Oleh: Adnan Wachid
Bekaespedia.com,- Krisis kesenian daerah jarang bersumber dari matinya daya cipta para seniman. Di banyak tempat, krisis itu justru datang dari cara memperlakukan panggung dan memanggungkan para seniman : mengerdilkan kerja kebudayaan, mengabaikan ekosistem yang menghidupi, memperlakukan seniman hanya sebagai alat, serta menjadikan kesenian sekadar ornamen acara seremonial.
Di Pulau Bangka, sejarah seni pertunjukan teater adalah potret panjang tentang resiliensi. Ia adalah kisah perlawanan diam-diam terhadap keterbatasan sarana, himpitan ekonomi harian, dan keputusasaan negara dalam melihat persoalan ekosistem dengan istiqomah.
Sejak akhir dekade 1980-an, gelombang teater di Pulau Bangka merayap di berbagai kota/kabupaten, diantaranya : Mentok, Sungailiat dan Pangkalpinang. Teater di pulau ini tidak tumbuh di ruang hampa yang steril. Ia lahir, bernapas dan membentur realitas sosiologis masyarakat sembari merembes secara kritis pada trauma ekologis peninggalan panjang pertambangan.
Jejak Generasi: Dari Mitos, Tradisi hingga Panggung Sekolah
Merunut historiografi teater di Bangka sama seperti mengurai pergeseran fokus dan metodologi dari tiap generasi penggiatnya. Pada akhir 1980-an. H. Mochtar Lubis Ajmain bersama Sanggar Panglima Angin di Mentok menggalakan pertunjukan populer bertumpu pada cerita rakyat dan mitos lokal—seperti Raja Pekak dan Putri Gunung Menumbing—mereka meramu tari, musik, dan sandiwara menjadi pertunjukan yang ramah publik. Dari panggung ke panggung, teater di era ini menjadi medium hiburan sekaligus penjaga memori kolektif warga.
Tahun 1990-an awal, di Sungailiat, teater sekolah tumbuh merona menyemai karakter hidup untuk remaja. Ruang publik seperti Gedung Juang menjadi tempat bertemunya para pelajar. Ira Esmeralda bersama Teater Sukma (gabungan teater lintas pelajar), Agus, Jaka Filyama ikut serta merayakannya. Di Pangkalpinang, 31 Km dari Sungailiat. Pada pertengahan tahun90an, Willy Siswanto menginisiasi Festival Teater Pelajar se-Pulau Bangka. Festival ini di gelar di Gedung Hamidah. 84 Peserta tampil. Panggung teater sekolah kala itu tidak hanya menjadi sarana pembentukan karakter remaja, tetapi juga alat pendidikan kritis berdaya ledak krearif. Teater sekolah menjelma menjadi penyemaian awal wacana lingkungan dan kepekaan sosial bagi masyarakat.
Pascaberdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2000, para perantau seni mulai kembali ke kampung halaman membawa etos dan metodologi baru. Joko Hari Purnomo (Wak Joko) di Mentok mendirikan Sanggar Kampuseni, menggalang kolaborasi lintas elemen warga—salah satunya terwujud dalam garapan kolosal Opera Zamnah. Di Sungailiat, Ira Esmeralda menghadirkan Teater Akar Rumput. Sementara di Pangkalpinang, Willy Siswanto mengeksplorasi gubahan sejarah lokal menjadi pementasan yang kaya akan sosial situasional dan Mendiang Dr. (HC) Ibnu Hadjar memulai adaptasi teater tradisional Dulmuluk.
Memasuki rentang 2010–2019, dinamika teater semakin berwarna. Di satu sisi, kehadiran ajang kompetisi pemerintah memicu lahirnya teater beridiom lokal Begisah pada 2015. Di sisi lain, ruang-ruang eksperimental independen mulai bermunculan. Halaman Rumah Panggung di Mentok memulai kerja pendokumentasian folklore menjadi naskah drama/monolog, Bubung Project mengusung genre komedi Melayu, berkeliling dari kampung ke kampung; serta kelompok Ira Esmeralda mengadaptasi struktur dulmuluk ke dalam narasi lokal Putri Zamnah.
Dramaturgi Ekologis dan Tubuh yang Meriset
Ketika pandemi menghantam pada 2020, teater Bangka tidak lantas patah arah. krisis ini justru memicu lompatan metodologis. Berbekal media virtual dan jaringan nasional, hadir karya-karya responsif seperti program Jejak Virtual Aktor hingga pertunjukan Wayang Strip. Para seniman mengolah isu-isu harian masyarakat—dari dilema tokoh adat di tengah wabah hingga polemik vaksinasi—menjadi tontonan yang menggugah.
Tahun 2024, Lahirnya Pangkalpinang Art Laboratory (Partla) memulai pergeseran penting dalam dramaturgi teater Bangka hari ini: menguatnya praktik berbasis riset dan eksplorasi tubuh. Karya-karya kontemporer seperti Hilang Daratan dan Tetangga Masuk ke Kamar Tidurku bukan lagi sekadar hiburan visual. Narasi “tetangga” merangsek masuk ke “kamar tidur” menjadi metafora menusuk atas ekspansi industrialisasi dan eksploitasi alam. Menggusur ruang hidup paling personal milik warga Bangka.
Beragam macam teater di bangka telah tumbuh dari : Estetika tutur Melayu, keberpihakan pada teater kontekstual kerakyatan yang ramah panggung terbuka, eksperimentasi inter disiplin, serta dramaturgi ekologis tajam, menyuarakan luka lingkungan. Mewarnai perjalanan teater bangka dari akir tahun 80an hingga sekarang.
Ironi Fasilitas dan Strategi Gerilya
Di balik pencapaian artistik dan konseptual tersebut, masalah mendasar, membandel dari tahun ke tahun : ketiadaan gedung kesenian yang layak (workable). Gedung serbaguna milik pemerintah kerap kali tidak memenuhi standar teknis pertunjukan—baik dari tata cahaya maupun akustik—dan lebih sering dialihfungsikan untuk urusan administrasi atau hajatan formal.
Ketiadaan fasilitas publik ini tidak hanya membatasi ruang gerak fisik, tetapi juga menyeret para penggiat teater ke dalam dilema ketergantungan modal. Seniman terdesak mencari cara agar karya mereka tetap bisa didanai dan disaksikan publik. lahirlah estetika adaptif—di mana halaman rumah,
fasilitas umum, gedung tua, hingga jalanan disulap menjadi panggung gerilya.
Dilema ruang dan pendanaan ini kemudian membelah langkah penggiat teater ke dalam dua jalur strategi bertahan hidup:
1. Panggung Seremonial: Memanfaatkan agenda resmi pemerintah (seperti perhelatan olahraga atau kebudayaan) untuk mengakses modal, fasilitas, dan legitimasi publik,
2. Jalur Gerilya: Bergerak independen di luar panggung resmi demi menjaga kedalaman wacana, membeberkan isu lingkungan yang sensitif, dan menguji ide-ide eksperimental tanpa dibayangi sensor atau protokol birokrasi
Bertahan di Garis Tapak
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi keberlanjutan teater di Pulau Bangka bukanlah kelangkaan ide, melainkan daya tahan hidup (resilience) para pelakunya di tingkat tapak. Berbeda dengan kota-kota industri kreatif tempat seniman bisa menggantungkan hidup dari profesinya, penggiat teater di daerah harus bertarung menghidupi diri dari pekerjaan harian yang sering kali jauh dari dunia kesenian. Teater—sebuah proses yang menuntut latihan intensif dan kerja kolektif yang rumit—sering kali harus mengalah pada tuntutan perut dan ekonomi keluarga.
Ekosistem teater di lapangan pun kerap diuji oleh ketidaksinkronan tiga elemen utama: modal, ketersediaan SDM, dan urgensi isu. Ketika pendanaan dari pemerintah cair, para aktor sedang disibukkan oleh pekerjaan harian; ketika para aktor memiliki waktu untuk berkumpul, modal dan ruang latihan yang menipis; dan ketika modal serta SDM menyatu, pertunjukan rawan terjebak menjadi formalitas belaka tanpa kepekaan wacana.
Sejarah teater di Pulau Bangka selama lebih dari empat dekade adalah bukti nyata ketangguhan kultural. Para penggiatnya terbukti sanggup merawat tradisi, menyerap eksperimentasi modern di tengah keterbatasan fisik dan tekanan birokrasi. Tugas kita hari ini—terutama para pemangku kebijakan—adalah berhenti memandang seni pertunjukan sekadar sebagai pelengkap acara penyambutan tamu, pemotongan pita, dan mulai serius membangun sarana serta ekosistem yang bermartabat bagi mereka.
Adnan Wachid Adalah penulis dan sutradara teater yang memiliki ketertarikan terhadap teater dan pembacaan terhadap ruang. Ia memulai kerja teaternya di Yogyakarta bersama Emprit Sett Panggung 2011 & Kebeletteater tahun 2013. Berkeliling dan bermain di beberapa kota di Jawa dengan membawakan naskah AUT. Menyutradarai Kine Dumilah Nguda rasa di PTKSI & Hatedu Solo. Menulis naskah Bani Menunggang Batu (2017) dan menginisiasi malam seni di Bangka. Sebuah gerakan alternatif untuk berkesenian tahun 2018. Tahun 2020 Adnan mendirikan Halaman rumah panggung sebagai tempat berkumpul, bermain dan berjejaring.












