Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok,-Peringatan Hari Buruh Internasional di Bangka Barat tahun ini bergerak pelan, tetapi meninggalkan gema yang panjang. Di Lapangan Parkir Timur Pemkab, Senin (4/5/2026), Bupati Bangka Barat, Markus, tidak sekadar menyampaikan pidato seremonial. Ia seperti sedang menulis ulang makna kehadiran negara di hadapan mereka yang selama ini bekerja dalam sunyi.
“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton. Ia harus hadir, mendengar, dan bertindak.” ujarnya, tenang namun tegas.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung lapisan makna. Ia bukan hanya janji, melainkan koreksi atas jarak yang kerap terbentang antara kebijakan dan kenyataan.
Tema “May Day Harmoni 2026: Hadir untuk Masyarakat, Sehat Bersama, Ekonomi Terjaga” di tangan Markus berubah menjadi lebih dari slogan. Ia menjadi refleksi tentang keseimbangan yang rapuh antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan manusia.
Data yang disampaikan Markus menguatkan gambaran itu. Sebanyak 109.046 pekerja dari total 220.242 penduduk Bangka Barat menjadi denyut yang menggerakkan roda daerah. Mayoritas berada pada usia produktif 20–44 tahun usia ketika harapan dan tanggung jawab bertemu.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah wajah ekonomi kita.” kata Markus.
Dalam satu kalimat, statistik berubah menjadi narasi kemanusiaan. Angka-angka itu bukan lagi deretan data, melainkan potret kehidupan tentang keluarga yang bergantung pada upah, tentang tenaga yang ditukar dengan waktu dan tentang harapan yang disematkan pada kerja.
Markus lalu membawa ingatan pada sejarah. Ia menyebut Haymarket Affair peristiwa yang melahirkan kesadaran kolektif buruh di dunia. Sejarah, dalam tafsirnya, bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin untuk membaca masa kini.
Di Indonesia, peringatan May Day telah dikenal sejak 1920. Lebih dari seabad kemudian, pertanyaan yang sama masih menggantung sejauh mana negara benar-benar berdiri di sisi pekerja?
Markus mencoba menjawabnya dengan cara yang tidak berisik. Ia tidak mengumbar janji besar, tetapi menekankan arah.
Bahwa buruh tidak boleh lagi diposisikan sebagai objek pembangunan. Mereka sebagai subjek yang bekerja, yang mencipta dan yang menjaga keberlanjutan ekonomi.
Dalam pidatonya, Markus memang sempat menyebut buruh sebagai “objek penting”. Namun dalam keseluruhan narasinya, terlihat upaya untuk menggeser cara pandang itu menuju pengakuan yang lebih setara.
“Hari buruh adalah momentum untuk menyatukan pandangan, merayakan capaian, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan pendekatan yang ingin merangkul, bukan memisahkan. Bahwa hubungan antara pemerintah dan pekerja bukan relasi atas-bawah, melainkan kemitraan yang saling membutuhkan.
Di hadapan Wakil Bupati, Forkopimda, kepala OPD, hingga pelaku UMKM, Markus membuka sambutannya dengan nuansa religius. Sebuah tradisi yang akrab dalam ruang publik Indonesia. Namun di balik itu, ia membangun garis tegas tentang kepemimpinan.
Bahwa pemerintah tidak boleh berjarak dari rakyatnya.
Visi “Berkeadilan, Makmur, Tangguh dan Bersahabat” menemukan pijakannya pada bagaimana buruh diposisikan. Bukan di pinggiran, melainkan di pusat.
Peringatan May Day di Bangka Barat tahun ini tidak menawarkan euforia. Ia lebih menyerupai ruang hening, tempat janji diuji oleh realitas.
Di tengah dinamika ekonomi, tekanan global dan tuntutan kesejahteraan yang terus meningkat, kehadiran negara menjadi kata kunci. Bukan sekadar hadir secara administratif, tetapi hadir secara nyata dalam kebijakan, perlindungan dan keberpihakan.
Markus menutup pidatonya dengan harapan sederhana dalam keberkahan bagi semua.
Namun yang tertinggal justru lebih dari itu.
Bahwa kepemimpinan tidak diukur dari seberapa banyak kata diucapkan, tetapi dari seberapa jauh ia menjangkau mereka yang bekerja.
Di Bangka Barat, pada peringatan May Day 2026, Markus sedang membangun satu hal yang lebih dalam namun penting kepercayaan bahwa negara, pada akhirnya akan benar-benar hadir.












