Bangka Barat Gerakkan Revolusi Keluarga: Sekda & Kepala DPPKBPPPA Serukan Budaya Baru Lawan Stunting

Laporan : Belva Al Akhab

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melancarkan “perang sunyi” melawan stunting, bukan hanya lewat intervensi gizi teknis, tetapi dengan revolusi budaya dalam pola asuh dan gaya hidup keluarga. Seruan ini datang bersamaan dari Sekretaris Daerah (Sekda) Muhammad Soleh dan Kepala Dinas DPPKBPPPA Sabudiono, S.Pd, di rapat advokasi Program Bangga Kencana, Senin (24/11/2025).

Mereka menegaskan bahwa lima program Quick Win BKKBN 2025 yaitu Genting, Tamasya, GATI, SIDAYA, dan Aplikasi Super Keluarga Indonesia adalah pemantik percepatan perubahan. “Quick Win bukan target, tetapi pemicu agar hasil nyata langsung dirasakan masyarakat,” kata Sekda Soleh.

Namun bagi Kepala DPPKBPPPA Sabudiono, tantangan terbesar bukan sekadar melaksanakan program, melainkan merombak tradisi masyarakat yaitu menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan baik fisik maupun pola asuh adalah fondasi kebangkitan keluarga.

Menurut data Rembuk Stunting Kabupaten Bangka Barat 2025, prevalensi stunting berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024 mencapai 19,6%, lebih baik dibandingkan SKI 2023 yang mencatat 20,6%.

Namun, catatan dari E-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) Februari 2025 menunjukkan bahwa di beberapa desa stunting masih tinggi, misalnya:

Desa Ibul (Kecamatan Simpang Teritip): 23,3% stunting

Desa Simpang Tiga: 23,6%

Meski begitu, menurut laporan resmi Pemkab Bangka Barat, sejak 2018 hingga Februari 2025, prevalensi stunting di kabupaten ini berhasil ditekan menjadi hanya 7,6% menurut data Kementerian Kesehatan.

Salah satu pilar perubahan adalah program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). Sabudiono menekankan bahwa pola asuh selama ini terlalu dipusatkan pada ibu, sementara ayah sering absen atau hanya dilihat sebagai pencari nafkah. “Urusan mengantar anak bukan hanya urusan ibu, ayah harus menjadi contoh nyata yang dilihat anak,” katanya.

Bagi Sabudiono, ayah bukan hanya pencari nafkah tetapi pilar emosional dan teladan moral yaitu motor nilai-nilai toleransi dan peran tanggung jawab. Bila ayah aktif sejak dini, anak akan tumbuh dengan fondasi yang lebih kokoh.

Menurut Kepala DPPKBPPPA, pekerjaan menurunkan stunting tak bisa hanya diserahkan pada pemerintah. Ia menyerukan kolaborasi antar OPD, organisasi masyarakat, komunitas keagamaan, hingga keluarga di desa-desa. “Ini bukan pekerjaan pemerintah saja. Ini pekerjaan bersama. Negeri ini perlu dibantu bersama-sama,” tegasnya.

Bagi Sabudiono, perubahan pola hidup sehat mulai dari pemahaman gizi, kebersihan lingkungan, hingga kegiatan keluarga sehari-hari adalah inti revolusi ini. Ia menyebut bahwa image masyarakat harus berubah: agar keluarga bukan sekadar unit konsumsi, tetapi sel mikro yang sehat dan tangguh.

Sabudiono juga menyentuh isu pernikahan dini. Ia mengungkapkan tren pernikahan dini di Bangka Barat kini sudah turun drastis, berada di bawah 3 persen, namun tetap menjadi perhatian serius. Menurutnya, pernikahan dini membawa dampak luas: dari risiko kesehatan hingga kerentanan stunting pada anak yang lahir dari pernikahan tersebut.

Ia menyebut bahwa generasi yang lahir dari pernikahan dini sangat rentan, bukan hanya dari aspek gizi, tetapi juga sisi administratif dan sosial.

