Oleh: Gito, S.STP, Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka Selatan
Toboali kembali berulang tahun. Usianya kini 317 tahun — usia yang panjang bagi sebuah kota. Setiap perayaan membawa kebanggaan, namun di antara sorak dan warna-warni pesta, ada panggilan yang lebih sunyi: panggilan tanggung jawab terhadap bumi tempat kita berpijak.
Toboali bukan sekadar kota, tapi juga seperti seorang ibu — yang telah menimang kita selama tiga abad lebih. Dari rahim tanahnya, kita tumbuh; dari lautnya, kita hidup. Kearifan ibu di sini bukan hanya tentang perempuan atau alam, melainkan tentang cara hidup yang penuh kasih, hemat, dan tidak berlebih. Kearifan yang dulu begitu alami dijalankan oleh masyarakat tanpa perlu teori atau slogan lingkungan.
Kami di Dinas Lingkungan Hidup menyadari bahwa kota ini tidak hanya menua dengan sejarah yang manis, tetapi juga dengan persoalan yang kian besar — di mana volume sampah meningkat seiring laju modernitas. Karena itu, peringatan ini bukan sekadar selebrasi, tapi juga momentum untuk menengok kembali nilai-nilai bijak yang pernah membuat Toboali bersih dan lestari.
Saya masih ingat ketika setiap hajatan menjadi urusan satu kampung. Para tetangga sibuk memotong batang kelapa untuk membuat tiang panggung dan bambu untuk tiang tenda, janur kuning dianyam di beranda rumah, dan peralatan makan saling pinjam antar tetangga dan kerabat keluarga. Dan saya juga masih ingat betul dulu setiap ibu-ibu ke pasar tanpa menenteng plastik — selalu ada tas anyaman, atau minimal tas kain yang dibawa dari rumah. Minim plastik, hampir tak ada sampah berlebihan; hanya tawa, gotong royong, dan rasa cukup yang sederhana.
Aku juga masih ingat warung-warung kecil di sudut kampung yang menjual jajanan dibungkus daun pisang atau daun kelapa: lemper, kue bugis, bongkol, ketupat. Atau wadah daun himpur untuk Lakso. Gelas kaca berjejer di meja, diisi ulang dari teko besar yang dingin. Alam menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar latar belakang. Mereka hidup dalam prinsip 3R — reduce, reuse, recycle — jauh sebelum istilah itu tertulis di papan sosialisasi.
Sekarang, banyak yang berubah. Hajatan pindah ke gedung, panggung dibuat dari besi, dan piring digantikan wadah sekali pakai. Warung-warung kini dibanjiri plastik bening, sedotan warna-warni, dan botol yang hanya sekali pakai. Modernitas membawa kemudahan, tapi juga meninggalkan jejak panjang di sungai, di parit, dan di laut kita.
Peringatan 317 tahun ini harus menjadi waktu untuk menengok kembali, bukan sekadar bernostalgia, tapi belajar dari kebijaksanaan masa lalu. Kita tidak bisa kembali ke masa lampau, tetapi kita bisa mengadopsi kearifannya. Di tengah arus kemajuan ini, kita perlu menengok sebentar ke belakang — untuk menuntun zaman agar tetap berpihak pada bumi.
Sebagai Kepala Bidang Persampahan, saya percaya bahwa solusi atas tantangan hari ini memerlukan semangat kebersamaan yang dulu ada. Diperlukan kolaborasi antara Pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha serta Masyarakat umum agar Toboali tidak hanya maju, tapi juga bersih.
Selamat ulang tahun, Kota Toboaliku tercinta. Mari kita hidupkan kembali kearifan ibu itu dalam langkah nyata: membawa tas belanja sendiri seperti ibu kita dulu, memilah sampah dari rumah, dan meminimalisir wadah sekali pakai — demi jejak yang pantas dirindukan oleh generasi mendatang. (BP/ KM)*
Gito — yang lebih akrab disapa Paksu — Kepala Bidang Persampahan DLH Bangka Selatan, meyakini bahwa perubahan besar untuk lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil masyarakat.












