Oleh: Iwan Sanjaya
Engkau abdi negara…
Tetaplah mengabdi, meskipun sekadar mengais sisa gaji.
Tetap waras jaga bakti harga diri, kala janji rayu posisi mengasumsi…
Kerja bakti…
Seribu kali lebih bermakna dari sejuta kebaikan arti.
Hitam badan sengatan halus di pori, terpapar panasnya bumi.
Angkat topi, sungkem bukti para kesatria kuli, bekerja dari hati untuk nasi dan rezeki. Tanpa merengek posisi.
INSTITUSI, DIPLOMASI, BIROKRASI. Bahkan tidak lebih baik dari tahi sapi, yang mampu simpulkan senyum petani, asri hijaukan padi.
Ciptakan peraturan bersanksi antipati, tekan tupoksi abaikan solusi manusiawi hak maha tinggi.
Ujar janji sinonim mimpi, celah yang dicari-cari.
Timbun laba upeti, koalisi bernomor seri retakkan ginjal babi…
Engkau abdi negara…
Kalahkan jika nyali, atau keluar dari dinasti pemuja candi berdasi penghuni gedung maha sakti.
Forum diskusi mosi mengikat opini, satu seruan hak-hak hakiki profesi.
Terbayangkan aksi yang berapi-api ternyata hanya simulasi terhindar dari mutasi reposisi. Lari sembunyi amankan diri, bergumam lupa di mana teman-teman yang berdiri satu misi…
Engkau abdi negara…
Kredibilitas kuasai materi bukan ilmu pasti, si kosong yang pandai berdiri di satu silsilah yang terakreditasi, seolah benar teruji.
Idealisme sarjana yang berpotensi tak sempat berinovasi, terjebak sistem regulasi penuh koreksi, gagal persentase naikkan volume pundi pribadi.
Terpatri berkalang zaman jadi tradisi.
Kargo embrio akademi titipan terinkubasi, lelang angka laba pembagi kursi komisi.
Aromasi fantasi fiksi ‘Janjinji’, pasti berganti dinasti beda generasi.
Engkau abdi negara…
Akademisi baru beda janji, kembali berotasi lagi, prestasi tuna aksi. Koleksi properti trending popularity. Jual paksa rongga nasi dan alibi yang dianggap bergizi, kekuasaan isi tas, estafet baru berganti.
Dalih dimedia habis masa bakti, tampak bersih dan teruji… Keji ketamakan terekam saksi bukti, dihujam sepi dalam sangkar besi, depresi hipertensi hingga mati terbagi janji.
