Dua Lokasi, Satu Semangat: IPIM Basel Gelar Safari Ramadhan di Masjid Al-Magfiroh dan Tuhfatul Hidayat 1 Kecamatan beda Desa

Oleh: Yanto S, Pd.l M, Pd

Bekaespedia.com, Bangka Selatan Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momen yang penuh berkah, di mana kebaikan dan kebersamaan terasa semakin kental di setiap sudut masyarakat. Tidak terkecuali di Kabupaten Bangka Selatan, di mana Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Basel kembali menunjukkan komitmennya dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan keagamaan melalui kegiatan Safari Ramadhan. Pada tanggal 16 Ramadhan tahun ini, IPIM Basel melaksanakan kegiatan istimewa dengan menyambangi dua masjid sekaligus di lokasi yang berbeda namun dengan satu semangat yang sama: menyebarkan cahaya ilmu dan kebersamaan di bulan yang penuh kemuliaan ini. Dua masjid yang menjadi tujuan safari kali ini adalah Masjid Al-Magfiroh di Becah dan Masjid Tuhfatul Hidayat di Dusun Simpang Jawa (SPJ).

Kegiatan Safari Ramadhan di kedua lokasi ini dimulai secara bersamaan pada pukul 17.00 WIB. Suasana kehangatan dan antusiasme sudah terasa sejak sore hari, di mana para jamaah mulai berdatangan untuk mempersiapkan diri mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan. Di setiap masjid, acara berjalan dengan runtut dan penuh khidmat, dimulai dari persiapan buka bersama (bukber), dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Maghrib secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan sesi tausiah atau kultum, dan ditutup dengan pelaksanaan shalat Tarawih bersama.

Di Masjid Al-Magfiroh, Becah, kesempatan untuk menyampaikan tausiah diberikan kepada tokoh agama yang sangat dihormati, yaitu Ustaz H. Yasir Muhtar LC. Beliau hadir di tengah jamaah untuk berbagi ilmu dan nasihat yang penuh makna sebelum waktu buka puasa tiba. Suasana di masjid ini terasa sangat khidmat saat Ustaz H. Yasir Muhtar LC menyampaikan pesan-pesan kebaikan yang menyentuh hati para jamaah. Setelah selesai melaksanakan ibadah Tarawih, antusiasme para jamaah masih sangat terasa. Mereka tampak sangat menikmati setiap momen kegiatan ini, berbagi cerita dan kebersamaan, menunjukkan bahwa kegiatan Safari Ramadhan ini bukan hanya sekadar acara keagamaan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.

Sementara itu, di lokasi yang berbeda, tepatnya di Masjid Tuhfatul Hidayat, Dusun Simpang Jawa (SPJ), suasana juga tidak kalah meriah dan penuh kehangatan. Di masjid ini, giliran Ketua IPIM Basel, Ustaz Yanto M, Pd., yang bertugas untuk menyampaikan kultum kepada para jamaah yang hadir. Kedatangan Ustaz Yanto M, Pd. disambut dengan sangat antusias oleh warga setempat maupun para tokoh agama yang ada di lingkungan tersebut. Warga tampak sangat ramah, bahagia, dan terbuka dalam menyambut kedatangan rombongan IPIM Basel. Keramahan yang ditunjukkan oleh warga setempat menambah kehangatan suasana acara, membuat seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan sangat lancar dan menyenangkan.

Dalam kultumnya yang disampaikan di Masjid Tuhfatul Hidayat, Ustaz Yanto M, Pd. mengangkat tema yang sangat agung dan penuh makna, yaitu “Hikmah dan Peristiwa Besar Diturunkannya Al-Qur’an”. Tema ini dipilih tentu saja tidak tanpa alasan, mengingat bulan Ramadhan adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Ustaz Yanto M, Pd. memulai kultumnya dengan menegaskan bahwa turunnya Al-Qur’an bukan sekadar peristiwa sejarah biasa yang hanya perlu dicatat dalam buku sejarah, melainkan sebuah peristiwa agung yang telah mengubah arah peradaban manusia secara keseluruhan. Dari kegelapan menuju cahaya, dari kebingungan menuju petunjuk yang jelas, itulah dampak besar yang dibawa oleh kedatangan Al-Qur’an ke muka bumi ini.

Sebagai landasan dari pembahasannya, Ustaz Yanto M, Pd. mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Qadr ayat 1:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”

Dalam penjelasannya yang mendalam, Ustaz Yanto M, Pd. membagi materi kultumnya menjadi beberapa poin penting yang mudah dipahami oleh seluruh jamaah, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Poin pertama yang disampaikan adalah mengenai Peristiwa Besar: Turunnya Wahyu Pertama. Beliau menceritakan kembali bagaimana awal mula turunnya Al-Qur’an ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat di Gua Hira. Di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian itulah, malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama yang berupa perintah untuk membaca. Ayat pertama yang turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Yang artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Ustaz Yanto M, Pd. menekankan bahwa perintah pertama yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ini bukanlah perintah tentang kekuasaan, harta, atau hal-hal duniawi lainnya, melainkan perintah tentang ilmu. Hal ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Ilmu adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kebaikan, kemajuan, dan kebenaran. Oleh karena itu, setiap muslim, terutama generasi muda, haruslah memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu, sebagaimana perintah pertama yang diturunkan oleh Allah SWT.

