Zakat sebagai Jalan Pembangunan: Dari Masjid Agung Mentok, Negara Belajar Hadir untuk Umat Bangka Barat

Oleh: Belva Al Akhab, Satrio, dan Tim

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat, Pagi itu, Masjid Agung Baiturrahman Mentok tidak hanya dipenuhi suara doa dan lantunan ayat suci. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan antara negara dan rakyatnya, antara iman dan kebijakan, antara harapan dan kenyataan hidup yang selama ini kerap terpinggirkan dari narasi pembangunan.

Karpet merah terhampar rapi. Jamaah duduk bersila dengan wajah yang beragam. Lansia dengan tubuh renta, ibu-ibu dengan tatapan penuh harap, anak-anak yang menggenggam kertas dan kuas kecil. Di ruang ibadah itu, zakat menemukan maknanya yang paling konkret bukan sebagai angka dalam laporan, melainkan sebagai praktik pembangunan yang bekerja langsung menyentuh kehidupan.

Hari itu, Selasa (20/01/2026), bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-25 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia, negara tidak hadir dalam wujud proyek fisik, baliho besar, atau pidato berlapis jargon. Negara hadir melalui zakat yang dibagikan, kesehatan yang dilayani dan martabat yang dipulihkan.

Di Mentok, zakat tidak sekadar disalurkan, ia dihidupkan.

Di barisan depan, Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, berdiri mewakili Bupati Bangka Barat. Namun pagi itu, posisinya tidak sepenuhnya berada di atas mimbar. Ia lebih sering terlihat turun, menyapa dan berinteraksi dengan para penerima manfaat.

“BAZNAS telah menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan, serta layanan kesehatan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan resmi.

Pernyataan itu terdengar normatif, tetapi suasana lapangan memberinya makna yang lebih dalam. Di sela kegiatan, Wakil Bupati tampak menggenggam tangan seorang penerima zakat. Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian sederhana. Tatapan lelaki itu menunduk, bukan karena inferior, melainkan karena rasa hormat yang jarang ia rasakan dari negara.

Dalam momen singkat itu, relasi kuasa seperti dibalik. Negara tidak lagi berdiri jauh di atas, tetapi hadir dekat dan setara.

“Negara harus melayani, bukan dilayani,” kata Wakil Bupati dalam kesempatan itu.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, lanjutnya, berkomitmen mendukung penuh BAZNAS agar zakat, infak dan sedekah dikelola secara amanah, profesional sekaligus tepat sasaran. Ia juga mengajak aparatur sipil negara, pelaku usaha, serta masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi negara.

Ajakan ini bukan sekadar imbauan moral, melainkan strategi pembangunan sosial membangun kepercayaan publik agar zakat menjadi instrumen kesejahteraan yang berkelanjutan.

Di sisi lain masjid, Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Guntur Budi Wibowo, menyampaikan pandangan yang lebih tegas. Baginya, zakat tidak boleh berhenti sebagai amal karitatif yang habis dibagi dalam satu hari.

“Zakat harus ditempatkan sebagai alat perubahan struktural. Ia bukan hanya kewajiban ritual, tetapi instrumen negara untuk mengangkat martabat rakyat dan mengurangi ketimpangan,” tegasnya.

Kurang dari dua bulan sejak mulai aktif, BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan tiga kali penyaluran zakat, dengan 260 mustahik sebagai penerima manfaat. Seluruh data penerima diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik.

“Kami ingin publik tahu, zakat tidak hilang di laporan. Ia hadir di kehidupan nyata masyarakat,” ujarnya.

Apa yang berlangsung di Mentok memperlihatkan model tata kelola sosial yang jarang dibicarakan secara terbuka bahwa pemerintah sebagai penguat kebijakan dan legitimasi, sementara BAZNAS menjadi mesin distribusi keadilan sosial.

Di antara para penerima zakat, Siti Rahmah (56) duduk dengan tenang. Tangannya menggenggam amplop putih berisi bantuan zakat. Selama bertahun-tahun, ia hanyalah satu angka dalam statistik kemiskinan yang tidak terlihat dan tidak terdengar.

Suaminya meninggal lima tahun lalu. Sejak itu, ia bertahan hidup dengan menjual kue kecil di depan rumahnya di pinggir Mentok. Penghasilannya tak menentu. Kadang cukup untuk makan. Kadang tidak.

“Bukan soal uangnya saja. Hari ini saya merasa diperhatikan.” katanya.

Ia mengaku jarang datang ke acara resmi. “Biasanya kami cuma dengar di radio. Tapi hari ini, kami dipanggil namanya, ditanya kabarnya.” tambahnya.

Bagi Siti, zakat hari itu bukan semata bantuan ekonomi.

Ia adalah pengakuan atas keberadaannya sebagai warga negara.

Di sudut lain masjid, layanan kesehatan gratis berjalan. Lansia duduk sabar menunggu giliran. Petugas medis mencatat tekanan darah, memeriksa gula darah dan membagikan obat.

Pak Ahmad (68) baru mengetahui tekanan darahnya tinggi. Ia jarang ke puskesmas karena jarak dan biaya.

“Saya jarang periksa. Jauh, ongkos mahal,” katanya.

Hari itu, zakat menjelma tensimeter, obat, dan perhatian. Tidak ada antrean panjang, tidak ada birokrasi rumit. Hanya nama, usia dan keluhan.

“Inilah pembangunan yang cepat menyentuh rakyat,” kata Ustadz M. Yasir Mustafa, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pidato Pentingya Zakat: Renungan Pembangun Rakyat

Ustadz Yasir tidak berbicara sebagai pejabat administratif. Ia berbicara sebagai penjaga nilai.

“Zakat tidak akan menjadikan seseorang miskin. Justru ia membuka pintu keberkahan, bukan hanya pada harta, tetapi pada kesehatan dan ketenangan hidup,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa zakat adalah hak fakir dan miskin, bukan belas kasihan. Hak yang dititipkan Allah dalam harta orang mampu.

“Dalam setiap harta yang kita miliki, ada hak orang lain,” katanya.

Ia juga menyampaikan pesan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang berhalangan hadir. Pemerintah provinsi, menurutnya, mengapresiasi kinerja BAZNAS yang dinilai cepat dan tepat sasaran.

Pidato itu kemudian berubah menjadi visi jangka panjang.

“Yang hari ini menerima zakat, insya Allah suatu saat akan menjadi muzakki.” tambah Ustadz Yasir.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi spiritual. Ia adalah konsep pembangunan umat untuk memutus rantai kemiskinan, bukan melanggengkannya.

Di lorong masjid, suasana lain terasa. Anak-anak dan pelajar duduk bersila mengikuti lomba kaligrafi. Kuas kecil bergerak perlahan, membentuk ayat-ayat suci.

Aisyah (11) menggambar ayat tentang kesabaran. “Saya mau jadi juara,” katanya sambil tersenyum.

Bagi BAZNAS, lomba ini bukan hiburan pelengkap. Ia adalah investasi nilai. Pesan bahwa zakat juga bekerja di ranah jiwa, budaya dan peradaban.

“Masjid harus hidup. Menjadi pusat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan umat.” kata Guntur.

Apa yang terjadi di Mentok adalah potret kecil dari mandat besar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, yang menempatkan zakat sebagai bagian dari sistem kesejahteraan sosial nasional.

Menurut BAZNAS RI, potensi zakat nasional mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Namun, yang terhimpun baru sebagian kecil. Masalahnya bukan potensi, melainkan kepercayaan publik.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi krusial.

Ketika negara hadir, kepercayaan tumbuh.

Ketika zakat dikelola transparan, partisipasi meningkat.

Bangka Barat bukan wilayah tanpa persoalan. Tantangan geografis, akses layanan, dan ketimpangan sosial masih nyata. Namun, Mentok pagi itu memperlihatkan satu pelajaran penting: pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

Ia bisa dimulai dari masjid.

Dari tangan ke tangan.

Dari empati yang diterjemahkan menjadi kebijakan.

Menjelang siang, kegiatan berakhir. Masjid kembali sunyi. Namun, sesuatu telah berubah.

Siti Rahmah pulang dengan langkah lebih ringan.

Pak Ahmad menyimpan obat di saku bajunya.

Aisyah menggulung kertas kaligrafinya dengan bangga.

Di usia seperempat abad, BAZNAS bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menegaskan satu pesan sederhana namun kuat.

Pembangunan paling kokoh tidak selalu dimulai dari gedung tinggi,

tetapi dari hati yang bertakwa

dan negara yang mau turun ke bawah.

Di Mentok, hari itu, zakat tidak hanya dibagikan.

Ia menguatkan negara.

Ia mengangkat umat.

Ia menjadi jalan pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *