Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok,-Di sebuah ruang pertemuan yang tenang di Hotel Yasmin Star Mentok, percakapan tentang sepak bola berubah menjadi lebih dari sekadar diskusi olahraga. Ia menjelma menjadi sebuah narasi besar tentang harapan, identitas daerah dan kepemimpinan yang ingin menyalakan kembali mimpi kolektif masyarakat.
Sabtu (7/3/2026), dalam rapat kerja tahunan PSSI Kabupaten Bangka Barat, Ketua PSSI Bangka Barat, Allani.S.E., berdiri di hadapan para pengurus, pelatih dan pemerhati olahraga daerah dengan satu pesan yang terus diulang yaitu sepak bola Bangka Barat harus bangkit, dan kebangkitan itu harus dimulai dari generasi muda daerah sendiri.
Bagi Allani, sepak bola bukan sekadar pertandingan di lapangan hijau. Ia adalah ruang sosial tempat identitas daerah dibentuk dan harapan anak-anak kampung menemukan arah.
Dalam wawancara usai rapat kerja, Allani menjelaskan bahwa organisasi yang ia pimpin sedang merancang fondasi baru pembinaan sepak bola daerah. Sebuah proses yang tidak instan, tetapi dibangun melalui tahapan seleksi, pembinaan dan pemusatan latihan yang dirancang secara sistematis.
“Dari hasil seleksi yang sudah kita lakukan sebanyak tiga kali, kita sudah mendapatkan 45 atlet. Nantinya mereka akan kita seleksi kembali hingga tersisa 23 pemain yang akan menjadi skuad utama,” ujar Allani.
Empat puluh lima pemain muda itu datang dari berbagai sudut Bangka Barat. Mereka adalah anak-anak desa, remaja sekolah dan pemain lokal yang selama ini tumbuh di lapangan-lapangan sederhana yang tersebar di wilayah kabupaten tersebut.
Di balik angka-angka seleksi itu, sebenarnya tersimpan cerita tentang mimpi yang sedang dipilih. Mimpi yang diharapkan suatu hari nanti akan berdiri sebagai tim yang mewakili Bangka Barat di panggung olahraga provinsi.
Proses seleksi itu sendiri dilakukan oleh tim teknis yang terdiri dari tiga orang penilai, termasuk seorang ketua tim seleksi yang bertugas memastikan bahwa pemain yang dipilih benar-benar memiliki kualitas dan potensi untuk berkembang.
Bagi Allani, proses ini penting bukan hanya untuk membentuk tim kompetitif, tetapi juga untuk membangun kepercayaan publik bahwa sepak bola Bangka Barat dikelola secara serius.
“Ini bagian dari komitmen kita untuk membangun tim yang benar-benar berasal dari Bangka Barat,” katanya.
Di tengah dunia sepak bola daerah yang sering diwarnai praktik mendatangkan pemain dari luar wilayah, PSSI Bangka Barat mengambil jalan yang berbeda.
Allani menegaskan bahwa seluruh pemain yang mengikuti seleksi adalah putra daerah Bangka Barat.
Keputusan ini bukan hanya soal regulasi kompetisi, tetapi juga sebuah pesan simbolik bahwa kebangkitan sepak bola daerah harus bertumpu pada kekuatan lokal.
“Kalau sesuai regulasi, kita tetap mengutamakan pemain lokal. Semua atlet yang kita seleksi adalah putra daerah Bangka Barat,” tegasnya.
Di banyak desa Bangka Barat, sepak bola memang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Lapangan-lapangan rumput yang kadang tidak rata menjadi tempat anak-anak berlari mengejar bola hingga matahari tenggelam.
Di tempat-tempat sederhana itulah, menurut Allani, masa depan sepak bola daerah sebenarnya sedang tumbuh.
Karena itu, setelah proses seleksi pemain selesai, PSSI Bangka Barat berencana memulai program pemusatan latihan atau training camp (TC) untuk membina para pemain muda tersebut.
Program latihan tersebut dijadwalkan dimulai setelah bulan Ramadan.
Namun berbeda dengan model pelatihan yang langsung memusatkan pemain di satu tempat, PSSI Bangka Barat memilih pendekatan bertahap dengan memanfaatkan beberapa lokasi latihan di wilayah kabupaten.
Beberapa daerah yang dipertimbangkan sebagai lokasi latihan di antaranya Kecamatan Jebus, Kecamatan Paritiga, Desa Penganak, serta kawasan olahraga di Pinang Jaya.
Bagi Allani, pendekatan ini memungkinkan tim pelatih memantau perkembangan pemain secara lebih luas sekaligus memanfaatkan fasilitas yang ada di berbagai wilayah.
“TC akan kita mulai setelah puasa. Untuk tahap awal kemungkinan masih dilakukan secara lokal, tidak langsung dalam satu tempat,” jelasnya.
Namun dalam rencana jangka panjang, PSSI Bangka Barat tetap berencana membentuk satu pusat pelatihan utama setelah penunjukan pelatih kepala atau head coach dilakukan.
“Kalau nanti sudah ada penetapan head coach, kemungkinan kita akan tempatkan TC di satu pusat latihan agar pembinaan lebih fokus,” tambahnya.
Di balik seluruh proses tersebut, ada satu target yang menjadi titik gravitasi dari semua rencana itu yaitu Porprov Bangka Belitung 2026.
Kompetisi olahraga provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang itu menjadi panggung yang ingin ditaklukkan oleh PSSI Bangka Barat.
Allani tidak menyembunyikan ambisi organisasi yang ia pimpin.
Ia bahkan menyebut bahwa target juara merupakan kesepakatan bersama antara PSSI Bangka Barat dan pemerintah daerah.
“Kita sepakat dengan Pak Wakil Bupati dan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat bahwa target kita adalah juara,” katanya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar ambisi olahraga. Ia juga menjadi bagian dari narasi besar tentang bagaimana sepak bola dapat menjadi simbol kebanggaan daerah.
Dalam banyak kesempatan, kemenangan di lapangan sering kali diterjemahkan sebagai kemenangan identitas. Sebuah cara bagi daerah untuk menunjukkan eksistensinya di tingkat yang lebih luas.
Bagi Allani, keberhasilan sepak bola Bangka Barat tidak hanya diukur dari trofi yang diraih.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut terletak pada lahirnya generasi muda yang memiliki semangat, disiplin dan rasa kebersamaan.
“Kita optimis. Harapan kita Bangka Barat bisa bergema. Bersama, bersatu, dan bergerak,” ujarnya.
Di luar ruang rapat Hotel Yasmin Star Mentok, kehidupan sepak bola Bangka Barat sebenarnya terus berlangsung.
Di desa-desa, anak-anak masih bermain bola di tanah berdebu. Di lapangan-lapangan kecil, sorak-sorai masyarakat masih terdengar setiap kali turnamen kampung digelar.
Di tempat-tempat itulah, mimpi tentang sepak bola sering kali lahir.
Rapat kerja PSSI Bangka Barat 2026 mungkin hanyalah satu pertemuan organisasi di kalender tahunan olahraga daerah.
Namun jika rencana pembinaan itu benar-benar berjalan, pertemuan itu bisa menjadi titik awal dari sesuatu yang lebih besar.
Sebuah perjalanan panjang menuju kebangkitan sepak bola Bangka Barat.
Di tengah narasi itu, nama Allani kini berdiri sebagai salah satu figur yang mencoba menuliskan bab baru tentang bagaimana mimpi-mimpi dari lapangan desa dapat diarahkan menuju panggung prestasi provinsi.












