Karya: Sukma Wijaya
Bismillah pembuka tirai bicara,
Syair dirangkai pusaka bangsa,
Menganyam makna dalam aksara,
Menjunjung warisan penuh cahaya.
Di zaman beralun tenang bahagia,
Dambus berdenting memanggil rasa,
Tarian Bedincak seirama jiwa,
Pantun berlayar di samudra bahasa.
Adat bersendi luhur makna,
Budi terpancar pada tiap kata,
Halus pekerti menjadi mahkota,
Menuntun langkah di dunia fana.
Kini pusaka kian terpinggirkan,
Di ambang zaman yang berkejaran,
Nilai ditimbang dengan kepentingan,
Makna tenggelam oleh kemegahan.
Namun bara belumlah padam,
Masih berdenyut di relung dalam,
Menanti jiwa yang sudi menyulam,
Benang tradisi bertenun alam.
Budaya bukan sekadar rupa,
Bukan hiasan sekejap masa,
Ia jiwa yang hidupkan rasa,
Akar teguh di batang bangsa.
Jika warisan dijunjung tinggi,
Disiram kasih sepenuh hati,
Dipelihara sayang tanpa henti,
Akan tegak ia sepanjang hari.
Wahai pewaris tanah pertiwi,
Bangkitlah engkau penuh berani,
Hidupkan adat dalam sanubari,
Jangan biarkan ia mati sendiri.
Ajarkan pantun bersusun indah,
Hidupkan tradisi penuh amanah,
Pelihara adat jangan berubah,
Agar jati diri tidaklah musnah.
Biar zaman berganti wajahnya,
Biar dunia berlari lajunya,
Kita teguh pada akarnya,
Jaga pusaka panjang masanya.
Andai nanti generasi tiba,
Mencari asal dan usul bangsa,
Biarlah mereka temukan cahaya,
Bukan sekadar cerita tanpa jiwa.
Akhir kata menjadi wasiat,
Warisan ini jangan disekat,
Selagi hayat masih berurat,
Budaya Melayu kekal berdaulat.
Pangkalpinang, 22 April 2026. (BP/ KM)*












