Rp 40 Juta untuk Tradisi Khitanan Massal Desa Belar: Pemkab Bangka Barat Berkomitmen Majukan Tradisi Budaya

Laporan : Belva Al Akhab

Bekaespedia.com, Simpang Teritip,-Pagi di Dusun Belar tidak pernah benar-benar Senyap dalam keheningan. Ia selalu membawa gema langkah masa lalu dari tanah yang basah oleh embun, dari suara air yang merendam tubuh anak-anak sebelum mereka memasuki satu fase hidup yang baru. Di sinilah, di ruang kecil yang nyaris tidak tercatat dalam peta besar industri pariwisata, sebuah eksperimen tentang masa depan kebudayaan sedang berlangsung.

Minggu (19/04/2026), Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mengucurkan anggaran sebesar Rp 40.000.000 untuk memfasilitasi tradisi sunat massal adat di Desa Ibul, Dusun Belar. Sebuah angka yang mungkin terlihat kecil dalam logika pembangunan makro, namun menjadi penanda penting bahwa Pemkab Bangka Barat untuk sesaat memilih berpihak pada sesuatu yang tidak kasat mata yaitu ingatan kolektif.

Bupati Bangka Barat, Markus, dalam sambutannya menyebut tradisi ini bukan sekadar praktik keagamaan, tetapi simpul sosial yang menjaga keberlanjutan komunitas.

“Sunat massal pada masyarakat Dusun Belar merupakan adat istiadat turun-temurun yang diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud ketaatan dalam menjalankan perintah Allah dan rasulnya, yaitu mengkhitankan anak-anak yang telah akil baligh,” ujarnya.

Namun, lebih dari sekadar ketaatan, tradisi ini menyimpan lanskap sosial yang kompleks tentang relasi antar warga, tentang ekonomi berbasis gotong royong dan tentang cara sebuah komunitas merawat dirinya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada sistem luar.

“Acara ini menjadi sarana untuk menjalin tali silaturahmi antar warga, sekaligus mengenalkan adat istiadat lokal ini kepada masyarakat luas,” tambah Markus.

Di Dusun Belar, sunat massal bukan sekadar agenda tahunan. Ia sebagai ekosistem budaya. Prosesi dimulai dari ritual merendam, air menjadi medium penyucian, sekaligus simbol keterhubungan manusia dengan alam. Anak-anak kemudian diarak, melewati jalan-jalan desa yang menjadi saksi tumbuhnya generasi demi generasi. Tidak ada batas antara pelaku dan penonton bahwa seluruh warga menjadi bagian dari panggung.

Setiap rumah membuka pintu. Sedekah dihidangkan tanpa undangan formal. Makanan, doa dan percakapan mengalir seperti arus yang tidak terputus. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan mekanisme sosial yang menjaga solidaritas dalam bentuk paling konkret.

Di titik inilah, intervensi pemerintah menemukan relevansinya.

Dana Rp 40 juta yang digelontorkan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak hanya menopang kebutuhan teknis acara. Ia menjadi instrumen pengakuan bahwa praktik-praktik lokal seperti ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan. Bahwa kebudayaan bukan sekadar ornamen, tetapi fondasi.

Pemerintah daerah bahkan telah memasukkan tradisi ini ke dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) 2025–2029 sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan. Sebuah langkah administratif yang, jika dijalankan konsisten, dapat mengubah posisi Dusun Belar dari pinggiran menjadi pusat perhatian baru dalam peta wisata budaya.

“Sebagai upaya pelestarian, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan adat istiadat di Dusun Belar ini sebagai agenda kebudayaan tahunan di Kabupaten Bangka Barat. Langkah ini diharapkan dapat menunjang sektor wisata budaya serta memperkenalkan potensi daerah,” tegas Markus.

Namun, menjadikan tradisi sebagai destinasi wisata bukan tanpa konsekuensi. Di banyak tempat, komodifikasi budaya kerap menggerus makna, mengubah ritual menjadi tontonan dan komunitas menjadi sekadar pelengkap narasi ekonomi. Dusun Belar kini berdiri di persimpangan itu.

Di satu sisi, ia memiliki potensi besar dalam keaslian, partisipasi komunitas, dan narasi yang kuat. Di sisi lain, ia menghadapi ancaman laten ketika nilai ekonomi mulai menggeser nilai sakral.

Seorang ibu, di antara kerumunan, menggenggam tangan anaknya yang baru saja dikhitan. Tidak ada kalkulasi ekonomi di wajahnya. Yang ada hanyalah kelegaan dan harapan bahwa anaknya tumbuh dalam tradisi yang masih utuh, dalam komunitas yang masih saling mengenal.

Sementara itu, pemerintah membaca lanskap dengan cara berbeda. Setiap prosesi sebagai potensi wisata. Setiap ritual sebagai cerita yang bisa dikemas. Setiap keramaian sebagai peluang perputaran ekonomi lokal.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar tentang angka tetapi apakah Rp 40 juta cukup atau tidak. Melainkan tentang arah apakah pembangunan budaya ini akan tetap berpijak pada masyarakat atau perlahan bergeser menjadi proyek yang kehilangan jiwa?

Di Dusun Belar, jawabannya belum final.

Namun untuk hari itu, setidaknya, tradisi masih memegang kendali. Negara hadir tanpa mendominasi. Uang mengalir tanpa sepenuhnya mengubah makna. Budaya dalam bentuk paling hidupnya tetap berjalan di kaki masyarakatnya sendiri.

Di sana, di antara air rendaman, arak-arakan dan sedekah yang tidak putus, Dusun Belar tidak hanya mempertahankan tradisi. Ia sedang menulis ulang masa depan dengan bahasa yang tidak diajarkan di ruang-ruang perencanaan pembangunan meliputi bahasa kebersamaan, ingatan dan keberlanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *