Harlah ke-92 GP Ansor Ujian Relevansi di Tangan Generasi Muda

Oleh : Nanda Pratama

(Kader Ansor Bangka Selatan)

 

Bekaespedia.com. Peringatan Harlah ke-92 Gerakan Pemuda Ansor bukan sekadar penanda usia organisasi yang semakin matang, tetapi juga momentum penting untuk menegaskan kembali posisi strategis anak muda dalam menjaga arah gerakan.

Di usia yang mendekati satu abad, tantangan yang dihadapi GP Ansor semakin kompleks dan di sinilah peran generasi muda menjadi penentu, apakah organisasi ini tetap relevan atau justru tertinggal.

Menurut saya, anak muda dalam Harlah ke-92 ini tidak cukup hanya menjadi “penggembira acara”.

Mereka harus tampil sebagai motor penggerak gagasan dan aksi. Semangat historis GP Ansor yang lahir dari jiwa perjuangan pemuda harus diterjemahkan ulang dalam konteks kekinian.

Jika dulu tantangannya adalah penjajahan fisik, kini tantangannya lebih halus namun tak kalah berbahaya: disinformasi, intoleransi, hingga polarisasi sosial.

Di era digital, anak muda GP Ansor memiliki peluang besar untuk memperluas pengaruh melalui media sosial dan ruang-ruang publik virtual. Namun peluang ini sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal.

Harlah ke-92 seharusnya menjadi titik balik untuk membangun gerakan digital yang lebih terarah bukan sekadar eksis, tetapi berdampak. Narasi Islam moderat, nilai kebangsaan, dan semangat toleransi perlu dikemas secara kreatif agar mampu menjangkau generasi yang lebih luas.

Selain itu, peran anak muda juga penting dalam memperkuat basis sosial organisasi. Kegiatan Harlah bisa dijadikan sarana untuk aksi nyata, seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, gerakan sosial, hingga advokasi isu-isu lokal. Dengan begitu, GP Ansor tidak hanya dikenal sebagai organisasi seremonial, tetapi sebagai kekuatan sosial yang hadir langsung di tengah masyarakat.

Namun, saya juga melihat masih ada tantangan internal sebagian anak muda cenderung pasif dan belum berani mengambil peran kepemimpinan. Ini perlu menjadi perhatian.

Organisasi harus memberi ruang yang lebih luas bagi anak muda untuk berinovasi, bahkan jika itu berarti keluar dari pola lama yang terlalu kaku.

Harlah ke-92 ini seharusnya menjadi momentum refleksi sekaligus transformasi. Anak muda bukan hanya pewaris GP Ansor, tetapi penentu masa depannya.

Jika mereka mampu menggabungkan nilai tradisi dengan inovasi, maka GP Ansor akan tetap menjadi garda depan dalam menjaga keutuhan bangsa dan keberagaman di Indonesia. (BP/ KM)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *