Oleh: Meilanto
Di suatu negeri, hiduplah burung puyuh dan burung rerayun. Kedua burung ini hidup berdampingan bersama burung lain. Burung puyuh berwarna hitam putih dengan postur tubuh lebih besar dari burung rerayun. Burung puyuh bersarang di tanah dengan menggunakan ranting dan rumput kering. Di sarang itu burung puyuh bertelur dan mengerami telur-telurnya.
Burung rerayun bertubuh kecil. la berwarna hijau bercorak kuning dan abu-abu. la bersarang di pohon yang tinggi menggunakan akar-akar kecil yang ia anyam sedemikian rupa dan bergantung atau berayun. Sarangnya sangat kecil sesuai dengan postur tubuhnya.
Suatu ketika burung rerayun bertemu dengan burung puyuh di dekat pohon jambu hutan.
“Burung Puyuh, apakah boleh saya bertandang ke sarangmu?” tanya burung rerayun.
“Tentu boleh, bukankah kita sudah lama hidup berdampingan dan berkawan akrab!” seru burung puyuh, “Ayo langsung saja ke sarangku!”
Tiba di sarang burung puyuh, burung rerayun tertegun melihat kesederhanaannya. Sarang itu di tanah dekat rumpun sahang petani. Tidak lama kemudian, terdengar suara derap kaki petani.
“Burung Puyuh, aku takut. Nanti bisa terinjak oleh manusia dan hewan lain!”
Tanpa permisi, burung rerayun langsung terbang menjauh dari sarang burung puyuh.
Benar saja, petani melewati sarang burung puyuh. Petani itu tidak mengetahu sarang burung puyuh di dekat rumpun sahang.
“Tunggu dulu, Burung Rerayun!”
“Mohon maaf, Kawan. Aku pulang tanpa berpamitan padamu karena aku takut nanti terinjak oleh manusia!”
“Iya, gak apa-apa. Aku maklumi kok. Tapi sarangku belum pernah terinjak oleh manusia.”
“Ayo ke sarangkul!”
“Bagaimana aku bisa masuk ke sarangmu, sarangmu kan kecil!”
“Ayo ikuti aku!”
Burung rerayun langsung masung ke sarangnya. Dan benar saja, burung puyuh tidak bisa masuk karena sarang rerayun sangat kecil. la hanya bertengger di dahan kayu tidak jauh dari sarang rerayun.
Tidak lama kemudian, angin berhembus kencang. Sarang burung rerayun bergoyang hebat. Burung rerayun tetap di sarangnya. Burung puyuh terbang kembali ke sarangnya.
“Aku takut kalau ke sarang Burung Rerayun. Sarangnya berayun-ayun apa-lagi saat angin kencang,”
“Burung Puyuh, mengapa kamu langsung terbang?”
“Aku takut jika harus masuk ke sarangmu yang kecil. Apalagi tadi angin bertiup kencang. Sarangmu berayun-ayun hampir jatuh.”
“Jangan khawatir, Kawan. Sarangku tidak akan jatuh walaupun angin kencang!”
“Ternyata sarang kita mempunyai kelebihan masing-masing, ya kawan.”
“Haaaa” keduanya tertawa lebar.*












