Opini  

Petaka yang menghancurkan Itu Bernama Anti-Nasehat

Oleh: Yanto,M,PD ( Guru, Motivator Pendidikan & Da,wah Indonesia)

Tidak semua petaka datang dalam bentuk musibah.

Ada petaka yang lebih halus:

*hati yang menolak nasihat.*

Ketika dinasihati, ia tersinggung.

Ketika diingatkan, ia marah.

Ketika diluruskan, ia merasa diserang.

Padahal nasihat adalah *tanda peduli* ,

bukan *tanda benci* .

Allah menggambarkan sikap orang yang keras hati:

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ

“ Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ ia justru dikuasai kesombongan yang membawanya kepada dosa_ .” (QS. Al-Baqarah: 206)

Inilah petaka yang sesungguhnya:

– merasa diri selalu benar.

– Merasa tak butuh diingatkan.

– Merasa nasihat hanya untuk orang lain.

Padahal orang yang paling mulia justru paling mudah menerima koreksi.

Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya.

– Anti-nasihat adalah tanda hati mulai mengeras.

– Dan hati yang keras sulit menerima cahaya.

*Nasihat itu seperti obat. Memang pahit, tapi menyembuhkan* .

Jika setiap teguran terasa menyakitkan,

mungkin bukan nasihatnya yang salah

tetapi ego yang terlalu besar.

*Jangan takut dinasihati. Takutlah jika sudah tidak ada lagi yang peduli untuk mengingatkan* .

Karena ketika semua orang diam terhadap kesalahan kita,

itulah *awal kehancuran yang datang diam-diam* .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *