Laporan : Salsabilla Mutiara Maharani
Bekaespedia.com, Simpang Rimba,- Di tengah deru modernisasi yang mengikis history kolektif, sebuah panggung seni bersiap menjadi pencerah ingatan.
Kehadirannya akan membawa penonton kembali ke masa lalu, menyelami jejak perjuangan dan menyentuh sisi paling dalam dari identitas budaya Melayu Bangka.
Melalui kolaborasi seni, budaya dan sejarah, Sanggar Buluh Perindu, akan mementaskan drama teater bertajuk “Batin Tikal : Kuasa Simbolik Rambut Keramat”.

Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung pada 15 dan 16 Mei 2026, bertempat di Auditorium Sofyan Tsauri, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (UNMUH Babel), mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai.
Pertunjukan ini bukan sekadar hanya hiburan semata. Tetapi merupakan adaptasi artistik dari disertasi doctoral Rita Zahara dengan judul yang sama.
Melalui teater, kisah Batin Tikal, seorang tokoh perlawanan lokal yang sarat nilai kearifan dan keberanian, dihidupkan kembali untuk mengajak masyarakat Bangka memahami akar sejarah.
“Pementasan ini bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan,” tegas Kulul Sari, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Negeri Junjung Besaoh, Kabupaten Bangka Selatan. Ia menekankan pentingnya media seni sebagai jembatan edukasi bagi generasi muda.
“Kami berharap generasi muda bisa memahami sejarah perjuangan para pejuang Bangka seperti Batin Tikal, Depati Bahren, Depati Amir, dan Depati Hamzah dan lain-lain dalam melawan kolonialisme. Ini momen penting untuk menanamkan kembali nilai-nilai perjuangan itu,” ujarnya.
Kulul berharap, pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat mengajukan Batin Tikal sebagai salah seorang pahlawan dari Bangka Belitung,
“Di Babel, baru Depati Amir yang mendapat anugerah pahlawan. Padahal pejuang-pejuang Bangka Belitung cukup berjasa mengusir penjajah di negeri ini, kami berharap pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten bersama-sama untuk mengajukan Batin Tikal sebagai pahlawan”, harapnya.
Di bawah produksi Dr. Rita Zahara dan arahan sutradara Yosep Sonjaya, pementasan ini menjanjikan pengalaman estetis yang mendalam. Narasi sejarah disulam dengan simbolisme kuat, khususnya terkait “rambut keramat” sebagai pusat kuasa spiritual dan politik Batin Tikal.
Tim kreatif yang terdiri dari penata musik, artistik, dan kostum bekerja keras membangun atmosfer magis yang emosional.
Para pemain, yang dipilih dari deretan talenta terbaik, akan menghadirkan penghayatan total untuk menghidupkan energi baru bagi pesan lama yang nyaris terlupakan.

Untuk memperkaya perspektif historis, pertunjukan juga akan menghadirkan narasumber khusus, Datok Akhmad Elvian, DPMP, sejarawan Bangka Belitung, yang memberikan konteks sejarah dan budaya yang lebih dalam kepada penonton.
Bagi keturunan sang tokoh, pementasan ini adalah momen yang cukup membanggakan.
Sani (53), salah satu keturunan Batin Tikal, menyatakan dukungan penuhnya.
“Saya sangat tersentuh dan bangga kisah ini diangkat ke panggung. Ini bukan sekadar cerita keluarga, tapi sejarah perjuangan masyarakat Bangka,” ucapnya dengan nada bangga.
Dr. Rita Zahara, selaku produser, melihat pementasan ini sebagai batu loncatan.
“Teater ini adalah langkah awal. Ke depan, bila ada dukungan yang kuat, kami ingin mengembangkan kisah Batin Tikal dan pejuang lainnya ke dalam bentuk film agar jangkauannya lebih luas. Tapi sebelum itu, mari kita ramaikan panggungnya, karena dari sinilah cerita ini hidup dan berbicara langsung kepada penonton,” ungkapnya.
Undangan Terbuka untuk Merawat Memori Bangsa
Mengapa pertunjukan ini penting? Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.
Di saat kisah perjuangan lokal sering terpinggirkan, “Batin Tikal” hadir sebagai pengingat bahwa identitas dan jati diri bangsa tersimpan dalam pengorbanan para leluhur.
“Kami mengajak masyarakat umum, pemerintah provinsi kabupaten maupun kota, para politisi, mahasiswa dan siswa SMA/SMK untuk menyaksikan karya monumental ini dengan tiket yang sangat terjangkau, yakni Rp20.000. Harga ini bukanlah biaya masuk, melainkan investasi kecil untuk mendapatkan pengalaman batin dan refleksi sejarah yang tak ternilai”, ujar Rita Zahara

Jangan lewatkan kesempatan ini. Mari bersama-sama menghidupkan kembali semangat Batin Tikal. Karena menghargai pejuang bukan sekadar mengenang nama mereka, melainkan melanjutkan nilai-nilai perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari.













Sukses selalu utk Sanggar Buluh Perindu. Kami di Muaraenim di Teater Batu Hitam Pondok Pesantren Laa Roiba ikut senang mendengarnya. Kpn2 Insya Allah kami bisa ikut nonton. Sekali lagi, salam suskes, dan Salam Budaya!