Oleh: Seftiana Helda (Siswa SMPN 3 Simpangkatis)
Seorang yang bernama Nathalli mempunyai sahabat yang bernama Clara. Nathalli dan Clara tinggal di suatu kota di Jakarta. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Nathalli adalah anak dari petani, sedangkan Clara merupakan anak dari orang terpandang. Kekurangan Nathalli tidak membuat Clara menjauhinya. Meskipun Nathalli sering diejek oleh temannya, dan banyak orang yang tidak menyukai Nathalli. Hal itu bukan masalah bagi Clara. Saat di kelas Clara sudah biasa dengan omongan orang yang berkata, “kok kamu mau sih, Ra temenan sama orang miskin.” Clara sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Mendengar omongan orang itu, Clara semakin dekat dan ingin melindungi Nathalli dari jahatnya perkataan orang lain. Setiap hari Clara selalu mengajak Nathalli ke kantin bersama-sama. Itu semua di lakukan karena Clara tidak mau Nathalli diejek-ejek oleh orang lain.
Pada suatu hari, Clara mengajak Nathalli untuk pergi ke suatu taman yang indah dan asri. Mereka pergi dihari minggu. Saat jam 10.02, Clara menjemput Nathalli menggunakan sepeda motor miliknya, Nathalli yang sudah siap langsung berpamitan dengan Ayah dan Ibunya. Ayah Nathalli berpesan, “pulangnya jangan terlalu lama ya nak!”
“Iya Yah,” jawab Nathalli.
Setelah berpamitan, Nathalli dan Clara langsung berangkat ke tempat tujuan mereka.
Di perjalanan Clara ingin singgah ke supermarket terdekat. Clara sangat lapar, karena ia belum makan. Clara pun bertanya kepada Nathalli.
Clara: “Nat, kamu laper gak? aku laper banget nih belum makan!”
Nathalli: “Iya nih, aku juga laper.”
Clara: “Ya udah, mampir yuk ke supermarket.”
Nathalli: “Tapi aku gak punya uang, Ra!”
Clara: “Gapapa aku yang bayarin kamu.”
Nathalli: “Gak usah Ra, aku ga jajan juga gapapa udah biasa.”
Clara: “Gapapa sekali-kali aku bayarin kamu.”
Nathalli: “Ya udah deh Ra.”
Setelah itu Clara langsung menepikan motornya ke supermarket terdekat. Clara mengambil kopi dan juga roti. Clara menyuruh Nathalli untuk mengambil apa saja yang ia mau. Nathalli pun mengambil susu dan roti juga. Clara langsung membayar belanjaan mereka berdua. Setelah membayar, Nathalli dan Clara melanjutkan perjalanan mereka.
Sesampainya mereka di taman, mereka duduk dan menikmati makanan dan minuman yang mereka beli di supermarket tadi. Disela-sela mereka menikmati makanan dan minuman Clara ingin menceritakan sesuatu kepada Nathalli.
Clara: “Nat, orang tuaku bertengkar hebat, bahkan sudah lebih parah dari sebelumnya. Mereka memutuskan untuk bercerai.”
Nathalli: “Yang sabar ya Ra, aku tau rasanya kok!”
Clara: “Ya Nat, ibuku pengen balik ke Bogor. Aku mau ikut ibuku Nat, adikku ikut ayahku.”
Nathalli: “Kenapa harus ikut ibumu?”
Clara: “Di sana ada sekolah impianku, jadi aku ingin ikut dengan ibuku.”
Nathalli: “Kalau itu memang pilihanmu, aku tidak bisa memaksamu!”
Clara: “Aku janji Nat, aku gak bakal lupa samamu!”
Setelah percakapan itu, Nathalli teringat dengan pesan ayahnya sebelum ia berangkat. Nathalli pun langsung mengajak Clara untuk segera pulang. Mendengar perkataan Nathalli, Clara pun bergegas untuk pulang.
Keesokan harinya, Clara sudah merapikan baju-baju beserta dengan peralatannya. Karena bus sudah menunggu, Clara pun langsung bergegas untuk naik ke bus. Melihat bus di depan rumah Clara, Nathalli menghampiri Clara, dan berkata, “jangan lupain aku ya Ra!”
Clara yang sudah duduk di bus, ia melambaikan tangannya ke arah Nathalli. Clara tidak sanggup menahan air matanya. Nathalli yang melihat Clara menangis, ia pun ikut menangis. Karena bus sudah menjauh, ia pun pulang untuk menenangkan dirinya. Sesampainya Nathalli di rumah, Ibunya yang melihat ia menangis langsung bertanya. “Nak, kamu kenapa kok nangis?”
Nathalli menjawab, “Gak papa bu.”
Nathalli masuk ke kamarnya dan menangis sepuasnya. Ibunya yang heran mencoba mengetuk pintu dan memanggil Nathalli. Namun sudah dipanggil berkali-kali, tidak ada sahutan darinya.
Di sore hari, ibunya kembali menghampiri Nathalli dan mengetuk pintu lagi. Berbeda dari sebelumnya, Nathalli membuka pintu. Ibunya menyuruh ia untuk segera mandi dan makan. Mendengar suruhan ibunya, Nathalli langsung menuju kamar mandi. Setelah mandi, ia langsung makan karena ia sudah terlalu lapar. Sementara itu, di bus Clara masih menangis. Ayahnya yang heran bertanya, “Dari tadi kok kamu nangis terus, Nak?”
“Aku masih teringat Nathalli, adik, dan ibu, Yah,” jawab Clara.
Ayah mencoba menenangkan dan membujuk Clara agar tidak sedih lagi. Dan ayahnya berkata, “Sudah Nak jangan sedih lagi.”
Perlahan Clara mulai tenang dan tidak bersedih lagi. Karena mengantuk Clara pun mulai tertidur.
Keesokan harinya di sekolah. Nathalli kembali diejek teman-temannya. Lain dari biasanya kali ini teman-temannya mengejeknya dengan berkata, “Ke mana pahlawan kesianganmu itu, Nat?”
Nathalli dengan tegas menyaut, “Pindahnya Clara bukan berarti aku takut dengan kalian ya.”
Setelah perkataan Nathalli hari itu, ia sudah tidak pernah diejek lagi.
Sepulangnya sekolah, Nathalli bertelepon dengan Clara.
Nathalli: “Aku udah gak diejek lagi loh Ra!”
Clara: “Wahh kamu hebat udah bisa bertahap sampe udah gak diejek lagi.”
Nathalli: “Ya dong Ra aku kan hebat!”
Clara: “Bisa aja kamu Nat.”
Nathalli: “Udah ya aku mau istirahat dulu!”
Clara: “Oke semangat Nat!”
Nathalli: “Mamu juga semangat.”
Setelah Nathalli mengabari Clara bahwa dirinya sudah tidak diejek lagi. Nathalli disuruh ibunya untuk mandi dan makan. Nathalli segera mandi. Setelah mandi Nathalli tidak lupa untuk makan, karena mengantuk Nathalli tidur.
Setelah bertahun-tahun, Nathalli sudah mempunyai usaha sendiri, sambil kuliah. Sementara Clara, ia pun mempunyai usaha sendiri, dan sambil kuliah juga. Karena Clara mempunyai usaha sendiri, dan mempunyai uang yang cukup banyak. la memutuskan kembali ke kampung halamannya. Clara yang tidak tahu sama sekali bahwa Clara ingin kembali lagi ke Jakarta, ia menjalankan kegiatannya seperti biasa.
Setelah beberapa bulan kemudian, Clara sudah menyiapkan diri dan mengurus semua yang ia perlukan untuk pergi ke Jakarta. Setelah semuanya selesai, Clara tidak mengabarkan Nathalli sama sekali. Clara yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba Clara datang ke Jakarta, setelah Clara datang ke Jakarta, ia langsung menghampiri kediamannya. Clara langsung menuju ke rumah Nathalli. Sesampainya di Rumah Nathalli, Clara memanggil Nathalli. Tidak lama dari itu, Nathalli langsung keluar rumah dan langsung memeluk Clara. Ia menangis dan berkata, “aku sangat rindu padamu, Ra!” ujar Nathalli.
Clara pun menjawab, “sama, Nat aku juga. Aku sudah punya cukup uang untuk kembali ke sini. Aku sayang padamu, dan aku teringat kalau aku punya keluarga dan sahabat di Jakarta, aku tidak mau membuang uang untuk hal yang tidak berguna.” Ia melepas pelukan itu dan kembali ke rumah ibu dan adiknya. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












