Rusian: Pembangunan Tempilang Dari Musrenbang ke Infrastuktur dan SDM Berkelanjutan

Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab, Satrio

Bekaespedia.com, Tempilang,- Di Gedung Serba Guna Tempilang, Selasa (24/2/2026), Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan bukan sekadar rapat anggaran. Ia menjelma menjadi panggung di mana Camat Rusian menenun narasi pembangunan di antara irigasi retak, tambang ilegal dan mimpi anak-anak desa yang ingin sekolah tanpa bocor atap.

Forum itu dihadiri perwakilan Bapprida Bangka Barat, aparat kepolisian, tenaga kesehatan, penyuluh pertanian, tokoh desa, hingga ibu-ibu PKK. Namun di balik daftar hadir itu, ada satu tema yang mengendap di udara yaitu bagaimana Tempilang membangun tanpa kehilangan tanahnya.

“Musrenbang adalah ruang aspirasi dari bawah ke atas. Kita rancang pembangunan yang cermat demi Bangka Barat Bermartabat,” kata Rusian, membuka diskusi dengan suara datar yang terasa seperti doa panjang.

Bagi warga Bangka Barat, pembangunan bukan sekadar jalan beton. Ia juga tentang tanah yang berlubang akibat tambang timah ilegal, laut keruh yang membuat nelayan pulang dengan jaring kosong dan sawah yang retak karena air tak lagi datang.

Laporan Mongabay Indonesia menyebutkan bahwa tambang ilegal di Bangka telah mempercepat kerusakan lahan, memperparah kemiskinan desa, dan merusak sumber air bersih.

“Kerusakan lingkungan akibat tambang berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga desa,” tulis laporan investigatif Mongabay tentang Bangka.

Di Musrenbang Tempilang, isu itu muncul dalam bisik-bisik kepala desa.

Seorang petani dari Desa Air Lintang berkata lirih:

“Kami butuh irigasi, bukan hanya tambang yang pergi meninggalkan lubang.”

Rusian mencatat usulan itu di map lusuhnya.

Ia tahu pembangunan tanpa lingkungan hanya akan melahirkan kemiskinan baru.

“Kita tidak bisa membangun hanya dengan beton. Kita harus membangun manusia dan menjaga alam,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi pembangunan moral sekaligus branding kepemimpinan Rusian sebagai camat yang ingin dikenang karena keberanian merawat bumi.

Di pojok ruangan, ibu PKK menghitung biaya perbaikan jalan. Guru honorer membawa proposal ruang kelas bocor. Nelayan menulis usulan dermaga kecil.

Musrenbang bukan angka. Ia adalah wajah manusia.

Penelitian Universitas Gadjah Mada dalam jurnal Public Administration Quarterly menyatakan:

“Perencanaan partisipatif efektif bila masyarakat dilibatkan sejak awal dan transparansi dijaga.”

Rusian mencoba menjadikan teori itu kenyataan.

Ia memanggil kepala desa satu per satu. Mendengar tanpa memotong. Menulis tanpa tergesa.

Dalam dunia birokrasi yang sering dingin, ia mencoba menjadi jembatan antara meja anggaran dan dapur rakyat.

Itulah panggung pencitraan namun bukan citra kosong.

Data Badan Pusat Statistik Bangka Barat menunjukkan beberapa desa di Tempilang masih kekurangan akses air bersih dan fasilitas pendidikan.

Di luar gedung, jalan tanah masih becek. Anak-anak masih berjalan jauh ke sekolah.

Musrenbang menjadi janji.

Pertanyaannya: apakah janji itu akan hidup di APBD?

Rusian menjawab dengan diplomasi yang hati-hati:

“Kita kawal bersama. Tanpa pengawasan masyarakat, pembangunan hanya akan jadi angka di atas kertas.”

Di sinilah citra kepemimpinan diuji.

Musrenbang Tempilang 2026 menampilkan citra kuat personal Rusian:

1. Pemimpin Partisipatif

Ia membuka ruang suara desa, menekankan bottom-up planning.

2. Pemimpin Humanis

Fokus pada pendidikan, kesehatan, irigasi dan kesejahteraan rakyat kecil.

3. Pemimpin Hijau

Berani menyinggung dampak tambang ilegal dan pentingnya menjaga alam.

Di tengah krisis lingkungan Bangka, branding ini memberi Rusian posisi moral sebagai camat yang berbicara tentang pembangunan berkelanjutan.

Ketika forum selesai, kursi dilipat. Proposal kembali ke tas lusuh. Lampu dimatikan.

Namun di Gedung Serba Guna Tempilang, satu hal tertinggal yaitu keyakinan bahwa pembangunan bukan sekadar proyek, tetapi janji antara pemimpin dan bumi.

Di tengah janji itu, nama Rusian perlahan tumbuh sebagai simbol pemimpin lokal yang mencoba menyulam mimpi tanpa melupakan tanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *