Armizi,S.Ag.,M.E., Kabid Usaha Mikro Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Bangka Barat
Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
Bekaespedia.com, Mentok, Senja di pesisir Mentok datang pelan seperti doa yang dititipkan angin laut. Langit merah keemasan memantul di atap tenda-tenda Pasar Ramadhan yang baru dipasang oleh Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Bangka Barat. Di sana, di antara deretan meja kayu sederhana dan lampu-lampu kecil yang menggantung seperti kunang-kunang kota, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat sedang menulis satu narasi besar yaitu kebangkitan ekonomi rakyat lewat Pasar Ramadhan.
Program Pasar Ramadhan yang digelar di lima kecamatan bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Ia diproyeksikan sebagai simbol kebijakan pembangunan citra kerja nyata pemerintah yang ingin terlihat dekat dengan rakyat kecil, hadir di dapur-dapur mereka dan menyalakan kembali mimpi-mimpi usaha mikro yang sempat redup.
Kepala Bidang Usaha Mikro (UMI) DKUP, Armizi, mengatakan Pasar Ramadhan dirancang sebagai strategi pembangunan ekonomi berbasis komunitas.
“Pemerintah memfasilitasi tenda usaha bagi UMKM sejak 1 hingga 27 Ramadhan di kecamatan seperti Mentok, Kelapa, Tempilang, Simpang Teritip dan Paritiga. Kami ingin memastikan pelaku usaha kecil memiliki ruang ekonomi yang layak,” ujarnya, Jumat (20/02/2026).
Bagi Armizi, Pasar Ramadhan adalah bahasa sederhana dari kebijakan besar. Ia adalah cara pemerintah menunjukkan keberpihakan pada rakyat kecil tanpa pidato panjang, tanpa jargon birokrasi.
Di tengah tantangan ekonomi daerah berbasis komoditas timah dan sawit, pemerintah Bangka Barat membutuhkan simbol keberhasilan pembangunan yang mudah dilihat masyarakat. Pasar Ramadhan menjadi panggung itu.
Dengan dukungan lintas OPD serta kolaborasi dunia usaha seperti Bank Sumsel Babel, PT Timah, PLN, dan Honda, pemerintah membangun narasi bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya lahir dari kantor pemerintahan, tetapi dari kerja bersama.
“Sinergi ini menunjukkan pemerintah hadir sebagai fasilitator dan motor penggerak ekonomi rakyat,” kata Armizi.
Di balik kata-kata itu, tersimpan strategi pencitraan yang halus untuk menghadirkan pemerintah dalam bentuk konkret dengan tenda gratis, promosi produk, pengamanan lokasi, hingga dukungan sponsor.
Pasar Ramadhan menjadi bukti visual bahwa kebijakan bisa dilihat, dirasakan, bahkan dicium dari aroma kolak pisang yang mengepul.
Program Pasar Ramadhan tidak berdiri di ruang kosong. Ia ditempatkan dalam bingkai kebijakan nasional penguatan UMKM.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60 persen PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Laporan Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat usaha mikro menjadi tulang punggung ekonomi daerah, terutama di wilayah berbasis komoditas seperti Bangka Belitung.
Kajian Bank Indonesia juga menilai aktivitas ekonomi Ramadhan mampu meningkatkan konsumsi domestik dan memperkuat rantai pasok lokal.
Armizi menilai data itu sebagai legitimasi kebijakan lokal.
“Kami ingin Pasar Ramadhan menjadi momentum pemberdayaan ekonomi rakyat. Ini bukan sekadar jual beli takjil, tetapi pembangunan UMKM berbasis komunitas,” katanya.
Ketika matahari tenggelam di Mentok, suara azan hampir bersahut dengan suara minyak panas di wajan gorengan. Di bawah tenda Pasar Ramadhan, seorang ibu menjual kue talam. Ia berkata bahwa penghasilan dari pasar ini membantu membayar uang sekolah anaknya.
Di tenda lain, seorang pemuda menjual es kopi susu dengan logo sederhana di gelas plastik. Ia baru saja kehilangan pekerjaan di sektor tambang. Pasar Ramadhan memberinya kesempatan kedua.
Seorang nelayan membawa ikan hasil tangkapan pagi, diolah menjadi pepes dan sate ikan. Ia berharap Ramadhan ini bisa menutup utang bulan lalu.
Cerita-cerita kecil itu menjadi narasi besar tentang pembangunan ekonomi rakyat.
Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukkan pasar komunitas lokal mampu meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga dan memperkuat jaringan sosial masyarakat.
Di Bangka Barat, teori itu hidup dalam kenyataan. Di bawah tenda sederhana, ekonomi kecil menemukan napas baru.
DKUP Bangka Barat tidak menutupi ambisi besar program ini. Pasar Ramadhan diproyeksikan sebagai ikon kebijakan yang menunjukkan komitmen pemerintah terhadap UMKM.
Armizi menyebut pemerintah juga menggandeng dinas kebudayaan dan pariwisata untuk mempromosikan kuliner lokal agar Pasar Ramadhan menjadi destinasi wisata kuliner tahunan.
“Kami ingin Bangka Barat dikenal sebagai daerah yang berpihak pada UMKM,” ujarnya.
Narasi ini diperkuat oleh laporan media seperti Kompas dan Antara yang mencatat omzet pedagang Ramadhan di berbagai daerah meningkat signifikan.
Dengan menempatkan Pasar Ramadhan sebagai simbol pembangunan, DKUP membangun citra pemerintah yang dekat dengan rakyat. Sebuah propaganda pembangunan yang lembut, dibungkus dalam suasana religius dan kebersamaan.
Di Bangka Barat, Pasar Ramadhan adalah panggung politik ekonomi rakyat.
Di sana, pemerintah dan masyarakat bertemu dalam bahasa yang sederhana: jual beli, senyum, dan harapan.
Di sana, kebijakan berubah menjadi cerita. Ia menjadi sepiring kolak hangat untuk anak yang menunggu buka puasa. Ia menjadi uang sekolah dari hasil jualan gorengan. Ia menjadi bukti bahwa pemerintah ingin terlihat hadir, dekat dan peduli.
Pasar Ramadhan bukan hanya pasar. Ia adalah simbol keberpihakan pemerintah pada ekonomi kecil.
Armizi optimistis Pasar Ramadhan akan membawa dampak jangka panjang.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi tradisi ekonomi rakyat yang terus tumbuh setiap tahun,” katanya.
Di bawah lampu tenda yang sederhana, pemerintah Bangka Barat menanam harapan bahwa UMKM bukan sekadar angka statistik, tetapi masa depan daerah.
Di balik setiap bungkus takjil, ada mimpi keluarga kecil. Di balik setiap meja kayu, ada kebijakan yang ingin dikenang masyarakat.
Ramadhan di Bangka Barat bukan hanya bulan ibadah. Ia adalah musim pembangunan dari bawah. Dari tangan rakyat, dari dapur sederhana, dari kebijakan yang ingin dilihat nyata.
Ketika malam turun di Mentok, lampu-lampu Pasar Ramadhan tetap menyala seperti doa yang tidak pernah padam menyampaikan pesan yang ingin ditulis DKUP Bangka Barat dalam ingatan masyarakat bahwa di bawah tenda sederhana pun, pembangunan bisa tumbuh, citra pemerintah bisa hidup dan harapan ekonomi rakyat bisa kembali bernapas.












