Oleh : Adila Varisa (Siswa SDN 4 Namang)
Pulang sekolah Kiko tidak langsung pulang ke rumahnya. la terus memandangi kakek pemulung yang sedang mengambil botol bekas, kaleng maupun kardus yang ada di tong sampah milik tetangganya itu.
“Ada botol, kaleng atau kardus, dek?” tanya kakek pemulung pada Kiko ketika tepat di depan rumah kiko. Namun, kiko tetap tidak beranjak dari pandangannya. Setelah kakek itu tidak terlihat lagi, barulah Kiko memasuki rumahnya. Kiko tidak suka pada kakek tersebut. Pasalnya kakek tersebut mengatakan hal yang sebaliknya dan tidak sesuai kenyataan. Kakek pemulung itu mengatakan bahwa Kiko selalu baik kepada dirinya itu. Padahal Kiko selalu bersikap tidak sopan dan semena-mena ke pada dirinya. Rasa bersalah yang dirasakan Kiko itu tergantikan dengan rasa kesal yang muncul ketika hujan turun. Si kakek itu berteduh di garasi rumah Kiko. Ketika hujan reda, Kiko mendapatkan rumahnya kotor dengan sampah plastik. Terpaksa Kiko harus membersihkan garasi rumahnya.
Teman sekolah dan teman-teman kompleks rumah Kiko juga mengatakan kalau si kakek pemulung itu sangat kasihan. Pasalnya kakek tersebut tinggal sendirian di rumahnya yang kumuh itu. Sayangnya Kiko terlanjur kesal dan tetap pada pendiriannya. Sekali ia dikecewakan atau dirugikan orang lain maka ia akan merasa sangat kecewa.
Sabtu sore, Kiko sudah bersiap-siap dengan sepedanya.
“Mau ke mana, Kiko?” tanya kakak kepada Kiko.
“Aku mau bersepeda dengan teman-teman kak,” jawab Kiko pada kakaknya.
“Tapi ini masih gerimis, Kiko!” jelas kakak.
“Kami sudah janjian sama teman-teman kak!” bantah Kiko.
“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati saja mengendarai sepedamu itu. Karena hujan baru saja reda jalanan pasti masih licin. Kamu jangan jalan ke tengah ya Kiko!” nasihat kakak.
Kiko mengeluarkan sepeda dari rumah. la tidak mengindahkan nasihat kakaknya. la mengayuh sepedanya dengan kecepatan cukup tinggi karena ia takut ditinggal oleh teman-temanya yang berjanji akan ke taman bersama-sama. Sebelum berangkat ia sudah berjanji akan bertemu dengan teman-temanya di rumah Denis. Sekitar 150 meter lagi akan menuju ke rumah Denis, ia semakin mempercepat kayuhan sepedanya dan tiba-tiba ia melihat ada kucing di tengah jalan.
“BRUK.”
Ia pun terjatuh dan tidak berdaya. Tidak ada seorangpun yang berjalan atau pengendara sepeda motor di gang tersebut karena masih gerimis. Tangan dan kakinya terluka dan berdarah. la mencoba untuk berdiri namun sia-sia karena kedua kakinya terluka. Tiba tiba dari arah belakang ada orang yang menolongnya. Kiko menoleh ke belakang dan tidak disangka orang yang menolongnya itu adalah kakek pemulung. Kakek pemulung itu mengeluarkan kain yang sangat bersih. Ia membagikan menjadi dua bagian untuk membungkus luka itu. Kiko merasa harga dirinya di injak-injak. Dan ia ingin bertemu kakek pemulung tersebut karena ia ingin meminta maaf atas perbuatanya dan ucapan terima kasih karena telah membantunya dengan tulus. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.
