Bekaespedia.com, Simpang Rimba, – Sebuah kebanggaan besar hadir bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya di Bangka Selatan. Para siswa-siswi SMP Negeri 1 Simpang Rimba berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan meraih predikat “The Most Active Students on Kindness Chain Project”. Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas negara yang melibatkan 30 sekolah dari 18 negara, dan menjadi bagian dari Emerging Pedagogical Practices dengan pendekatan pembelajaran inovatif yang menekankan kerja sama global, penguatan karakter, dan pengalaman belajar autentik berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Berbeda dari kegiatan pembelajaran pada umumnya, projek ini dilakukan selama 10 hari dengan target para siswa mencoba melakukan 10 hari kebaikan sesuai projeknya masing-masing. Puncak kegiatan projek ini dilaksanakan pada malam hari pukul 21.00 waktu Indonesia Barat melalui Zoom, karena harus menyesuaikan dengan zona waktu Amerika Serikat.
Tantangan perbedaan waktu tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa SMPN 1 Simpang Rimba. Justru sebaliknya, mereka menunjukkan komitmen luar biasa untuk berpartisipasi aktif. Para siswa berlatih komunikasi lintas budaya, menyiapkan presentasi, dan membiasakan diri dengan teknologi daring global.
Kegiatan ini dibuka dengan pemaparan materi inspiratif bertema “World Kindness” yang disampaikan langsung oleh Prof. Jelena Kovacevic dari Kroasia. Dalam pemaparannya, Prof. Jelena mengajak para peserta dari berbagai negara untuk merenungkan pentingnya kebaikan sebagai bahasa universal. Ia menekankan bahwa tindakan sederhana seperti menolong, menghargai, dan berbagi dapat menjadi fondasi utama dalam membangun perdamaian dunia.
Keterlibatan SMPN 1 Simpang Rimba dalam kegiatan internasional ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya dapat diterapkan di sekolah-sekolah besar di kota, tetapi juga dapat tumbuh subur di sekolah yang terletak di wilayah pedesaan. Apresiasi dan dukungan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kab. Bangka Selatan memberikan motivasi bahwa “ini merupakan momen bersejarah dan merupakan proses pembelajaran pertama kali yang mampu berkolaborasi lintas negara bagi pendidikan di Bangka Selatan”, tutur Pak Anshori, S.Ap.,M.Si. Kepala Dindikbud Kab. Bangka Selatan. Penyampaian motivasi dari Kadindikbud pun diunggsh di Tiktok @dindikbudbasel. Melalui projek Kindness Chain ini, para siswa tidak hanya belajar tentang teori kebaikan, tetapi juga mempraktikkan dan merefleksikan nilai-nilai tersebut melalui kerja sama global.
Guru pembimbing sekaligus guru bahasa Inggris di SMPN 1 Simpang Rimba, Pak Jamjam Sapaat, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual.
“Dari hasil kerjasama antar guru bahasa Inggris di sekolah kami, kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak di daerah pun memiliki potensi besar untuk berkolaborasi di tingkat dunia. Kegiatan ini bukan sekadar projek internasional, tetapi juga proses pembentukan karakter dan kepemimpinan murid,”
Pendekatan ini sejalan dengan Pembelajaran Mendalam dengan harapan agar tercapai 8 Dimensi Profil Lulusan, terutama dalam dimensi beriman dan bertakwa, gotong royong, serta bernalar kritis. Melalui pengalaman lintas negara, para siswa belajar bagaimana berpikir reflektif, menghargai perbedaan budaya, dan memecahkan masalah secara kolaboratif.
Prestasi ini juga mencerminkan penerapan nyata dari tiga bentuk asesmen pembelajaran mendalam dalam Kurikulum Merdeka, yang menilai bukan hanya hasil akhir, tetapi juga proses berpikir dan keterlibatan murid.
1.Assessment as Learning
Pada tahap awal, para siswa mengikuti tes pengetahuan awal secara daring yang dipandu langsung oleh Prof. Jelena Kovacevic. Hasilnya, salah satu siswi SMPN 1 Simpang Rimba, Duwi, berhasil di peringkat 4 setelah siswa dari India pertama, Vietnam kedua dan Turkey ketiga. dari seluruh peserta internasional. Tes awal ini bukan sekadar tes, tetapi juga sarana refleksi diri bagi siswa untuk mengenali sejauh mana pemahaman mereka terhadap tema kebaikan global.
2. Assessment for Learning
Selama proyek berlangsung, murid-murid menunjukkan partisipasi yang luar biasa aktif dalam setiap sesi kolaborasi, diskusi, dan tugas lintas negara. Konsistensi dan kolaborasi mereka mengantarkan mereka pada penghargaan sebagai “The Most Active Students on Project”. Asesmen ini berperan sebagai umpan balik yang memperkuat proses projek dan kemampuan beradaptasi mereka dalam konteks global.
3. Assessment of Learning
Puncaknya, tiga siswa dari SMPN 1 Simpang Rimba Alif Zaidi Aufa kelas 8C, Kanza Olivia kelas 9A dan Duwi kelas 9C berani tampil secara langsung dalam sesi refleksi akhir proyek di hadapan para juri internasional dan Prof. Jelena. Mereka mempresentasikan hasil pembelajaran dan pengalaman mereka dengan percaya diri. Momen ini menjadi bukti bahwa keberanian berbicara di forum internasional dapat tumbuh melalui pembelajaran yang berpusat pada murid.
Para siswa yang terlibat mengaku bahwa pengalaman mengikuti proyek lintas negara ini merupakan momen yang sangat berharga dan membuka wawasan mereka tentang arti sebenarnya dari belajar.
Salah satu peserta, Kanza mengungkapkan “Awalnya saya sangat gugup karena harus berbicara dengan teman-teman dari negara lain memakai bahasa Inggris. Tapi setelah mendengar cerita dan melihat semangat mereka, saya sadar bahwa kebaikan itu bisa dimengerti oleh semua orang”.
Sementara itu, Alif, salah satu peserta aktif lainnya, menuturkan “Kami belajar bekerja sama dengan teman dari berbagai negara, belajar menggunakan teknologi, dan berbicara di depan banyak orang. Saya jadi percaya diri bahwa anak dari sekolah kecil pun bisa ikut berperan dalam kegiatan internasional.”
Melalui pengalaman ini, siswa-siswi SMPN 1 Simpang Rimba berhasil mengasah kemampuan abad ke-21, seperti komunikasi lintas budaya, kolaborasi global, literasi digital, serta pemikiran kritis dan kreatif. Mereka belajar mengelola perbedaan waktu, memecahkan masalah bersama, dan menyampaikan ide secara efektif melalui media digital.
Keikutsertaan SMPN 1 Simpang Rimba dalam Kindness Chain Project membuktikan bahwa semangat belajar dan kolaborasi dapat menembus batas geografis. Di tengah era disrupsi yang menuntut kreativitas, adaptabilitas, dan empati, para siswa ini telah menunjukkan wajah baru pendidikan Indonesia yang menguatkan nilai kemanusiaan sekaligus mempersiapkan generasi global.
Projek ini menjadi simbol bahwa pembelajaran mendalam bukan hanya tentang teori dan ujian, tetapi tentang membangun hubungan, menumbuhkan karakter, dan menebarkan kebaikan. Dari sekolah di tengah perkebunan sawit ujung Kab. Bangka Selatan, lahirlah pesan yang menggema ke seluruh dunia bahwa setiap tindakan kecil penuh makna bisa menjadi bagian dari perubahan besar bagi kemanusiaan.