Poin kedua yang disampaikan adalah mengenai Al-Qur’an Diturunkan di Malam Penuh Kemuliaan, yaitu Lailatul Qadr. Ustaz Yanto M, Pd. menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Qadr ayat 3:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya, satu malam di mana Al-Qur’an diturunkan memiliki nilai yang jauh lebih berharga daripada ibadah yang dilakukan selama lebih dari 83 tahun. Hal ini menunjukkan betapa besarnya rahmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia melalui turunnya Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah rahmat terbesar yang pernah diberikan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, sebuah petunjuk yang akan selalu menuntun manusia ke jalan yang benar selama-lamanya.

Selanjutnya, pada poin ketiga, Ustaz Yanto M, Pd. membahas tentang bagaimana Al-Qur’an Mengubah Zaman Kegelapan Menjadi Zaman Cahaya. Beliau menjelaskan bahwa sebelum Al-Qur’an turun, dunia berada dalam zaman jahiliyah yang penuh dengan kegelapan. Pada masa itu, banyak hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, seperti penyembahan berhala, penindasan terhadap kaum lemah, peperangan yang tidak memiliki moral, tidak adanya penghargaan terhadap perempuan, dan ilmu pengetahuan tidak dimuliakan sebagaimana mestinya. Namun, semuanya berubah ketika Al-Qur’an datang membawa cahaya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 1:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Yang artinya: “Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.”

Al-Qur’an datang untuk menghapuskan kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada pada masa jahiliyah dan menggantinya dengan nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Perempuan dihargai, kaum lemah dilindungi, ilmu dimuliakan, dan perdamaian menjadi tujuan utama. Itulah perubahan besar yang dibawa oleh Al-Qur’an, sebuah perubahan yang mengubah wajah dunia menjadi lebih baik dan lebih bermartabat.

Poin keempat yang disampaikan oleh Ustaz Yanto M, Pd. adalah mengenai Al-Qur’an Diturunkan Bertahap. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus dalam satu waktu, melainkan diturunkan secara bertahap selama kurun waktu 23 tahun. Tentu saja, ada hikmah besar di balik penurunan Al-Qur’an secara bertahap ini. Di antaranya adalah agar Al-Qur’an mudah dipahami oleh umat manusia, agar hati kaum mukmin semakin dikuatkan dalam menghadapi berbagai cobaan, dan agar hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an turun sesuai dengan kebutuhan umat pada masa-masa tertentu.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 106:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ

Yang artinya: “Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan.”

Penurunan yang bertahap ini juga memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk memahami, mengamalkan, dan menghayati setiap ayat yang turun dengan lebih baik dan lebih mendalam.

Pada poin terakhir, yaitu poin kelima, Ustaz Yanto M, Pd. menekankan bahwa Al-Qur’an adalah Mukjizat Terbesar Sepanjang Zaman. Beliau menjelaskan bahwa mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para nabi sebelumnya bersifat sementara dan hanya berlaku pada masa mereka hidup. Namun, Al-Qur’an adalah mukjizat yang terus hidup dan akan tetap menjadi mukjizat sampai hari kiamat nanti. Al-Qur’an menantang seluruh manusia untuk dapat membuat sesuatu yang semisal dengannya, bahkan hanya satu surat saja.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 23:

فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

Yang artinya: “Datangkanlah satu surat yang semisal dengannya.”

Hingga hari ini, tidak ada satu pun manusia yang mampu menandingi keindahan, kedalaman makna, dan kebenaran yang ada dalam Al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an benar-benar adalah firman Allah SWT yang tidak diragukan lagi keasliannya.

Di akhir kultumnya, Ustaz Yanto M, Pd. menyampaikan penutup yang sangat menyentuh hati. Beliau mengatakan bahwa turunnya Al-Qur’an bukan hanya sekadar untuk dibaca, tetapi juga untuk menghidupkan hati dan membangun peradaban yang lebih baik. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, obat yang menyembuhkan penyakit hati, dan cahaya yang menerangi kehidupan setiap orang. Oleh karena itu, orang yang dekat dengan Al-Qur’an sebenarnya sedang dekat dengan sumber hikmah terbesar yang pernah turun ke bumi ini. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang mencintai Al-Qur’an, membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Safari Ramadhan yang dilaksanakan oleh IPIM Basel di dua lokasi ini akhirnya berakhir dengan penuh kebahagiaan dan kepuasan bagi seluruh pihak yang terlibat. Antusiasme warga yang tinggi, keramahan yang ditunjukkan, serta ilmu yang bermanfaat yang disampaikan menjadi bukti bahwa kegiatan ini sangat positif dan bermanfaat bagi masyarakat. IPIM Basel berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di tahun-tahun yang akan datang, menjadi wadah untuk menyebarkan kebaikan, mempererat tali persaudaraan, dan membangun masyarakat yang semakin religius dan berkarakter. Semoga segala kebaikan yang telah dilakukan oleh IPIM Basel dan seluruh pihak yang terlibat dicatat sebagai amal ibadah yang mulia di sisi Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *