Kontributor: Riszuan
Di tengah derasnya aliran sungai yang membelah pemandangan indah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), ada sosok yang dengan penuh keberanian melawan arus dan tantangan. Dia adalah Tri Yuda Prayoga, mahasiswa Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS) yang berasal dari Pangean, yang dengan gagah berani menjadikan “Jaluar Silancar Air” sebagai jalan menuju mimpi menjadi atlet pacu jalur yang bangga.
Ceritanya dimulai dari masa kecil yang penuh keinginan. Di kampung halamannya di Pangean, Tri Yuda sering melihat orang-orang bersenang-senang Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah ketika dia melihat atlet pacu jalur melesat di lintasan khusus, dengan kecepatan yang membuat napas terengah-engah dan hati berdebar. “Saya merasa seperti ingin terbang saat melihat mereka,” ujarnya sewaktu mengenang awal mula ketertarikannya.
Tidak ada jalan yang mulus menuju keberhasilan. Saat memutuskan untuk menjadi atlet pacu jalur, Tri Yuda menghadapi banyak hambatan: alat latihan yang terbatas, dan jadwal yang padat sebagai mahasiswa UNIKS. Semua itu menjadi tantangan yang harus dia lewati setiap hari.
Tapi dia tidak menyerah. Setiap pagi, bahkan sebelum matahari terbit, dia sudah mulai latihan di jalan raya yang masih sepi, menggunakan sepeda yang “silancar” dari teman-teman atau yang dia perbaiki sendiri. Dia menyebut sepedanya — dan juga timnya — sebagai “Jaluar Silancar Air” — karena seperti arus sungai yang tidak pernah berhenti mengalir, dia juga tidak pernah berhenti berjuang.
Kesungguhan Tri Yuda akhirnya membuahkan hasil. Dia mulai berpartisipasi dalam turnamen pacu jalur di tingkat Kabupaten, lalu Provinsi, bahkan nasional. Setiap kemenangan menjadi semangat baru, dan setiap kekalahan menjadi pelajaran berharga.
Sebagai mahasiswa UNIKS, dia juga membuktikan bahwa prestasi di lapangan olahraga tidak bertentangan dengan prestasi akademik. Dia selalu berusaha membagi waktu dengan baik antara belajar dan latihan, menjadikan dirinya contoh bagi teman-teman seangkatan.
“Jaluar Silancar Air bukan hanya nama, tapi juga filosofi hidup,” kata Tri Yuda dengan senyum penuh kebanggaan. “Seperti arus yang harus melawan batu dan tanaman yang menghalangi, saya juga harus melawan semua hambatan untuk mencapai tujuan. Dan saya yakin, dengan kerja keras dan doa, semuanya bisa tercapai.”
“Saya sangat senang dan bangga bisa menjadi bagian dari tim Jaluar Silancar Air. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga, teman-teman, dan pelatih yang telah mendukung saya sepanjang perjalanan ini. Saya juga ingin menginspirasi anak-anak muda di Kuansing untuk tidak pernah menyerah dan terus berjuang untuk mencapai mimpi mereka.”
Hari ini, Tri Yuda tidak hanya menjadi atlet pacu jalur yang dikenal di Kuansing, tapi juga sosok inspirasi bagi pemuda di daerahnya. Dia membuktikan bahwa asal-usul dan kondisi tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengejar mimpi. Jalan yang dia tempuh mungkin seperti “silancar air” yang berliku-liku, tapi setiap langkahnya adalah bukti kekuatan hati yang tak tergoyahkan. (BP/ KM)*
