Masjid Al-Hidayah Tegal Rejo Mentok: Dari Santunan Ramadhan Lahir Misi Kemanusiaan untuk Anak-Anak Yatim

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Bekaespedia.com, Mentok,-Di tengah suasana khusyuk bulan suci Ramadhan, Masjid Al-Hidayah Tegal Rejo Mentok kembali meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya misi kemanusiaan. Senin (16/03/2026), masjid yang berdiri di kawasan Tegal Rejo Mentok itu menggelar santunan Ramadhan bagi 11 anak yatim dan piatu, 3 guru ngaji, serta 4 guru Madrasah Al-Hidayah, sebagai wujud kepedulian sosial masyarakat terhadap mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ketua Masjid Al-Hidayah, Sarbudiono, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Barat.

Bagi Sarbudiono, santunan Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah panggilan kemanusiaan yang lahir dari nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh agama.

“Ramadhan selalu mengingatkan kita bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Ia harus menjelma menjadi kepedulian kepada sesama manusia,” kata Sarbudiono kepada wartawan.

Santunan itu diberikan secara langsung kepada anak-anak yatim yang hadir di masjid sore itu. Beberapa dari mereka terlihat menunduk haru ketika menerima amplop kecil dari tangan para pengurus masjid.

Bagi Sarbudiono, momen tersebut memiliki makna yang sangat dalam.

“Ketika kita melihat senyum anak-anak yatim itu, kita menyadari bahwa perhatian sekecil apa pun dapat memberi kekuatan besar bagi mereka,” ujarnya.

Ia menuturkan bahwa gagasan santunan Ramadhan di Masjid Al-Hidayah lahir dari kegelisahan sederhana para pengurus masjid yang melihat masih ada anak-anak yatim di lingkungan sekitar yang membutuhkan perhatian masyarakat.

“Anak-anak yatim kehilangan sosok penting dalam hidup mereka. Karena itu masyarakat harus hadir, memberi rasa bahwa mereka tidak sendiri,” katanya.

Sebagai pemimpin masjid sekaligus pejabat yang menangani isu perlindungan anak di Bangka Barat, Sarbudiono berupaya menjadikan Masjid Al-Hidayah sebagai ruang sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Menurutnya, masjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga tempat menumbuhkan solidaritas sosial dan nilai kemanusiaan.

“Kita ingin masjid ini menjadi tempat di mana masyarakat belajar peduli, belajar berbagi, dan belajar menguatkan satu sama lain,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, tausiyah agama disampaikan oleh Pembina Masjid Al-Hidayah, Zumrowi Achyar, S.Ag., yang mengingatkan jamaah tentang kemuliaan memuliakan anak yatim dalam ajaran Islam.

Dalam ceramahnya, Zumrowi menekankan bahwa kepedulian terhadap anak yatim merupakan bagian penting dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

“Rasulullah mengajarkan bahwa orang yang memuliakan anak yatim akan mendapatkan kedudukan yang dekat dengan beliau di surga,” kata Zumrowi di hadapan para jamaah.

Menurutnya, santunan kepada anak yatim tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan anak-anak tersebut merasakan kasih sayang dari masyarakat.

“Memberi santunan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan mereka merasa memiliki keluarga besar di tengah masyarakat,” ujarnya.

Di hadapan anak-anak yatim yang duduk di barisan depan, Zumrowi kemudian menyampaikan pesan yang penuh harapan.

“Anak-anakku, jangan pernah merasa kecil hati karena keadaan. Banyak orang besar lahir dari kehidupan yang penuh ujian. Teruslah belajar, berdoa dan memiliki mimpi besar,” katanya.

Suasana masjid sejenak menjadi hening ketika pesan itu disampaikan. Anak-anak yang mendengarnya menatap ke arah mimbar dengan wajah serius.

Zumrowi kemudian menambahkan bahwa masa depan seseorang tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, tetapi oleh semangat, ketekunan dan akhlak yang baik.

“Siapa tahu di antara kalian kelak ada yang menjadi ulama, guru, pemimpin atau orang-orang besar yang membawa kebaikan bagi masyarakat,” ucapnya.

Menjelang waktu berbuka, langit Mentok perlahan berubah warna. Cahaya senja memantul di dinding masjid, sementara jamaah bersiap menyambut azan Magrib.

Di sudut ruangan, anak-anak yatim yang menerima santunan duduk bersama jamaah menikmati hidangan berbuka yang sederhana.

Di antara tawa kecil dan rasa syukur yang mengalir, suasana Ramadhan di Masjid Al-Hidayah terasa hangat oleh kepedulian.

Bagi Sarbudiono, kegiatan santunan ini adalah cara sederhana untuk menjaga nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.

Ia berharap tradisi tersebut dapat terus berlanjut dan bahkan berkembang di masa depan.

“Semoga semakin banyak anak yatim yang bisa kita bantu, semakin banyak guru ngaji dan guru madrasah yang mendapat perhatian dan semakin kuat pula rasa kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Di Masjid Al-Hidayah Tegal Rejo Mentok, Ramadhan tidak hanya hadir sebagai bulan ibadah. Ia menjelma menjadi ruang di mana nilai kemanusiaan dirawat, kepedulian sosial tumbuh, dan harapan bagi anak-anak yatim kembali dinyalakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *