Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok,- Di wilayah kepulauan seperti Bangka Barat, pembangunan sering kali dibaca dari angka-angka pertumbuhan ekonomi, produksi perikanan, hingga statistik pendidikan. Namun di balik itu, ada lapisan tentang bagaimana manusia tumbuh, berpikir dan bertahan. Di titik inilah, nama Evi Astura kini diletakkan, bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai simpul dari dua gerakan mendasar yaitu konsumsi ikan dan literasi.
Pengukuhan Evi Astura sebagai Bunda Literasi sekaligus Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kabupaten Bangka Barat oleh Noni Hidayat Arsani, Selasa (21/4/2026), menghadirkan lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjadi penanda arah bahwa pembangunan daerah mulai bergerak ke ranah yang lebih mendasar yaitu kualitas manusia.
Di ruang itu, Bupati Bangka Barat, Markus, tidak menutup realitas yang selama ini menjadi paradoks daerah pesisir.
“Ini dapat menjadi motivasi dalam memberikan pemahaman pentingnya membudayakan makan ikan sebagai daerah kepulauan,” kata Markus.
Namun pernyataan itu segera berlanjut pada kegelisahan yang lebih konkret.
“Sangat miris, karena ikan menjadi primadona masyarakat kita, sehingga perlu membuat tempat pelelangan ikan. Sehingga diharapkan harga ikan lebih murah kita dapatkan,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan kontradiksi klasik wilayah kaya sumber daya tetapi ketersediaan tidak selalu berbanding lurus dengan akses. Dalam konteks Bangka Barat, ikan sebagai sumber protein utama belum sepenuhnya menjadi konsumsi yang merata. Harga, distribusi dan sistem pasar menjadi faktor yang memengaruhi.
Di sisi lain, literasi hadir sebagai persoalan yang tidak kalah kompleks. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca dan memahami justru menghadapi tantangan baru bukan sekadar akses, tetapi kualitas pemahaman.
Markus menegaskan bahwa pengukuhan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas.
“Pengukuhan bunda literasi dan Forinka hal ini merupakan bagian penting dari upaya pemerintah dalam dalam memperkuat sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” ujar Markus.
Ia mengaitkan dua isu tersebut dalam satu kerangka pembangunan manusia.
“Literasi sebagai pondasi pengetahuan serta konsumsi ikan sumber gizi berkualitas, merupakan dua pilar sterategis dalam membentuk masyarakat yang sehat, cerdas dan produktif,” katanya.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, pendekatan ini menunjukkan upaya mengintegrasikan aspek kesehatan dan pendidikan. Konsumsi ikan berperan dalam pemenuhan gizi, sementara literasi menjadi fondasi peningkatan kapasitas individu dalam mengakses peluang ekonomi dan sosial.
“Karena literasi itu sangat penting, keberadaan Bunda Literasi untuk memberikan pemahaman penting membaca anak dan pelajar kita. Agar rajin membaca, karena itu penting dibudayakan lagi,” harapnya.
Sementara itu, Forikan diarahkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola konsumsi yang sehat.
“Bunda literasi diharapkan mampu menjadi motor penggerak budaya literasi, sementara Forikan menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsumsi ikan,” tuturnya.
Pemerintah daerah, lanjut Markus, akan mengintegrasikan kedua gerakan tersebut dalam kebijakan yang lebih luas.
“Pemerintah daerah akan terus mendukung melalui berbagai kebijakan termasuk penguatan layanan literasi dan kampanye gemar makan ikan sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat dan pencegahan stunting,” jelasnya.
“Kami mengharapkan sinergi dan kolaborasi seluruh pihak agar gerakan ini dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Di luar narasi kebijakan, peran Evi Astura berada pada wilayah yang lebih subtansi untuk mengubah kebiasaan. Ia bekerja di ruang domestik dan sosial sekaligus, di meja makan keluarga, di ruang kelas, di komunitas dan di percakapan sehari-hari.
Sebagai Ketua Forikan, ia menghadapi tantangan untuk menjembatani produksi dan konsumsi. Bagaimana hasil laut benar-benar sampai ke masyarakat dengan harga yang terjangkau. Sebagai Bunda Literasi, ia dihadapkan pada tantangan menghidupkan kembali budaya membaca di tengah dominasi media digital yang serba cepat.
Dalam konteks Bangka Barat, dua peran ini tidak berdiri sendiri. Gizi yang cukup berkontribusi pada perkembangan kognitif, sementara literasi memperkuat kemampuan masyarakat dalam memahami informasi, termasuk terkait kesehatan dan pola konsumsi.
Dengan demikian, figur Evi Astura dapat dilihat sebagai bagian dari upaya membangun fondasi manusia secara utuh dalam fisik dan intelektual.
Di pesisir-pesisir Bangka Barat, nelayan tetap melaut seperti biasa. Di daratan, anak-anak tetap berangkat ke sekolah, membawa harapan yang sering kali lebih besar dari fasilitas yang tersedia. Kehidupan berjalan dalam ritme yang tidak berubah drastis.
Namun perubahan, dalam banyak kasus, memang tidak datang dengan dentuman. Ia hadir perlahan, melalui kebiasaan yang dibentuk, melalui kesadaran yang ditumbuhkan.
Jika upaya ini berhasil, maka dampaknya tidak hanya terlihat pada angka konsumsi ikan atau indeks literasi, tetapi pada kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Di titik itu, pengukuhan Evi Astura akan dikenang bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai bagian dari proses panjang pembangunan yang dimulai dari hal paling mendasar yaitu apa yang dikonsumsi tubuh dan apa yang dipahami oleh pikiran.












