Karya: Meilanto
“Ayo, Nak, diminum lagi ramuan obat ini!” rayu ibu kepada Iqbal yang sudah beberapa hari ini demam panas tinggi dan diare.
“Iya, Bu!” jawab Iqbal pendek.
Ia segera menyeruput ramuan obat yang terasa sepat itu. Ramuan itu sengaja diseduh oleh ibu dengan ramuan rempah-rempah warisan leluhur. Daun pucuk jambu batu dan sedikit campuran jahe serta kunyit dan tak lupa dicampur sedikit garam. Selain itu daun kumis kucing dan daun kembang sepatu turut ditempelkan di kening Iqbal.
Sudah tiga hari ini Iqbal tidak masuk sekolah. Badannya panas tinggi disertai diare. Hal itu membuat ibu tidak bisa menyadap getah karet bersama ayah. Biasanya ibu dan ayah berangkat pagi menyadap getah karet selesai subuh. Iqbal yang sudah terbiasa mandiri bisa mengurusi segala keperluannya sendiri. Mulai dari mandi, sarapan yang sudah disiapkan ibu di meja dapur, berganti pakaian dan berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda birunya.
Didikan orang tuanya membuat Iqbal bisa mandiri. Sebagai anak satu-satunya, Iqbal sering membantu ayah dan ibu di kebun sehabis pulang sekolah. Ya, ayah dan ibunya sehabis menyadap getah karet selalu istirahat di pondok kebun. Siang hari sampai sore mengurusi tanaman palawija. Hasil dari kebun itu cukuplah sebagai bahan lauk pauk mereka. Kehidupan mereka sangat sederhana.
Begitu pula dengan penduduk lainnya. Suasana kehidupan di kampung sungguh nikmat. Hampir semua yang dikonsumsi merupakan hasil jerih payah para petani. Mulai dari beras, lauk pauk dan
lain-lain. Hanya sesekali warga membeli bahan bumbu yang tidak disediakan di alam seperti garam, ikan laut dan lain-lain.
“Ibu, saya mau ke kamar kecil,” pinta Iqbal. Ibunya yang berada di dapur cepat-cepat ke kamar Iqbal yang memang dekat dari dapur. Ibu segera menuntun Iqbal. Ia takut putra semata wayangnya itu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Ayo, Nak minum lagi air ramuan ini!” pinta ibu. Iqbal minum air ramuan hangat kuku itu.
Keesokan harinya, panasnya sudah turun karena ibunya cekatan mengompres ramuan-ramuan di badan dan kepala Iqbal. Begitu juga dengan diarenya. Sudah berangsur sembuh. Bagi keluarga Iqbal dan warga kampung lainnya, jika sakit maka ramuan tradisional warisan leluhur menjadi obat. Jarak kampung dengan pusat kesehatan baik puskesmas maupun polindes sangat jauh. Apalagi rumah sakit. Akses jalan sangat sulit. Petugas kesehatan datang ke kampung itu hanya seminggu sekali. Itupun jarang menyentuh semua masyarakat. Bagi masyarakat, jika sakit alam menyediakan obatnya. Tinggal mencari obat-obatan di alam yang masih sangat luas.
Bagi penduduk kampung, melanjutkan pendidikan putra-putrinya ke SMP butuh perjuangan ekstra. Akses jalan menjadi permasalahan utama. SMP hanya ada di ibukota kecamatan yang berjarak sekitar 17 km. Akses jalan masih tanah kuning. Jika musim kemarau, berdebu. Jika musim hujan jalanan becek. Dan sesekali dipenuhi genangan air.
“Ibu, Iqbal mau melanjutkan ke SMP untuk mengejar cita-cita yang selama ini Iqbal cita-citakan.”
“Ya, Nak. Walaupun jarak yang begitu jauh, kamu harus tetap sekolah. Harus semangat. Biarkan ayah dan ibu yang mencari nafkah, kamu fokus sekolah. Jarak yang jauh itu jadikan kamu saat penyemangatmu. Ingat, Nak, melangkahkan kaki keluar rumah untuk menuntut ilmu, saat itu juga malaikat mencatatnya sebagai amal ibadah. Sepeda birumu masih layak kan digunakan untuk sekolah.” Ibu Iqbal memberikan motivasi kepada putranya untuk melanjutkan sekolah. Disaat anak-anak lain tidak melanjutkan sekolah karena jarak yang jauh hal itu tidak menyurutkan semangat Iqbal. Ia selalu konsultasi dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya memberikan motivasi kepada Iqbal. Keadaan yang mereka hadapi saat ini adalah sebuah tantangan untuk meraih cita-cita. Kedua orang tuanya terutama ibu telah menjelma menjadi sosok motivator ulung yang memacu dan memicu semangat Iqbal untuk melanjutkan pendidikan.
“Iya bu, terima kasih telah merestui Iqbal untuk melanjutkan sekolah. Sepeda Iqbal masih sangat layak, Bu. Nanti saya mencoba bertanya dengan teman-teman siapa yang akan melanjutkan pendidikan ke SMP. Supaya nanti bisa berangkat bersama-sama ke SMP. Kalaupun tidak ada, saya berani berangkat sendirian kok, lagian di jalanan banyak warga ke kebun.” Jawab Iqbal.
Restu kedua orang tuanya telah diraih. Tinggal ia menghadapi tantangan itu setiap hari untuk meraih impiannya.
Ternyata ada empat orang teman Iqbal yang melanjutkan pendidikan ke SMP. Mereka berlima akan bersepeda setiap hari ke ibukota kecamatan untuk meraih cita-cita dan harapan.
Mereka berlima saling menguatkan. Berangkat dan pulang sekolah selalu bersama.
Jalanan berdebu dan berlumpur menjadi saksi perjuangan mereka.
Kini tiga tahun telah mereka lalui. Semangat Iqbal dan keempat temannya tidak pernah kendor. Jika berada di titik terendah, ia teringat kedua orang tuanya yang mencari nafkah. Menyadap getah karet dan berkawan dengan ribuan nyamuk pagi. Aku harus berhasil meraih cita-citaku. Aku akan menjadi sarjana dari kampungku. Begitu kalimat pelecut bagi Iqbal. Kunci utama mereka adalah saling menguatkan satu sama lain.
Ijazah SMP sudah diraih. Kini tiba saatnya ia harus ke ibukota kabupaten untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Kedua orang tuanya kembali menjadi motivator ulung yang menyemangati Iqbal. Sayang, dari empat orang temannya, hanya ia dan temannya yang melanjutkan pendidikan ke SMA.
la dan temannya itu kebetulan laki-laki menjadi anak kost. Setiap hari mereka selalu bersama. Berangkat dari kampung yang sama dan telah menghadapi badai ujian yang berat. Kini, ujian itu harus mereka hadapi lagi. Menjadi anak kost tidaklah sulit bagi Iqbal dan temannya. Kehidupan mandiri hasil didikan di keluarga dan kampung menjadi modal utama Iqbal dan temannya. Ia dan temannya termasuk siswa yang aktif dan berprestasi. Nilai akademik dan non-akademiknya tergolong tinggi. Hal itu menjadikan Iqbal dan temannya dari satu kampung meraih bea siswa dari pemerintah. Uang bea siswa itu lebih dari cukup untuk biaya kehidupan di kost. Mereka sering puasa Senin Kamis untuk menghemat biaya. Adapun biaya kost tidak pernah telat dibayar oleh kedua orang tua Iqbal dan temannya. Tiga tahun menempuh pendidikan di SMA Iqbal dan temannya itu berhasil keluar sebaga lulusan terbaik pertama dan kedua. Orang tua keduanya turut hadir menerima kelulusan itu. Iqbal dan temannya mendapat bea siswa untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Sujud syukur kedua orang tua mereka mewarnai hari kelulusan itu. Betapa tidak, perjuangan putra-putra mereka untuk sekolah sungguh sangat luar biasa. Air mata keharuan turut mewarnai sehingga banyak siswa dan guru yang ikut terharu mengetahui perjuangan Iqbal dan temannya serta kedua orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan. Bahwa putra dari kampung tinggal selangkah lagi meraih mimpi. Itu semua karena kedua orang tua terutama ibu yang serba bisa. Bisa mengatur keuangan, motivator, dokter dan lain sebagainya.
Empat tahun di tanah rantauan, Iqbal dan temannya masih selalu bersama hingga akhirnya keduanya lulus sebagai sarjana. Dan Iqbal serta temannya menjadi sarjana pertama dan kedua dari kampungnya.
Ibunya menjelma menjadi motivator yang melecut semangat Iqbal. Doa-doa yang dilantunkan disetiap sepertiga malam langsung diijabah oleh Sang Penguasa Alam. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi I Love You, Mom! Desember 2023 bersama PT. LAN TULUNGAGUNG .












