206 Tahun Kong Fuk Miau: Klenteng Tua di Mentok Menjadi Penjaga Toleransi dan Jejak Sejarah Bangka Barat

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Bekaespedia.com, Mentok,- Aroma dupa perlahan memenuhi ruang utama Klenteng Kong Fuk Miau, Minggu (19/7/2026). Asap tipis mengepul dari altar sembahyang, berpadu dengan denting lonceng dan lantunan doa yang menggema di antara dinding bangunan berwarna merah yang telah berdiri selama lebih dari dua abad. Di halaman klenteng, umat, tokoh masyarakat, aparat keamanan, hingga pejabat pemerintah berkumpul dalam satu perayaan yang bukan sekadar memperingati usia sebuah rumah ibadah, melainkan merayakan panjangnya sejarah hidup berdampingan di Bangka Barat.

Selama 206 tahun, Klenteng Kong Fuk Miau di Kota Mentok telah menjadi bagian penting dari lanskap sejarah Pulau Bangka. Bangunan yang termasuk salah satu klenteng tertua di wilayah ini tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Khonghucu dan masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi penanda perjalanan panjang interaksi budaya, perdagangan, serta kehidupan multietnis yang membentuk identitas Bangka Barat hingga hari ini.

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-206 Klenteng Kong Fuk Miau memperlihatkan bagaimana warisan sejarah itu masih hidup. Hadir dalam perayaan tersebut Bupati Bangka Barat Markus, S.H., Kapolres Bangka Barat AKBP Helen Simanjuntak, S.H., S.I.K., M.H., jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan umat yang mengikuti rangkaian ibadah dan prosesi budaya.

Bagi Bupati Markus, Kong Fuk Miau tidak dapat dipandang hanya sebagai bangunan bersejarah. Di balik arsitekturnya, tersimpan nilai-nilai yang telah diwariskan lintas generasi.

“Kita tidak hanya melihat sebuah bangunan tempat ibadah yang megah dengan warna merahnya yang khas. Lebih dari itu, kita sedang memandang sebuah monumen sejarah, saksi bisu dan simbol kerukunan antarumat beragama yang nyata di Bumi Sejiran Setason,” kata Markus.

Menurutnya, usia lebih dari dua abad menjadi bukti bahwa klenteng tersebut telah melewati berbagai perubahan zaman tanpa kehilangan maknanya bagi masyarakat.

“Usia ini membuktikan bahwa Kelenteng Kong Fuk Miau bukan sekadar milik umat Khonghucu atau warga Tionghoa saja, melainkan warisan budaya dan kebanggaan seluruh masyarakat Mentok dan Bangka Barat,” ujarnya.

Salah satu pemandangan yang paling sering disebut ketika membicarakan Kong Fuk Miau, letaknya yang berdampingan dengan Masjid Jami’ Mentok. Kedua bangunan itu berdiri dalam satu kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi simbol hubungan harmonis antar umat beragama.

Bagi Markus, kedekatan fisik dua rumah ibadah tersebut bukanlah kebetulan sejarah, melainkan cerminan nilai yang diwariskan para pendahulu.

“Ini adalah warisan dari para leluhur kita yang mengajarkan bahwa perbedaan suku, bahasa maupun agama bukanlah pembatas, melainkan kekayaan yang harus kita rawat bersama. Selama lebih dari dua abad, kerukunan ini tetap kokoh, teduh, dan saling menghormati tanpa ada gesekan,” ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, kata Markus, berkomitmen menjaga dan melestarikan kawasan cagar budaya tersebut agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus destinasi wisata religi.

Menurutnya, nilai toleransi yang tumbuh dari kawasan bersejarah itu merupakan modal sosial yang tidak ternilai bagi pembangunan daerah.

“Nilai-nilai toleransi yang dipancarkan dari Kelenteng Kong Fuk Miau ini harus kita tularkan kepada generasi muda. Di tengah tantangan zaman yang semakin dinamis, modal sosial terbesar kita dalam membangun daerah adalah persatuan dan kedamaian di antara warganya,” tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat mengembangkan kawasan tersebut sebagai episentrum wisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.

“Mari kita jadikan cagar budaya ini sebagai episentrum wisata religi dan sejarah yang ramah, terbuka, serta terus membawa berkah kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,” ajaknya.

Pesan serupa juga datang dari jajaran Kepolisian Resor Bangka Barat. Di tengah berlangsungnya rangkaian ibadah dan perayaan budaya, personel Polres melakukan pengamanan di seluruh area kegiatan untuk memastikan seluruh prosesi berjalan aman dan tertib.

Melalui Kasi Humas Polres Bangka Barat Iptu Yos Sudarso, Kapolres AKBP Helen Simanjuntak menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus terus dijaga bersama.

“Kapolres menyampaikan bahwa keberagaman yang dimiliki Bangka Barat merupakan kekuatan yang harus terus dijaga bersama. Polri berkomitmen memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat sehingga setiap kegiatan keagamaan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kekeluargaan,” ujar Yos.

Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti peringatan HUT Kong Fuk Miau menjadi ruang penting mempererat komunikasi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat.

“Sinergi seluruh elemen masyarakat sangat penting agar Bangka Barat tetap menjadi daerah yang aman, damai, dan harmonis. Toleransi yang sudah terbangun harus terus dipelihara bersama,” katanya.

Di Bangka Barat, toleransi bukan hanya dipahami sebagai konsep sosial, melainkan hadir dalam ruang-ruang kehidupan sehari-hari. Rumah ibadah yang berdiri berdampingan, tradisi yang saling menghormati, hingga keterlibatan lintas agama dalam berbagai perayaan telah menjadi praktik yang terus dipelihara masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Karena itu, usia ke-206 Kong Fuk Miau menjadi lebih dari sekadar angka. Ia menandai panjangnya perjalanan sebuah situs budaya yang tidak hanya menyimpan jejak arsitektur dan sejarah komunitas Tionghoa di Bangka, tetapi juga menjadi penanda bagaimana masyarakat di Pulau Timah merawat keberagaman sebagai bagian dari identitas bersama.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat modern, Kong Fuk Miau tetap berdiri sebagai pengingat bahwa harmoni tidak lahir dalam waktu singkat. Ia tumbuh dari kepercayaan, penghormatan dan kebiasaan hidup berdampingan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama lebih dari dua abad, nilai-nilai itu terus hidup di sudut Kota Mentok, menjadikan klenteng tua tersebut bukan hanya saksi sejarah, melainkan juga penjaga ingatan kolektif tentang arti persatuan di Bangka Barat.

Exit mobile version