Oleh : Ustaz Rokhman Solekh, S.E.I., Gr – Kepala SMP NU Toboali
“Seorang santri hendaknya membersihkan hatinya dari hal yang dapat mengotorinya seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat dan perangai yang buruk” (KH. Hasyim Asy’ari)
Santri adalah seorang yang sedang menuntut ilmu, khususnya ilmu agama Islam. Dan membersihkan hati dari hal-hal yang menjadikan penyakit hati itu merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang santri. Sehingga apa yang dipelajari bisa diterima dalam hati.
Dalam menuntut ilmu seorang santri membutuhkan niat yang ikhlas Lillahi Ta’ala. Dengan demikian hal-hal yang dapat mengganggu atau menghalangi seorang santri untuk menuntut ilmu harus dibuang jauh-jauh dan bahkan harus dihindari.
Salah satu syair yang ditulis oleh Imam Syafi’i ُ
Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku. Lalu ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Dan ia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
Ilmu bagaikan cahaya yang dapat menyinari hati untuk dapat melakukan hal-hal yang baik. Dan salah satu penghalanya adalah sebuah kemaksiatan yang dilakukan yang dapat menimbulkan kesulitan dalam menuntut ilmu.
Dalam kehidupan nyata di pesantren seorang santri harus saling menghormati, menghargai dan saling memberikan dukungan kepada sesama dalam segala hal. Namun jika seorang santri memiliki sifat atau penyakit hati seperti dendam, iri, dan dengki maka akan menjauhkan dirinya dari pergaulan bersama teman-temannya.
Salah satu tujuan seorang santri selain menuntut ilmu adalah membahagiakan orang tuanya. Maka cara terbaik utnutk membahagiakan orang tua adalah dengan belajar sungguh-sungguh dan mengikuti aturan berlaku sehingga dapat menerima ilmu dengan baik. Sebaliknya seorang santri yang banyak memiliki sifat atau penyakit hati akan berdampak terhadap proses belajar di pesantren, sehingga justru menyulitkan sendiri dalam proses mencari ilmu,
