Tiga sahabat sehati, kadang juga oposisi dalam satu tugas,
Langkah sama mengabdi penuh ikhlas,
Sering melucu, kadang agak berlebih lekas,
Bikin tertawa, meski kadang bikin kesal pas.
Gaya unik melekat di setiap pertemuan,
Canda tawa meledak tak ada hentian,
Kadang sikap “dongkol” jadi kenangan,
Bikin emosi, tapi rindu jadi pengganti keburuan.
Di balik seragam, jiwa riang selalu menyala,
Suka duka kantor kita lalui bersama,
Masalah berat jadi ringan tawa kita bawa,
Persahabatan ini tiada tara harganya.
Saat waktu istirahat tiba menyapa,
Kopi hangat jadi saksi cerita kita,
Seduh aroma nikmat, obrolan meluas lebar,
Hati tenang, suasana makin terasa hangat.
Malam datang, api kecil menyala terang,
Sate gurih Madura di panggangan langganan, harumnya terbilang,
Daging empuk bumbu meresap sampai ke tulang,
Makan bersama, nikmatnya tiada tandingan.
Kadang kelakuan konyol bikin kepala geleng,
Bikin kesal, tapi tak bisa marah panjang,
Setelah tawa reda, rindu segera datang,
Kehilangan canda rasanya hati terasa kosong.
Bersama kita jalani suka dunia yang fana,
Bekerja rajin, bermain riang tanpa curiga,
Tiga sahabat tak terpisahkan di mana saja,
Ikatan erat melebihi saudara seia sekata terkadang oposisi.
Kenangan manis terukir indah di sanubari,
Antara dinas, tawa, kopi, dan sate di hati,
Meski kadang tingkah aneh bikin kesal sekali,
Rindu kebersamaan tetap abadi selamanya ini.
Rias, 4 Juni 2026












