Puisi  

Memetik Buah Ketaatan

Karya : Agus Bachtiar K

 

Ibu,

aku yakini ini adalah jawaban

dari seluruh rentetan panjatan doa

yang kau kirimkan ke hadirat-Nya

setiap waktu,

setiap masa.

Dia Sang Penentu,

Dia Penguasa.

 

Yang terjadi kini adalah buah dari pinta sucimu pada-Nya,

yang kujalani sekarang adalah semilir zikir

yang tak pernah mangkir kau alirkan.

Sejujurnya aku tak mengira,

hempasan nestapa ini begitu nista.

 

Namun, sekali lagi

aku sangat percaya

semua sudah tergaris,

walau harus kulalui dengan miris.

 

Aku harus beranjak dari celaka.

Seperti yang pernah kuucapkan padamu

pada suatu hari,

saat aku mulai payah dahulu,

dengan sisa dayaku, kuungkapkan:

 

*”Yang Maha Mencukupi tak pernah menutupi,*

 

*Sang Maha Pengatur tak pernah terlelap tidur.”*

 

Maafkan anakmu yang sengaja terjebak ini,

ikhlasmu kusulih selalu kembali

sebagai bekal perjalananku kelak,

setelah lama singgah di ruang gersang tanpa terelak.

 

Sudah jauh kukayuh, namun harus terhenti demi hati yang teduh dan utuh.

 

Ibu, peluk raga ini, beri sebagian energi cinta-Nya padaku.

Terima kasih sudah mendoa,

hingga sasmita dari Yang Kuasa menjadi terang dan terbuka nyata.

 

Harapku selalu, kudapatkan lagi

kemuliaan hidup

dalam naungan sejuk ampunan Penguasa makhluk.

 

Sujud takzimku, Ibu.

Terima kasih, Ibu.

Maafkan aku,

Ibu.

 

Sudut Hening, 19 Oktober 2026

Sang Peramu Aksara

(Agus Bachtiar K.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *