Remaja Dijadikan Garis Depan: Di Panggung Duta Genre, Bupati Bangka Barat Menitipkan Krisis Masa Depan

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Bekaespedia.com, Mentok, – Di bawah langit yang perlahan memutih oleh panas siang, Gedung Majapahit Unmet PT Timah Tbk menjadi lebih dari sekadar ruang acara. Ia menjelma seperti lanskap kecil dari sebuah proyek besar pembangunan manusia. Kursi-kursi tersusun rapi, suara pembawa acara mengalun terukur, tetapi yang paling terasa justru sesuatu yang tak kasatmata. Sebuah kegelisahan tentang masa depan yang belum benar-benar selesai dirumuskan.

Di panggung Grand Final Duta Generasi Berencana (Genre) 2026, Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., berdiri tidak hanya sebagai kepala daerah. Ia hadir sebagai penyusun narasi tentang remaja, tentang krisis dan tentang bagaimana keduanya dipertemukan dalam satu ruang yang sama.

“Nasib Bangka Barat ke depan ada di tangan generasi penerus bangsa,” ujarnya, membuka jalan bagi sebuah gagasan lama yang kini dihidupkan kembali bahwa masa depan selalu berada di pundak mereka yang masih muda.

Namun dalam konteks hari itu, kalimat tersebut terasa lebih berat. Ia bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah pemindahan tanggung jawab dari struktur ke individu, dari kebijakan ke generasi.

Di banyak wilayah Indonesia, pembangunan sering kali dibaca melalui angka dalam pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan atau grafik kesehatan masyarakat. Namun di Bangka Barat, pagi itu, pembangunan diproyeksikan dalam bentuk yang lebih hidup yaitu remaja.

Markus tidak menutup mata terhadap persoalan yang masih membayangi. Ia menyebut stunting bukan sebagai statistik, melainkan sebagai realitas yang masih berdenyut di desa-desa.

“Kabupaten Bangka Barat saat ini masih dihadapkan dengan permasalahan stunting. masih ada beberapa desa dengan angka di atas 20 persen,” katanya.

Pernyataan itu mengandung dua lapisan. Di satu sisi, ia sebagai pengakuan atas keterbatasan. Di sisi lain, ia menjadi landasan untuk membangun narasi baru bahwa solusi tidak hanya datang dari program pemerintah, tetapi juga dari perubahan perilaku yang dimulai dari remaja.

Dalam kerangka itu, Duta Genre tidak lagi sekadar simbol. Mereka menjadi medium pembangunan. Tubuh mereka, pilihan hidup mereka, bahkan cara mereka berbicara tentang masa depan semuanya menjadi bagian dari strategi yang lebih besar.

“Saya harapkan kegiatan ini dapat menjadi wadah kreativitas dan inovasi remaja untuk membantu program pemerintah,” ujar Markus.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan sebuah pergeseran penting bahwa negara tidak lagi menjadi satu-satunya aktor. Ia mulai berbagi peran atau mungkin, membagi beban.

Indonesia sedang menuju fase yang sering disebut sebagai bonus demografi sebuah periode ketika jumlah usia produktif mendominasi populasi. Dalam teori pembangunan, ini sebagai peluang emas. Tetapi di lapangan, ia sering kali berubah menjadi pertanyaan yang lebih kompleks produktif untuk siapa, dan dalam kondisi seperti apa?

Markus menyadari persimpangan itu.

“Perlu persiapan sejak dini dalam menghadapi bonus demografi tersebut,” katanya, menegaskan bahwa masa depan tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil dari intervensi yang dirancang sejak sekarang.

Namun realitas di Bangka Barat menunjukkan bahwa jalan menuju masa depan itu tidak selalu mulus. Di beberapa desa, persoalan gizi, akses pendidikan, hingga tekanan ekonomi masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Remaja tumbuh bukan di ruang ideal, tetapi di tengah tarik-menarik antara harapan dan keterbatasan.

Di sinilah konsep pembangunan remaja menemukan paradoksnya. Mereka diharapkan menjadi solusi, sementara mereka sendiri masih menjadi bagian dari masalah yang lebih besar.

Di antara sorotan lampu dan tepuk tangan, berdiri para finalis Duta Genre. Remaja dengan senyum yang terlatih dan langkah yang dijaga. Namun di balik itu, ada cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar naik ke panggung.

Ada yang datang dari desa dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Ada yang tumbuh di keluarga dengan tekanan ekonomi yang tak pernah benar-benar reda. Ada pula yang diam-diam berjuang melawan stigma sosial tentang pilihan hidup, tentang masa depan yang dianggap terlalu tinggi untuk diraih.

Bagi mereka, panggung ini bukan sekadar kompetisi. Ia sebagai ruang negosiasi antara siapa mereka hari ini dan siapa yang diharapkan oleh sistem.

“Tidak hanya sekadar seremonial belaka tanpa ada hasil yang nyata,” tegas Markus.

Pernyataan itu seperti gema yang memantul ke arah para peserta. Sebuah pengingat bahwa peran yang mereka emban bukan ringan. Mereka tidak hanya diminta untuk tampil, tetapi juga untuk membuktikan.

Menjelang akhir sambutannya, Markus memilih menutup dengan pantun. Sebuah pilihan yang tampak sederhana, tetapi memiliki fungsi yang lebih dalam.

“Banyak remaja ke Pulau Nangka,

Mendayung perahu dengan hati-hati,

Banyak remaja pasti banyak dinamika,

Dimanapun berada Genre selalu di hati.”

Pantun itu bekerja seperti jembatan menghubungkan kebijakan dengan budaya, angka dengan rasa, program dengan identitas. Dalam konteks pembangunan, ini sebagai upaya untuk membuat pesan lebih dekat, lebih manusiawi.

Namun di saat yang sama, ia juga memperhalus satu hal yang tak terucapkan bahwa pembangunan selalu membawa agenda dan agenda itu membutuhkan legitimasi termasuk dari budaya.

Grand Final Duta Genre 2026 berakhir dengan satu kepastian akan ada pemenang. Tetapi di luar itu, banyak hal tetap menggantung.

Apakah remaja benar-benar sedang diberdayakan atau sekadar dijadikan perpanjangan tangan dari kebijakan yang belum sepenuhnya menyentuh akar masalah?

Apakah mereka diberi ruang untuk tumbuh atau diarahkan untuk memenuhi peran yang sudah ditentukan?

Di panggung itu, Bupati Bangka Barat tidak hanya membuka acara. Ia sedang menulis sebuah cerita tentang krisis yang ingin diatasi, tentang generasi yang diharapkan menjadi solusi dan tentang dirinya sebagai bagian dari narasi tersebut.

Namun seperti banyak cerita pembangunan lainnya, akhir dari kisah ini belum ditentukan di atas panggung. Ia akan ditulis perlahan di desa-desa, di keluarga-keluarga dan di kehidupan remaja yang, hari itu, diminta untuk menjadi lebih dari sekadar diri mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *