bantu delivery bahkan di tengah kuliah S2-nya.” katanya.
Dalam banyak studi tentang kewirausahaan, dukungan sosial menjadi faktor penentu keberhasilan. Apa yang terjadi pada Zizi bukan sekadar bantuan tetapi fondasi emosional yang menjaga keberlangsungan usaha.
“Orang lihat saya sekarang, tapi nggak lihat dia di belakang saya. Padahal tanpa dia mungkin saya sudah berhenti.” katanya.
Ketika usaha mulai berkembang, Zizi melakukan ekspansi:
Mendirikan PT (Juli 2024)
Meluncurkan aplikasi (Agustus 2024)
Membuka cabang baru
Semua gagal.
Dalam teori Lean Startup, fase ini disebut sebagai validasi yang gagal tetapi penting. Kegagalan bukan kehancuran, melainkan data.
“Jujur, itu titik paling berat. Tapi saya ingat satu hal, ibu saya belum saya bahagiakan.” katanya.
Narasi ini sederhana, tetapi dalam psikologi motivasi, tujuan berbasis keluarga terbukti lebih kuat dibanding tujuan material.
Alih-alih berhenti, Zizi memilih turun ke lapangan.
Ia belajar langsung dari petani di Magelang hingga Garut. Ia menyerap pengetahuan yang tidak diajarkan di kelas.
“Saya sadar, saya nggak tahu apa-apa. Jadi saya belajar langsung dari mereka,” katanya.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep experiential learning di mana pengalaman menjadi sumber utama pengetahuan.
Dari sana, ia tidak lagi sekadar menjual sayur.
Ia membangun sistem.
Akhirnya Pasar Mengakui
Perubahan itu datang perlahan.
Pesanan meningkat. Skala bisnis berubah.
Restoran, hotel, catering mulai bergantung pada distribusinya.
“Dari yang dulu nunggu pembeli, sekarang kami yang kewalahan,” katanya.
Omset menembus tiga digit per bulan.
Ia membeli mobil operasional. Tanpa utang.
Dalam lanskap UMKM Indonesia, ini bukan sekadar pertumbuhan tetapi ini adalah lompatan kelas ekonomi.
Namun, dalam semua angka itu, ada satu hal yang tidak bisa dihitung.
Doa ibu.
“Waktu saya bilang ‘Bu, kita umroh ya,’ ibu saya cuma diam. Terus nangis,” katanya.
Agustus 2025, ia menunaikan itu.
“Bisa mengumrohkan ibu itu rasanya kosong tapi penuh. Lega. Kayak selesai satu janji hidup.”
Dalam banyak kebudayaan Indonesia, keberhasilan tidak diukur dari kekayaan, tetapi dari kemampuan mengangkat orang tua.
“Semua ini karena doa ibu. Saya cuma jalan yang bukakan jalan itu Allah lewat doa ibu saya.” katanya lirih.
Pada 5 April 2026, Zizi akan menikahi perempuan yang selama ini menemaninya.
Bukan sekadar pasangan. Tetapi saksi perjalanan.
“Mahar saya sederhana. Seperangkat alat sholat, emas 50 gram, dan 1000 riyal semua dari hasil jualan sayur.” katanya.
Kesederhanaan itu justru menjadi simbol.
Bahwa setiap nilai yang ia berikan bukan berasal dari warisan, tetapi dari perjuangan.
“Dia ada dari nol. Jadi saya nggak pernah ragu, namun dia bagian dari perjalanan saya.” katanya pelan.
Hari ini, Zizi bukan lagi sekadar pedagang sayur.
Ia adalah representasi dari fenomena yang lebih besar:
Mobilitas sosial dari sektor informal
Transformasi ekonomi berbasis distribusi
Kekuatan spiritual dalam motivasi ekonomi
Ia memimpin tim. Ia melanjutkan S2. Ia menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun yang paling penting, ia mengubah definisi keberhasilan.
Di tengah narasi besar pembangunan yang sering melupakan pinggiran, kisah Zizi adalah koreksi.
Bahwa dari Desa Kundi, dari rak sayur sederhana, dari doa seorang ibu lahir seorang pemuda yang menolak tunduk pada keadaan.
“Kalau ditanya rahasia. Saya nggak punya. Saya cuma nggak berhenti dan saya nggak lupa kenapa saya mulai.” katanya.
Zizi Alqoorni bukan sekadar nama.
Ia adalah pesan.
Bahwa dari titik paling rendah, seseorang bisa berdiri lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan.












