Oleh: Raisya Azzahra (Siswa SDN 4 Koba)
Namaku Raisya, siswi kelas 5 SD yang tinggal di kampung Baypss. Kampung tak terlalu besar namun kaya budaya dan cerita. Selalu ada tradisi yang diwariskan turun-temurun. Hanya saja belakangan ini aku merasa banyak hal yang berubah, bahkan beberapa tradisi tidak dilaksanakan di kampung kami.
Dulu setiap Maulid Nabi tiba kampung kami berubah menjadi lautan warna. Warna merah, kuning dan hijau yang berasal dari tudung saji, yaitu penutup dulang berbahan pandan. Biasany berjejer rapi di masjid, dari pintu masjid sampai pelantaran masjid itulah yang disebut nganggung.
Nganggung merupakan tradisi masyarakat Bangka Belitung, biasanya nganggung membawa dulang dari rumah masing-masing, berjalan kaki bersama, dan bersantap bersama di masjid. Tawa cerita dan percakapan hangat mengalir diantara warga kampung. Anak-anak kecil berlarian, sementara para orang tua berbagi kisah masa lalunya. Tidak ada sekat kaya atau miskin. Semua makanan dimakan dengan semangat.
Sepintu sedulang (satu pintu satu dulang). Nenek, yang kini usianya sudah senja terduduk di teras rumahnya yang bergaya modern. Matanya menatap nanar ke arah masjid di seberang jalan.
“Dulu, kakek dengan warga lainnya bergotong royong membawa dulang, walaupun berat tapi hati senang. Sekarang? Masjid sepi. Kalau ada acara orang lebih suka pesan katering, praktis. Dulang-dulang tua itu sekarang hanya jadi hiasan dinding di rumah-rumah mewah, bukan lagi wadah berkah.” Kenang nenek, sembari mengunyah sirih di mulutnya.
Modernisasi datang layaknya ombak pasang. Anak-anak kecil, muda, remaja lebih sibuk bergotong royong membawa dulang dirasa hanya membuang waktu. Nganggung dulunya adalah momen silahturahmi yang paling sakral untuk mendoakan almarhum, atau merayakan hari besar, kini mulai terlupakan.
Dulang-dulang kuno itu, pernah dibawakan oleh nenek moyang mereka dengan bangga, kini berdebu di gudang. Makna kebersamaan itu perlahan digantikan oleh kepraktisan dan individualis.
Diriku mengangguk pelan. “Iya, Nek, rasanya hangat, Nek. Seperti semua orang di kampung ini adalah keluarga.” Nenek mengangguk pelan.
“Itulah makna dari kebersamaan. Bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang kebersamaan.”
Sore itu, nenek melihat ke arah masjid. Hanya ada segelintir orang tua yang duduk, Tampa ada iring-iringan warga membawa dulang.
“Budaya kita sedang sakit, Raisya. Kita kehilangan gotong royong,” bisik Nenek pilu.
Di sudut ruang, tudung saji yang berwarna merah kusam itu tersimpan, menyimpan cerita di mana warga tidak makan sendiri-sendiri, melainkan makan dari satu nampan yang sama. Nganggung bukan hanya tentang budaya yang diwariskan turun-temurun, tetapi tentang kenangan yang dikembalikan oleh waktu.
“Aku baru sadar kalau tradisi ini penting. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?”
Aku melihat sekeliling. Membayangkan bisa melihat wajah-wajah bahagia. Aku ingin ceritakan kepada teman-temanku, dan suatu hari nanti akan ku ceritakan kepada anak-anakku, bahwa Bangka Belitung memiliki tradisi yang mengajarkan tentang berbagi dan persaudaraan. Nganggung bukan hanya tentang budaya, tetapi juga cahaya yang menyinari masa depan.
Dalam hati, aku berjanji sesuatu, kalau aku ingin menjaga tradisi ini agar tidak hilang. Selama masih ada orang yang peduli, selama masih ada tangan-tangan yang mau menumbuk lesung tua itu, selama masih ada dulang-dulang yang dibawakan dengan bangga, pasti tradisi Bangka Belitung akan tetap hidup. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.*