Di balik angka-angka dan program, ada kisah yang jarang terdengar: para kader posyandu, orang tua asuh, ibu di dusun terpencil, yang bekerja tanpa sorotan media. Mereka adalah tulang punggung aksi stunting, mengetuk pintu rumah, menghitung tinggi dan berat anak, memberi edukasi gizi pada ibu hamil, dan membangun komitmen dari akar rumput.

Sabudiono menggambarkan mereka sebagai barisan senyap: pahlawan yang tak memakai jubah, tapi langkahnya bergetar kuat di tanah Bangka Barat. “Kalau keluarga kuat, daerah ini akan kuat. Kalau pola asuh berubah, masa depan akan berubah,” ujarnya lirih, namun penuh harap.

Sekda dan kepala DPPKBPPPA sama-sama menekankan bahwa kunci keberhasilan adalah kolaborasi: OPD lintas sektor, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal harus menyatukan pandangan dan tindakan. Mereka ingin menjadikan keluarga sebagai fondasi martabat Bangka Barat bukan hanya unit administratif, melainkan motor budaya yang sehat, berdaya, dan penuh harapan.

Sekda Muhammad Soleh bahkan mengakhiri sambutannya dengan pantun Melayu yang lembut namun tegas, menegaskan bahwa upaya menurunkan stunting adalah gerakan kebudayaan sekaligus tanggung jawab moral: “Nelayan hendak pergi memancing ikan … berkolaborasi sukseskan pembangunan keluarga.”

Catatan Kontekstual dan Data Tambahan
Menurut BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jumlah keluarga berisiko stunting di provinsi ini pada 2023 tercatat 33.031 orang, hasil pendataan door-to-door.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kab. Bangka Barat adalah 19,9% (CI 16,8–23,3%) menurut tabel SSGI.

Laporan Profil Kesehatan Provinsi Babel 2023 juga menyoroti bahwa status gizi buruk (gizi kronis) masih menjadi persoalan di beberapa kabupaten.

Kebijakan nasional seperti Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 menekankan aksi konvergensi multisektor (intervensi sensitif dan spesifik) dalam percepatan penurunan stunting, yang diadopsi di Bangka Barat melalui rembuk stunting lintas OPD.

Kombinasi antara seruan birokrasi elit (Sekda) dan visi perubahan budaya (Kepala DPPKBPPPA) menunjukkan bahwa Bangka Barat tidak lagi melihat stunting sebagai tantangan teknis, tetapi sebagai medan peradaban. Melalui program Quick Win, revolusi pola asuh, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, kabupaten ini menyatakan tekad: membangun masa depan generasi yang sehat dan bermartabat, dari sudut paling sunyi hingga puncak kebijakan.

Daftar Sumber Literatuur
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat. “Program Genting untuk Tekan Stunting di Bangka Barat.” Website Resmi Pemkab Bangka Barat. (https://bangkabaratkab.go.id)

Infostunting Bangka Barat. “Rembuk Stunting Tingkat Kabupaten: Optimalisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).” (infostunting.bangkabaratkab.go.id)

BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung / ANTARA. “Keluarga berisiko stunting di Bangka Belitung capai 33.031 orang.” (Babel News)

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Penilaian Kinerja Stunting Momentum Tingkatkan Sinergi.” Bappeda Babel. (bappeda.babelprov.go.id)

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. “Prevalensi Balita Bermasalah Gizi Provinsi Kep. Bangka Belitung menurut Kabupaten/Kota.” (dinkes.sulbarprov.go.id)

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2023.”

ANTARA News. “Babel gunakan Data Keluarga BKKBN tangani stunting” (tentang pemanfaatan data keluarga BKKBN door-to-door). (ANTARA News)

Ombudsman Republik Indonesia. “Gule Kabung: Merenda Generasi Emas Babel, Menurunkan Prevalensi Stunting.” Laporan resmi. (ombudsman.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *